Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) telah meluncurkan inisiatif baru bernama Nutri-Level sebagai bagian dari kampanye kesehatan masyarakat. Program ini bertujuan untuk menjadikan hidup sehat sebagai bagian dari gaya hidup modern dan kebanggaan bagi generasi muda Indonesia. Nutri-Level tidak hanya sekadar program pemerintah, tetapi diarahkan menjadi gerakan nasional.
Nutri-Level adalah sistem penilaian yang menggunakan kode warna dan huruf untuk menunjukkan kandungan nutrisi pada produk makanan dan minuman olahan. Sistem ini memudahkan masyarakat dalam memahami tingkat kesehatan suatu produk. Ada empat kategori dalam sistem ini: Level A dengan huruf A berwarna hijau tua, Level B dengan huruf B berwarna hijau muda, Level C dengan huruf C berwarna kuning, dan Level D dengan huruf D berwarna merah. Semakin tinggi level produk menuju kategori A, semakin baik kandungan gizinya. Sebaliknya, produk dengan level D menunjukkan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) yang perlu dibatasi konsumsinya.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan bahwa kebijakan Nutri-Level muncul dari keprihatinan terhadap tingginya ancaman penyakit tidak menular di Indonesia. Penyakit seperti stroke, penyakit jantung, kanker, dan gagal ginjal masih menjadi penyebab utama kematian di usia muda. Oleh karena itu, pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak dianggap sebagai langkah efektif untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut. “Gula, garam, lemak itu sangat berpengaruh by scientific proof untuk stroke, jantung, ginjal. Kalau kita bisa menurunkan konsumsi gula, garam, lemak ke level normal, insyaallah teman-teman enggak ada yang usianya di bawah 76 tahun,” ujar Menkes dalam peluncuran Nutri-Level di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, Kamis (14/5/2026).
Menkes juga menjelaskan bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi semakin penting karena Indonesia tengah menghadapi lonjakan kasus diabetes. Berdasarkan data Kemenkes, prevalensi diabetes telah mencapai 11,3 persen dari populasi atau sekitar 30 juta penduduk. Kondisi ini dinilai mengkhawatirkan karena diabetes dapat menjadi pintu masuk berbagai komplikasi berat, termasuk gagal ginjal yang berujung pada kebutuhan cuci darah.
Melihat kondisi tersebut, Menkes menegaskan bahwa keberhasilan program kesehatan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Menurutnya, dibutuhkan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat agar kesadaran hidup sehat tumbuh dari diri setiap individu. “Program kesehatan akan berhasil kalau dilakukan bersama-sama dengan seluruh komponen masyarakat. Program kesehatan yang baik itu bukan sekadar program, tetapi harus berbentuk gerakan atau movement,” katanya.
Nutri-Level dirancang dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian masyarakat, khususnya generasi muda. Peluncurannya di pusat perbelanjaan menjadi simbol bahwa hidup sehat harus hadir di ruang publik dan menjadi bagian dari tren sosial. Menkes menilai konsep hidup sehat perlu dikemas dengan pendekatan yang relevan dengan budaya anak muda saat ini, termasuk melalui fenomena Fear of Missing Out (FOMO). “Cara yang paling bagus adalah menjadikan ini the new lifestyle, menjadikan ini FOMO, menjadikan bahwa hidup sehat is cool. Program kesehatan yang baik adalah ketika ownership untuk hidup sehat ada di individunya,” tegasnya.
Ia mencontohkan perubahan sederhana yang mulai terlihat di kalangan anak muda, seperti beralih dari minuman tinggi gula ke pilihan yang lebih sehat, seperti americano atau espresso tanpa tambahan gula berlebih. Melalui Nutri-Level, Kemenkes berharap kesadaran tentang pentingnya nutrisi sehat dapat menjangkau lebih dari 280 juta penduduk Indonesia hingga ke berbagai daerah. Pemerintah ingin membangun budaya baru, yakni menjaga kesehatan bukan lagi kewajiban yang terasa berat, melainkan identitas dan gaya hidup masyarakat modern Indonesia.





















