Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggalakkan pengembangan teknologi Carbon Capture Storage (CCS) sebagai langkah strategis untuk menghadapi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut KKP, Kartika Listriana, menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar baik dari sisi sumber emisi maupun kapasitas penyimpanan karbon. Pemerintah telah menetapkan target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 31,89 persen secara mandiri dan hingga 43,20 persen dengan dukungan internasional pada tahun 2030, sebagaimana tercantum dalam dokumen Enhanced Nationally Determined Contribution (NDC).
Kartika menyatakan, “Carbon capture storage menjadi solusi subsurface yang perlu didukung karena mampu mengurangi emisi karbon sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem laut,” dalam siaran pers yang diterima pada Rabu (10/6/2026). Pernyataan ini disampaikan Kartika saat berbicara pada sesi berbagi penataan ruang laut sektor minyak dan gas bumi yang berlangsung di Bali pada 8 Juni 2026.
Lebih lanjut, Kartika menjelaskan bahwa pengembangan CCS dapat menjadi peluang untuk mendukung investasi melalui inovasi teknologi sekaligus pencapaian target iklim nasional. Namun, keberhasilan implementasi CCS tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, melainkan juga pada kepastian tata ruang laut yang terpadu dan berkelanjutan. “Pengembangan CCS perlu didukung dengan kepastian regulasi, koordinasi lintas sektor, dan tata kelola yang baik. Salah satunya adalah Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) sebagai instrumen yang memberikan kepastian berusaha dan mencegah potensi konflik pemanfaatan ruang,” jelasnya.
Senada dengan Dirjen Kartika, Direktur Pemanfaatan Ruang Kolom Perairan dan Dasar Laut DJPRL, Didit Eko Prasetiyo, menyatakan bahwa pengembangan carbon capture storage yang selaras dengan prinsip penataan ruang laut mulai dari perencanaan, pemanfaatan, pengendalian hingga pembinaan ruang laut akan semakin memperkuat transisi energi nasional dan ekonomi biru di Indonesia.
Sebagai informasi, CCS merupakan teknologi untuk transisi energi rendah karbon yang menangkap emisi karbon dioksida (CO₂) dari sumber besar seperti pembangkit listrik atau pabrik, dan menyimpannya jauh di bawah tanah agar tidak lepas ke atmosfer. Tujuannya adalah mengurangi dampak pemanasan global dan melindungi ekosistem, termasuk laut yang saat ini sudah menyerap sekitar 25% emisi CO₂ dunia.
“Kegiatan CCS sendiri merupakan bagian dari pengembangan lapangan gas Abadi yang dikelola oleh INPEX Masela sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang telah diterbitkan KKPRLnya,” ujar Didit.
Sementara itu, Chief Geophysicist INPEX Masela, Anky Fatwa, menjelaskan bahwa CCS penting bagi laut karena dapat mengurangi emisi karbon di atmosfer, mengurangi peningkatan suhu laut, dan keasaman laut serta melindungi ekosistem laut. “Proyek Abadi LNG berupaya mengurangi emisi CO₂ dengan cara menyuntikkannya ke dasar laut. Langkah ini sejalan dengan target Indonesia untuk mencapai net-zero emisi karbon serta rencana INPEX menuju masyarakat rendah karbon,” ungkapnya.
Anky juga menyebutkan bahwa sejak 2022-2025 pihaknya telah berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung guna mengevaluasi keamanan dan kelayakan pengembangan CSS. Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono di berbagai kesempatan terus menegaskan komitmen KKP untuk mewujudkan tata ruang laut yang terpadu, berjalan selaras dengan keberlanjutan ekosistem dan mendorong kesejahteraan masyarakat.




















