Highlight Berita Update Harga Emas Antam 18 Juni 2026:
Headline.co.id, Jakarta ~ Update harga emas Antam pada Kamis (18/6/2026) pagi menunjukkan pergerakan yang masih stabil di level Rp2.733.000 per gram. Harga emas hari ini belum mengalami perubahan dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya, meski pasar global tengah menghadapi dinamika baru akibat kebijakan suku bunga Amerika Serikat dan perkembangan geopolitik internasional.
Berdasarkan data resmi Logam Mulia yang dikutip pada pukul 06.00 WIB, harga emas saat ini masih bertahan di angka Rp2.733.000 per gram. Stabilnya Harga Emas Antam terjadi setelah sehari sebelumnya logam mulia tersebut naik Rp4.000 per gram dari posisi Rp2.729.000 menjadi Rp2.733.000 per gram.
Sementara itu, harga emas dunia mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah sempat mengalami tekanan tajam. Kondisi ini membuat investor kembali mencermati peluang investasi emas di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Harga Emas Antam Bertahan di Level Tinggi
Data dari situs resmi Logam Mulia menunjukkan bahwa harga emas Antam belum mengalami perubahan pada perdagangan Kamis pagi. Harga yang berlaku masih mengacu pada pembaruan terakhir karena penyesuaian harga harian secara resmi biasanya dilakukan setiap pukul 08.30 WIB.
Sebagai salah satu instrumen investasi yang banyak diminati masyarakat, emas batangan Antam tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram.
Berikut daftar harga emas Antam per Kamis, 18 Juni 2026:
| Ukuran | Harga |
|---|---|
| 0,5 gram | Rp1.416.500 |
| 1 gram | Rp2.733.000 |
| 3 gram | Rp8.084.000 |
| 5 gram | Rp13.440.000 |
| 10 gram | Rp26.825.000 |
| 25 gram | Rp66.937.000 |
| 50 gram | Rp133.795.000 |
| 100 gram | Rp267.512.000 |
| 250 gram | Rp668.515.000 |
| 500 gram | Rp1.336.820.000 |
| 1.000 gram | Rp2.673.600.000 |
Harga Emas Dunia Mulai Menguat
Di pasar internasional, harga emas sempat mengalami tekanan setelah The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen.
Mengacu pada data Refinitiv, harga emas dunia pada perdagangan Rabu (17/6/2026) ditutup di level US$4.257,68 per troy ons atau turun sekitar 1,7 persen. Penurunan tersebut mengakhiri tren kenaikan selama empat hari berturut-turut yang sebelumnya menghasilkan penguatan sekitar 6,3 persen.
Namun pada perdagangan Kamis pagi pukul 06.16 WIB, harga emas global kembali menguat 0,52 persen menjadi US$4.279,71 per troy ons.
Koreksi sebelumnya dipicu oleh proyeksi terbaru The Fed yang menunjukkan peluang kenaikan suku bunga masih terbuka hingga akhir tahun.
Menurut proyeksi yang dirilis setelah rapat kebijakan moneter, sembilan dari 19 pembuat kebijakan The Fed memperkirakan suku bunga masih perlu dinaikkan pada tahun ini. Proyeksi median Fed Funds Rate pada akhir tahun juga meningkat menjadi 3,8 persen dari sebelumnya 3,4 persen.
Pernyataan Ketua The Fed Tekan Pasar Emas
Reaksi pasar turut dipengaruhi oleh pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang dinilai lebih tegas dalam menyampaikan arah kebijakan moneter.
Pedagang logam independen Tai Wong menilai kepemimpinan baru di bank sentral AS membawa pendekatan yang berbeda.
“Ini adalah The Fed yang baru. Warsh terlihat tajam, percaya diri, dan penuh energi. Dia akan menjadi pengelola, bukan sekadar penjaga institusi. Pesannya jelas, perubahan akan datang, tetapi melalui pertimbangan yang matang,” kata Tai Wong, dikutip dari Reuters.
Menurut Wong, pasar menafsirkan pernyataan tersebut sebagai sinyal hawkish yang memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
“Menurut saya, itulah yang mendorong pelemahan pasar. Pernyataan kebijakan dan dot plot bersifat hawkish, dan Warsh tidak melakukan apa pun untuk meredam persepsi tersebut,” ujarnya.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada Desember 2026 kini mencapai 78 persen, meningkat dari 61 persen sebelum keputusan The Fed diumumkan.
Perdamaian AS-Iran Beri Sentimen Positif
Di sisi lain, pasar emas mendapat dukungan dari perkembangan geopolitik. Seorang pejabat AS mengungkapkan kepada Reuters bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) pada Rabu (17/6/2026) untuk mengakhiri konflik yang berlangsung hampir empat bulan.
Kesepakatan tersebut menjadi langkah formal terbaru setelah sebelumnya dokumen serupa telah ditandatangani secara digital oleh perwakilan kedua negara.
Berakhirnya konflik dinilai berpotensi menurunkan tekanan inflasi global yang selama ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan kenaikan harga energi. Kondisi tersebut membuka peluang bagi harga emas untuk kembali menguat apabila pasar melihat risiko inflasi mulai mereda.
Saatnya Beli atau Tunggu?
Dengan harga emas Antam yang masih bertahan di level Rp2.733.000 per gram, investor kini menghadapi dua sentimen utama yang saling berlawanan. Di satu sisi, sinyal kenaikan suku bunga The Fed berpotensi menekan harga emas. Namun di sisi lain, meredanya konflik AS-Iran memberikan dukungan positif bagi pasar logam mulia.
Pergerakan harga emas dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter AS serta implementasi kesepakatan damai antara Washington dan Teheran. Karena itu, pelaku pasar disarankan terus memantau perkembangan global sebelum mengambil keputusan investasi.
Bagi investor jangka panjang, stabilnya harga emas saat ini menjadi salah satu indikator penting untuk mencermati momentum masuk pasar, terutama ketika volatilitas global masih relatif tinggi.






















