Headline.co.id, Jakarta ~ 10 Agustus 2026 – Bank Indonesia (BI) melalui Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk meningkatkan daya saing desa wisata ramah Muslim. Program ini bertujuan untuk memperkuat tata kelola desa wisata agar lebih berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan, serta mampu menjangkau pasar wisatawan yang lebih luas.
Inisiatif ini diwujudkan melalui acara “Bootcamp Peningkatan Kapasitas Desa Wisata Unggulan Ramah Muslim” yang berlangsung pada 5–7 Agustus 2026 di Bandung, Jawa Barat. Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kemenpar, Masruroh, menekankan pentingnya desa wisata dalam pembangunan pariwisata berkualitas. Menurutnya, desa wisata menyediakan ruang bagi wisatawan untuk berinteraksi langsung dengan budaya, alam, dan kehidupan masyarakat lokal.
Masruroh menjelaskan bahwa penguatan kapasitas pengelola desa wisata merupakan investasi penting untuk menciptakan destinasi yang berkualitas dan berdaya saing. Dalam konteks Pariwisata Ramah Muslim (PRM), pertumbuhan pasar wisatawan Muslim menjadi peluang strategis yang harus diperkuat. PRM tidak hanya berfokus pada penyediaan fasilitas keagamaan, tetapi juga pada layanan tambahan yang membuat perjalanan wisatawan lebih nyaman dan inklusif.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Bootcamp ini diikuti oleh 25 desa wisata unggulan dari lima provinsi: Aceh, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Kelima provinsi ini memiliki capaian terbaik dalam Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2025. Peserta dipilih melalui proses kurasi oleh tim dari Bank Indonesia dari 63 desa wisata potensial. Selama tiga hari, peserta mengikuti pelatihan intensif, pendampingan, dan diskusi untuk meningkatkan kapasitas mereka.
Program ini bertujuan agar desa wisata dapat memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim dan memberikan pengalaman perjalanan yang nyaman bagi semua wisatawan. Kemenpar dan BI berencana untuk terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, pelaku industri, dan komunitas desa wisata, untuk memastikan hasil bootcamp dapat diimplementasikan secara berkelanjutan. Melalui kolaborasi ini, desa wisata diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi lokal dan bagian penting dari ekosistem Pariwisata Ramah Muslim Indonesia di tingkat nasional dan global.

















