Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menyatakan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis sebagai salah satu kekuatan utama dalam ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara. Dengan populasi mencapai 281 juta jiwa dan lebih dari 220 juta pengguna internet, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga motor pertumbuhan ekonomi digital terbesar di ASEAN. Pemerintah terus memperkuat fondasi kedaulatan digital melalui pengembangan kecerdasan artifisial (AI), infrastruktur digital, dan penguatan talenta nasional untuk memastikan manfaat transformasi digital dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Meutya Hafid mengungkapkan bahwa nilai ekonomi digital Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 100 miliar dolar Amerika Serikat dan diproyeksikan akan tumbuh hingga 360 miliar dolar Amerika Serikat pada tahun 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh pesatnya perkembangan e-commerce, tingginya jumlah pengguna internet, serta kontribusi jutaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, pemerintah terus memperkuat infrastruktur digital nasional. Hingga saat ini, Indonesia telah membangun jaringan backbone serat optik sepanjang 446 ribu kilometer, mengoperasikan Satelit Republik Indonesia (SATRIA)-1 yang menjangkau hampir 30 ribu titik layanan publik, serta memperkuat kapasitas pusat data nasional.
Dalam satu setengah tahun terakhir, kapasitas pusat data di Indonesia juga meningkat lebih dari 260 persen seiring masuknya berbagai investasi strategis di sektor kecerdasan artifisial, komputasi awan, dan pusat data. Meski demikian, Meutya menegaskan bahwa tujuan utama transformasi digital bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan manfaat teknologi memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah mendorong konsep value retention atau retensi nilai agar manfaat ekonomi digital yang tercipta di Indonesia dapat dinikmati lebih besar oleh masyarakat dan pelaku usaha nasional.
Sebagai contoh implementasi teknologi yang berdampak langsung, pemerintah tengah mengembangkan digitalisasi bantuan sosial berbasis kecerdasan artifisial. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan akurasi data penerima, mempercepat proses verifikasi, serta memastikan bantuan sosial tersalurkan secara lebih tepat sasaran. Selain memperkuat infrastruktur, pemerintah juga fokus membangun kapasitas sumber daya manusia melalui berbagai program pengembangan talenta digital, termasuk Digital Talent Scholarship dan program literasi digital yang menjangkau kelompok perempuan, pelaku UMKM, serta masyarakat di berbagai daerah.
Meutya Hafid menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital harus dirasakan secara merata hingga ke seluruh wilayah Indonesia. “Jika AI hanya berhasil di Jakarta, maka AI di Indonesia gagal. Teknologi harus memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia, termasuk di daerah,” tegasnya. Pemerintah juga mendorong kerja sama regional melalui penguatan ekonomi digital ASEAN, termasuk pengembangan kerangka kerja Digital Economy Framework Agreement (DEFA) untuk mempercepat integrasi ekonomi digital kawasan.
Melalui penguatan infrastruktur, talenta digital, tata kelola yang terpercaya, serta kolaborasi regional, Indonesia menargetkan transformasi digital menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing bangsa di era kecerdasan artifisial.


















