Headline.co.id, Jakarta ~ Dampak suara terlalu keras dari sound horeg tidak hanya dirasakan telinga, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai fungsi tubuh. Paparan suara berintensitas tinggi dalam waktu lama pada sebuah acara dapat membuat telinga bekerja lebih keras dan memicu respons stres. Dalam artikel kesehatan yang dimuat pada 2 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, dampak tersebut dijelaskan berdasarkan informasi dari berbagai sumber, termasuk UCLA Health.
Orang yang berada di lingkungan sangat bising dapat mengalami telinga berdenging atau pendengaran terasa teredam setelah paparan suara. Kebisingan juga diproses otak sebagai stimulus yang dapat memicu respons tubuh terhadap tekanan lingkungan. Jika paparan berlangsung terus-menerus, dampak suara terlalu keras dapat berkaitan dengan tekanan darah, kesehatan jantung, kondisi mental, serta konsentrasi dan fungsi kognitif.
Dampak suara terlalu keras memicu respons stres
Menurut penjelasan yang dikutip dari laman UCLA Health, kebisingan tidak hanya diterima oleh telinga. Suara juga diproses oleh otak sebagai stimulus yang dapat memicu respons stres.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Paparan suara yang terus-menerus dapat mengaktifkan sistem tubuh yang berkaitan dengan respons fight or flight. Respons ini merupakan reaksi tubuh ketika menghadapi tekanan atau ancaman dari lingkungan.
Dalam jangka panjang, respons stres yang berulang dapat memengaruhi berbagai proses dalam tubuh. Dampaknya termasuk proses yang berkaitan dengan peradangan dan kesehatan secara keseluruhan.
Berkaitan dengan tekanan darah dan kesehatan jantung
Efek kebisingan juga dapat meluas ke sistem kardiovaskular. Paparan suara keras dalam jangka panjang dapat meningkatkan tekanan darah, salah satunya karena respons stres terus dipicu oleh suara yang terdengar berulang.
Apabila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, paparan kebisingan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko masalah kardiovaskular. Masalah yang disebutkan lain penyakit jantung dan stroke.
Dengan demikian, dampak suara terlalu keras tidak berhenti pada gangguan pendengaran sementara. Tubuh dapat merespons kebisingan sebagai tekanan yang berulang dan memengaruhi sistem lain di luar organ pendengaran.
Kebisingan memengaruhi kesehatan mental
Respons stres yang muncul berulang kali juga dapat memengaruhi kondisi mental seseorang. Paparan kebisingan dalam jangka panjang ditemukan memiliki hubungan dengan masalah seperti kecemasan dan depresi.
Kebisingan yang terus muncul dapat membuat seseorang lebih sulit merasa rileks. Dampaknya tidak hanya dirasakan ketika suara sedang terdengar, tetapi juga dapat menjadi bagian dari beban stres yang berulang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lingkungan yang terlalu bising dapat memengaruhi kenyamanan dan ketenangan seseorang. Suara yang terus-menerus mengganggu membuat tubuh dan otak tetap merespons stimulus dari lingkungan.
Mengganggu konsentrasi dan fungsi kognitif
Kebisingan yang terus-menerus juga dapat memengaruhi cara otak bekerja. Paparan suara dalam jangka panjang dikaitkan dengan gangguan pada sejumlah fungsi kognitif, termasuk kemampuan berpikir dan memproses informasi.
Efek ini memperlihatkan bahwa dampak kebisingan tidak hanya berhubungan dengan kemampuan mendengar. Ketika tubuh terus menerima suara yang mengganggu, otak juga harus terus merespons stimulus tersebut.
Karena itu, kemeriahan sound horeg dengan intensitas suara tinggi perlu dipahami tidak hanya dari sisi hiburan. Paparan dalam waktu lama dapat berdampak pada telinga, memicu respons stres, berkaitan dengan kesehatan jantung dan tekanan darah, memengaruhi kesehatan mental, serta mengganggu konsentrasi dan fungsi kognitif.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















