Headline.co.id, Bojonegoro ~ Pemerintah Desa Balenrejo di Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, terus mengoptimalkan pengelolaan Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) “Balenrejo Makmur” untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, terutama saat musim kemarau. Program ini berbasis swadaya warga dan menjadi solusi nyata bagi masyarakat desa untuk mendapatkan akses air bersih dengan biaya yang terjangkau.
Dalam keterangan tertulis dari Pemkab Bojonegoro pada Senin (11/5/2026), Kepala Desa Balenrejo, Imam Priadi, menyatakan bahwa pengembangan HIPPAM sempat menghadapi beberapa kendala, terutama tingginya biaya operasional listrik untuk sistem sedot dan distribusi air. Namun, pemerintah desa tetap berkomitmen untuk memperluas jaringan layanan air bersih bagi masyarakat.
“Kami terus berupaya mengajukan bantuan tandon air dan Sambungan Rumah (SR). Saat ini, pengembangan difokuskan di wilayah RT 16 RW 02 Desa Balenrejo,” ujar Imam Priadi. Saat ini, HIPPAM Balenrejo Makmur telah melayani sedikitnya 67 rumah tangga. Warga dikenakan tarif Rp1.000 per meter kubik dengan biaya beban minimal Rp5.000 jika tidak ada pemakaian. Seluruh proses pemasangan jaringan dilakukan secara swadaya oleh pengurus HIPPAM bersama warga setempat.
“Manfaatnya sangat dirasakan masyarakat untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus sehari-hari,” tambahnya. Keberadaan HIPPAM menjadi semakin penting saat musim kemarau tiba. Ketika sumber air permukaan mulai menyusut, sumur bor sedalam sekitar 60 meter milik HIPPAM menjadi sumber utama pasokan air bersih warga.
Selain memenuhi kebutuhan rumah tangga, sistem ini juga dinilai membantu menjaga ketahanan pangan desa. Dengan memanfaatkan air tanah untuk kebutuhan domestik, warga tidak lagi bergantung pada saluran irigasi pertanian. Kondisi ini membuat distribusi air irigasi tetap optimal untuk mengairi lahan pertanian selama musim kering.
Ke depan, Pemdes Balenrejo bersama pengurus HIPPAM berencana memperluas jaringan layanan hingga ke dusun-dusun lain. Pengembangan ini menghadapi sejumlah tantangan teknis, seperti jalur distribusi yang harus melintasi jalan nasional dan jembatan. Meski demikian, pemerintah desa optimistis distribusi air tetap berjalan lancar dengan dukungan sistem gravitasi dan penambahan tandon air.
“Kami tidak bosan mengajukan pengembangan. Harapannya, akses air bersih bisa merata sehingga tidak ada lagi warga yang kesulitan air saat puncak kemarau,” pungkas Imam Priadi.





















