Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai bahasa agama dapat menjadi strategi untuk memperkuat aksi iklim lintas iman di Indonesia. Pandangan itu disampaikan saat menerima audiensi Sekretariat Bersama (Sekber) Aksi Iklim Lintas Iman atau Amanah Daya Nusantara di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (24/9/2026). Menurut Nasaruddin, pendekatan keagamaan diperlukan untuk membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan karena nilai agama dapat menghubungkan kepedulian ekologis dengan tanggung jawab spiritual manusia.
“Dengan menggunakan bahasa agama adalah sesuatu diplomasi strategis. Tidak mungkin kita bisa menjadi hamba yang taat kalau merusak lingkungan. Tidak mungkin kita bisa menjadi khalifah yang sukses kalau alamnya hancur,” ujar Menag.
Bahasa agama dinilai memperkuat kesadaran lingkungan
Nasaruddin mengatakan, upaya menjaga lingkungan perlu dilakukan melalui pendekatan yang mampu menyentuh kesadaran masyarakat. Di Indonesia, keragaman agama dan tradisi keagamaan dinilai dapat menjadi landasan untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Menurut dia, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya dipahami sebagai kewajiban sosial. Nilai-nilai agama dapat mendorong masyarakat melihat pelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual dalam menjalankan kehidupan beragama.
Menag membandingkan pengaruh regulasi dengan nilai yang telah tertanam dalam batin seseorang. Regulasi, kata dia, tetap penting, tetapi kepatuhan dapat melemah ketika tidak ada pengawasan.
“Kalau hanya dengan regulasi, begitu tidak ada yang mengawasi, orang bisa saja melakukan pelanggaran. Tetapi kalau sudah masuk ke dalam batin, itu menjadi kontrol tersendiri,” kata Menag.
Kementerian Agama, lanjutnya, telah memiliki konsep ekoteologi yang berasal dari sejumlah tradisi keagamaan. Konsep tersebut dinilai masih dapat dikembangkan dengan melibatkan tokoh-tokoh agama dari berbagai komunitas.
Pelibatan tokoh agama diharapkan dapat membantu menerjemahkan isu lingkungan ke dalam bahasa keagamaan yang dekat dengan komunitas masing-masing. Dengan demikian, pesan mengenai pelestarian lingkungan dapat lebih mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Amanah Daya Nusantara libatkan organisasi lintas agama
Sekretariat Aksi Iklim Lintas Iman atau Amanah Daya Nusantara merupakan wadah kolaborasi strategis lintas agama di Indonesia. Organisasi tersebut melibatkan perwakilan dari sejumlah organisasi keagamaan, seperti PGI, KWI, Matakin, Parisada Hindu, serta unsur Buddha.
Kolaborasi itu dibangun untuk mengampanyekan isu lingkungan melalui pendekatan teologis dan kultural. Fokusnya mencakup penyusunan modul khotbah tematik, penyelenggaraan pelatihan atau training of trainers bagi tokoh agama, dai, dan pendeta, serta pembangunan kesadaran kolektif umat berbasis nilai spiritual.
Amanah Daya Nusantara bergerak di bidang pelestarian lingkungan, aksi iklim, dan pembangunan berkelanjutan. Inisiatif tersebut berupaya menjembatani persoalan penyelamatan alam, seperti penanganan sampah, hutan, dan gambut, dengan nilai-nilai keimanan.
Melalui pendekatan itu, isu perubahan iklim diharapkan dapat terintegrasi secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Pesan tentang lingkungan tidak hanya disampaikan sebagai pengetahuan, tetapi juga dikaitkan dengan nilai yang diyakini oleh setiap komunitas keagamaan.
Kemenag buka peluang kerja sama
Menag membuka ruang tindak lanjut kerja sama Kementerian Agama dan Sekber Aksi Iklim Lintas Iman. Ia mempersilakan proses penyusunan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) kedua pihak untuk dilanjutkan.
Dalam kerja sama tersebut, Kementerian Agama dapat memberikan kontribusi terutama pada aspek konseptual. Dukungan itu berkaitan dengan pengembangan konsep ekoteologi serta penerjemahan isu lingkungan ke dalam pesan keagamaan.
Sekber Aksi Iklim Lintas Iman menjelaskan bahwa gerakan tersebut dibangun untuk mempertemukan perspektif berbagai komunitas keagamaan dalam merespons persoalan perubahan iklim. Pembentukan sekretariat bersama itu sebelumnya didahului sejumlah focus group discussion (FGD) yang melibatkan unsur lintas agama.
Aksi lingkungan diarahkan ke komunitas dan rumah ibadah
Kolaborasi lintas iman tersebut diharapkan membuat pesan mengenai kelestarian lingkungan tidak berhenti pada pemahaman tentang perubahan iklim. Pesan itu juga diarahkan untuk diterjemahkan menjadi kesadaran dan aksi nyata di tengah masyarakat.
Komunitas dan rumah-rumah ibadah menjadi ruang penting untuk menyampaikan pesan tersebut. Dengan pendekatan keagamaan, isu pelestarian alam diharapkan dapat lebih dekat dengan kehidupan umat serta mendorong kepedulian terhadap lingkungan.
Turut hadir dalam audiensi tersebut Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Ali Ramdhani.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















