Headline.co.id, Padang ~ Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (Pemprov Sumbar) memberikan pembekalan kepada Peserta Didik Reguler (Pasis Dikreg) LV Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI Tahun Ajaran 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) yang berlangsung di Auditorium Gubernuran Sumbar pada Selasa, 9 Juni 2026.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, diwakili oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumbar, Era Sukma Munaf, menyampaikan materi dengan tema “Penanganan Ancaman Megathrust dalam Perspektif Kebijakan Nasional, Pertahanan Negara, dan Tata Kelola Pemerintahan Daerah.” Dalam paparannya, Era menjelaskan bahwa Sumbar merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di Indonesia. Ancaman gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung api memerlukan penanganan yang serius dan terintegrasi.
“Penanggulangan bencana bukan sekadar urusan daerah, tetapi bagian penting dalam menjaga stabilitas sosial, ekonomi, bahkan keamanan nasional. Pendekatan yang dilakukan harus komprehensif dan melibatkan seluruh komponen bangsa, termasuk TNI,” ujar Era. Ia menuturkan bahwa secara geografis, Sumbar berada di jalur subduksi aktif Mentawai yang berpotensi memicu gempa besar. Berdasarkan data tahun 2025, tercatat ada 208 kejadian bencana di 19 kabupaten/kota di Sumbar yang didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta tanah longsor.
Di berbagai ancaman tersebut, potensi gempa megathrust menjadi salah satu yang paling serius karena dapat memicu tsunami dan berdampak luas terhadap wilayah pesisir, termasuk Kota Padang sebagai pusat aktivitas ekonomi. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Pemprov Sumbar terus mendorong dukungan pemerintah pusat dalam penguatan infrastruktur mitigasi, seperti pembangunan shelter tsunami, jalur evakuasi, pengembangan sistem peringatan dini real-time, hingga penyusunan Dokumen Rencana Kontingensi Tsunami.
Era menegaskan bahwa keberhasilan penanganan bencana sangat ditentukan oleh kolaborasi lintas sektor, termasuk peran strategis TNI dan Polri melalui konsep pra-bencana, komando terpadu saat bencana, hingga prinsip build back better pada tahap pascabencana. Sementara itu, Komandan Sesko TNI, Marsekal Madya TNI Arif Widianto, menyampaikan bahwa Dikreg LV Sesko TNI TA 2026 ini diikuti oleh 157 peserta yang terdiri dari personel TNI AD, TNI AL, TNI AU, Polri, serta lima peserta dari negara sahabat. Kegiatan KKDN sendiri berlangsung pada 8–12 Juni 2026 di Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Menurut Arif, ancaman megathrust merupakan ancaman nonmiliter yang memiliki dampak luas terhadap keselamatan masyarakat. Sinergi kebijakan nasional, pertahanan negara, dan tata kelola pemerintah daerah menjadi kunci utama. “Sinergi ini sangat penting untuk mengatasi ancaman yang ada,” pungkas Dansesko TNI.























