Headline.co.id, Ristiana Artanti ~ seorang gadis berusia 19 tahun asal Karangsari, Kulon Progo, berhasil mewujudkan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) secara gratis. Kondisi ekonomi keluarganya yang tidak stabil sempat membuat Risti khawatir tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ayahnya, Rubikan, bekerja sebagai buruh proyek, sementara ibunya, Winarni, adalah seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya pernah bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga di Yogyakarta.
Risti memilih program studi Manajemen Informasi Kesehatan di Sekolah Vokasi UGM karena ketertarikannya pada bidang kesehatan. Ia diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan mendapatkan beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen, yang membuatnya dapat berkuliah tanpa biaya. “Kalau soal perasaan, jujur, saya bingung dan masih belum percaya Tuhan memberi kesempatan yang benar-benar saya gak bakal kira bakal bisa masuk di Universitas Gadjah Mada,” ungkap Risti pada Kamis (11/6).
Selain berprestasi di bidang akademik, Risti juga aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler marching band di SMA 1 Wates. Ia telah memenangkan berbagai perlombaan, termasuk dua kali juara umum di tingkat kabupaten dan juara satu di tingkat provinsi. Risti mengatur waktunya dengan membuat skala prioritas, mengutamakan akademik sebelum berlatih dan mengembangkan diri di bidang nonakademik. “Saya selalu disiplin membagikan waktu agar kegiatan ekstra tidak mengganggu akademik,” kenangnya.
Orang tua Risti, Rubikan dan Winarni, mendukung penuh keputusan putri mereka untuk melanjutkan kuliah meskipun dengan keterbatasan ekonomi. Rubikan, yang penghasilannya tidak menentu, sempat meragukan kemampuan mereka untuk membiayai kuliah Risti. Namun, prestasi dan nilai Risti membuat mereka yakin untuk mendukung mimpinya. “Pas dia utarakan pengen kuliah itu, saya mikirnya gini, apa bisa mendanai soalnya ekonomi kita, susah kayak gini, kadang-kadang ada, kadang-kadang gak. Bisa makan tiga kali sehari itu sudah bersyukur,” ujar Winarni.
Winarni tidak ingin menolak keinginan putrinya, mengingat prestasi akademik Risti yang cemerlang. “Dia ini kan ada prestasi juga di sekolahnya. Nilai-nilainya juga bagus. Kalau gak didukung, kan kayaknya saya teringat saya dulu. Saya dulu tuh pengen meneruskan sekolah selanjutnya, gak mampu. Orang tua saya benar-benar gak mampu. Makanya, kalau bisa, anak saya jangan seperti saya, biar bisa lebih baik lagi,” kenang Winarni sambil menangis haru.
Rubikan, yang telah menjadi buruh proyek sejak 1995, mengungkapkan rasa syukurnya. Jika ada proyek, ia bekerja dari pukul setengah 8 pagi hingga 5–6 sore, dengan penghasilan sekitar Rp 90.000 hingga Rp 100.000 per hari. Jika tidak ada proyek, Rubikan menggali batu putih di depan rumahnya untuk dijual. “Saya gak mengira kalau anak saya bisa masuk UGM, padahal orang tuanya gak sekolah, tapi anaknya bisa sekolah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Risti akan segera mengenakan jas almamater saat upacara penerimaan mahasiswa baru UGM dimulai. Ia sudah membayangkan masa depannya setelah lulus, di mana ia berharap dapat bekerja di puskesmas atau rumah sakit di daerah pelosok untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. “Saya sudah membayangkan bahwa setelah lulus itu saya akan bekerja di puskesmas dan juga di rumah sakit yang mungkin di daerah pelosok-pelosok, untuk meningkatkan kualitas pelayanan di masyarakat,” harapnya.























