Headline.co.id, Jogja ~ Universitas Gadjah Mada (UGM) telah terpilih sebagai pusat program Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Underrepresented Scholars of Asia (CHSS), yang dikelola oleh Association for Asian Studies (AAS) dengan dukungan dari Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas akses penelitian serta publikasi akademik bagi kelompok yang kurang terwakili dalam jejaring sumber daya akademik global.
Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, menyatakan bahwa UGM akan menjadi pusat kegiatan peningkatan kapasitas akademik, terutama melalui pelatihan penulisan akademik bagi dosen muda dan mahasiswa pascasarjana di bidang Ilmu Sosial dan Humaniora. “UGM akan menjadi hub program CHSS yang didanai oleh SIDA melalui AAS,” ujarnya pada Jumat (12/6).
Program ini menargetkan akademisi dari wilayah pasca konflik, daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), kelompok marjinal, serta penyandang disabilitas. Selain itu, program ini juga melibatkan negara-negara di Asia Tenggara seperti Filipina, Kamboja, dan Timor Leste. “Kita akan memberikan pelatihan penulisan pada dosen muda, scholar, dan mahasiswa pascasarjana yang berasal dari underrepresented group,” tambah Wening.
Tujuan program ini tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan menulis akademik, tetapi juga untuk membantu peserta menghasilkan publikasi ilmiah yang dapat mendukung pengembangan karier akademik mereka. Program ini juga diharapkan dapat memperluas jejaring kolaborasi akademik antar peneliti dari berbagai negara. “Output-nya nanti adalah artikel-artikel yang akan diterbitkan oleh teman-teman dari underrepresented group. Mereka bisa menggunakan artikel tersebut untuk memperkuat profil akademik mereka. Hal ini sekaligus menjadi sarana dalam memperluas ekosistem akademik,” jelasnya.
Program ini akan berlangsung selama tiga tahun dengan pelatihan penulisan akademik yang diadakan setiap tahun. Workshop pertama direncanakan berlangsung pada Oktober 2026 dengan peserta sekitar 25 orang. Selain menjadi tuan rumah, UGM juga akan bekerja sama dengan Asia Research Center dari Universitas Indonesia dan menghadirkan ahli publikasi ilmiah dari berbagai negara. “Melalui program ini, peserta akan memperoleh pendampingan untuk meningkatkan kualitas penelitian dan publikasi akademik mereka, baik di jurnal nasional maupun internasional bereputasi,” ungkap Wening.
Program ini merupakan langkah penting di tengah kecenderungan pendanaan riset yang lebih berfokus pada sains dan teknologi. Wening menilai bahwa ilmu sosial dan humaniora juga memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai persoalan pembangunan. “Ilmu sosial dan humaniora itu sebetulnya bidang yang tidak kalah pentingnya. Di situ kita mencoba mengentaskan berbagai persoalan yang penting untuk dituliskan dan dibagikan kepada dunia,” katanya.
UGM berharap dapat menjadi pionir dalam memberikan ruang bagi akademisi dan kelompok yang selama ini memiliki keterbatasan akses untuk mengembangkan kapasitas penelitian, memperluas jejaring internasional, serta meningkatkan daya saing publikasi mereka. “Harapannya teman-teman dari underrepresented group ini memiliki ruang untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya dalam penelitian dan penulisan, sehingga mereka juga memiliki kesempatan yang sama dalam karir akademik mereka,” tuturnya.
Program ini mendukung berbagai agenda dalam Sustainable Development Goals (SDGs), seperti SDG 10 (Reduced Inequalities), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 5 (Gender Equality), dengan memperkuat kapasitas akademisi dari kelompok yang kurang terwakili dan mendorong keterwakilan gender yang lebih inklusif.




















