Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Transmigrasi, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, menekankan pentingnya transparansi, objektivitas, profesionalisme, dan akuntabilitas dalam proses rekrutmen Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Pernyataan ini disampaikan kepada perguruan tinggi mitra menjelang pengumuman hasil seleksi program yang menarik minat besar dari generasi muda Indonesia.
Sebanyak 10.359 peserta dari hampir 1.992 perguruan tinggi di seluruh Indonesia telah mendaftar untuk mengikuti program pengabdian di kawasan transmigrasi, meskipun kuota yang tersedia hanya sekitar 1.230 peserta dan 246 ketua tim. Menteri Iftitah menilai tingginya minat ini menunjukkan semangat kepemimpinan, gotong royong, dan pengabdian yang masih kuat di kalangan generasi muda.
“Keberhasilan Program Tim Ekspedisi Patriot tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang diberangkatkan, tetapi juga dari kemampuan kita menjaga kepercayaan publik terhadap proses yang dijalankan,” ujar Iftitah dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (2/6/2026). Ia menegaskan bahwa Kementerian Transmigrasi memberikan kepercayaan penuh kepada perguruan tinggi mitra untuk melaksanakan seluruh tahapan seleksi sesuai standar akademik, profesionalisme, dan integritas masing-masing institusi.
Seluruh proses rekrutmen diminta berlangsung secara objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Perguruan tinggi juga diminta untuk menyampaikan secara terbuka kriteria, mekanisme, serta prinsip-prinsip seleksi yang digunakan. Menteri Iftitah menegaskan tidak ada arahan, titipan, maupun permintaan khusus terkait kelulusan peserta tertentu dalam proses rekrutmen TEP 2026.
“Tim Ekspedisi Patriot tidak mencari peserta yang memiliki akses atau kedekatan paling kuat, melainkan peserta yang memiliki kapasitas terbaik untuk mengabdi kepada Indonesia. Lebih baik kita kehilangan peserta yang memiliki kedekatan, daripada kehilangan peserta terbaik yang memiliki kapasitas,” tegasnya. Selain itu, seluruh dokumen dan hasil penilaian diminta didokumentasikan dengan baik sebagai bentuk akuntabilitas sekaligus bahan evaluasi dan penyempurnaan program pada masa mendatang.
Iftitah juga mengingatkan bahwa tidak terpilih dalam program ini bukan berarti peserta kurang baik atau kurang kompeten. Menurutnya, tingginya jumlah pendaftar yang memenuhi syarat dibandingkan kuota yang tersedia menjadi konsekuensi dari ketatnya persaingan. Sebagai bentuk keberlanjutan program, seluruh pendaftar akan tetap dirangkul melalui Komunitas Sahabat Patriot yang akan menjadi wadah pembelajaran, pengembangan kapasitas, kolaborasi, dan pengabdian bagi generasi muda Indonesia.
“Seluruh pendaftar adalah aset bangsa. Yang membedakan hanyalah kesempatan dan waktu pengabdiannya,” pungkas Menteri Transmigrasi.




















