Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) memperkuat dukungan sarana dan prasarana guna mempercepat penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Selatan. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap peningkatan titik panas (hotspot) dan untuk memitigasi dampak musim kemarau di wilayah yang rawan.
Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan per 29 Juli 2026, terdapat 2.141 titik panas dan 381 kejadian karhutla, dengan total luas lahan terdampak mencapai 994,30 hektare. Wilayah yang paling rentan adalah Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, hingga perbatasan Kota Banjarmasin, yang didominasi oleh lahan gambut, semak belukar, dan area terbuka.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa infrastruktur sumber daya air akan dimanfaatkan secara langsung untuk mendukung operasi darurat pemadaman dan perlindungan lingkungan. “Kami berkomitmen untuk memanfaatkan infrastruktur sumber daya air guna mendukung operasi darurat pemadaman dan perlindungan lingkungan,” kata Dody Hanggodo.
Sebagai dukungan teknis di lapangan, Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Kalimantan Selatan telah menyiagakan tiga unit truk tangki air dengan kapasitas masing-masing 4.000 liter. Armada dengan total kapasitas 12.000 liter air siap pakai tersebut ditempatkan di tiga posko utama, yaitu BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, BPBD Kota Banjarbaru, dan BPBD Kabupaten Banjar.
Kepala BPBPK Kalimantan Selatan, Denny Surya Martha, menjelaskan bahwa armada tersebut disiapkan untuk mempercepat pasokan air dalam operasi pemadaman darurat. “Armada ini disiapkan untuk mempercepat pasokan air pada operasi pemadaman darurat,” jelas Denny Surya Martha.
Selain pengerahan armada tangki air, penanganan karhutla dan kekeringan di Kalimantan Selatan juga didukung oleh penguatan Satuan Tugas El Nino, optimalisasi jaringan irigasi, pengeboran sumur air tanah, serta distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak. Langkah terpadu ini diharapkan dapat menekan perluasan area kebakaran serta menjaga ketahanan sumber daya air selama musim kemarau.
















