Headline.co.id, Jakarta ~ Pemerintah Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas sistem keuangan guna mendukung momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 menunjukkan kinerja yang solid, dengan angka pertumbuhan mencapai 5,61 persen. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi teratas di negara-negara G20, melampaui Cina, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan dalam siaran pers bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi dari ekspektasi berbagai lembaga. Dalam rapat yang dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia, Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Menteri Keuangan, dilaporkan kepada Presiden Prabowo bahwa perekonomian nasional tetap menunjukkan kinerja positif.
Dari sisi makroekonomi, inflasi berhasil ditekan pada level 2,42 persen, sementara neraca perdagangan mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut. Cadangan devisa juga tetap kuat. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menambahkan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada pada level undervalued, namun diperkirakan akan menguat seiring dengan fundamental ekonomi yang kuat. Perry menjelaskan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam jangka pendek lebih dipengaruhi oleh faktor global dan musiman.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menambahkan bahwa perekonomian nasional sedang memasuki fase akselerasi pertumbuhan. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga momentum ini melalui penguatan koordinasi kebijakan dan menyiapkan stimulus tambahan untuk mendorong aktivitas ekonomi.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan bahwa perhatian Presiden terhadap dinamika capital outflow di pasar keuangan domestik telah dibahas. Menurut Friderica, kondisi outflow saat ini lebih dipengaruhi oleh faktor geopolitik dan geoekonomi global, termasuk kebijakan suku bunga global yang tinggi. Namun, ia meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap baik, sehingga kondisi pasar diharapkan membaik ke depan.
Friderica juga menjelaskan bahwa langkah-langkah perbaikan terus dilakukan untuk meningkatkan transparansi dan likuiditas pasar modal Indonesia. Langkah-langkah tersebut meliputi keterbukaan data pemegang saham, penyajian data yang lebih rinci, pengungkapan ultimate beneficial owner, serta penguatan free float.
Pemerintah optimistis bahwa kinerja ekonomi nasional akan tetap terjaga dan semakin menguat, didukung oleh fundamental yang solid serta sinergi kebijakan yang berkelanjutan. Dengan koordinasi yang erat antar otoritas dan pemangku kepentingan, ekonomi Indonesia diharapkan terus tumbuh lebih tinggi, stabil, dan semakin berdaya saing.























