Headline.co.id, Arta Wahana ~ mantan tenaga kependidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), memilih untuk tetap aktif setelah pensiun dengan mengelola kebun selada hidroponik. Kebun seluas 650 meter persegi ini terletak di wilayah Pakem dan Plosokuning, dan menjadi aktivitas baru bagi Arta setelah pensiun pada awal 2024. Sebelumnya, ia bekerja di Perpustakaan Pascasarjana dan Humas UGM sejak 1989 hingga 2024.
Arta mengungkapkan bahwa rutinitasnya kini berubah, dari yang sebelumnya bekerja hingga malam hari, kini ia berangkat lebih pagi dan selesai sebelum siang. “Sebelum subuh pun saya harus sudah berangkat, karena ditunggu orang mengambil selada. Tapi di sini jam kerja lebih pendek, pukul 10 sudah selesai. Bahkan kalau panen, pukul 9 sudah selesai,” ujarnya pada Selasa (28/4).
Kebun hidroponik ini dikelola dengan bantuan anak dan menantunya. Anaknya, yang lulusan jurusan pertanian, bertanggung jawab dalam pemasaran, sementara menantunya meracik nutrisi untuk tanaman. Arta sendiri terlibat langsung dalam perawatan sehari-hari kebun tersebut. Ia mengaku, pengalamannya di masa kecil yang pernah bersawah membantunya dalam bercocok tanam.
Pada awalnya, Arta menghadapi beberapa kendala dalam menanam selada, seperti tanaman yang layu atau mati. Setelah melakukan penelusuran, ia menemukan bahwa masalah tersebut disebabkan oleh kurangnya vitamin dan suhu air yang terlalu panas. “Pernah waktu awal dulu seladanya sering mati. Setelah ditelusuri, ternyata karena vitaminnya kurang. Juga faktor airnya panas karena waktu itu menyimpannya di dalam drum, kalau sekarang airnya dari sumur,” jelasnya.
Dengan menerapkan sistem rotasi tanam pada delapan meja produksi, Arta kini dapat memanen selada setiap hari dengan rata-rata 20-30 kg. Harga selada hidroponik yang ia jual berkisar Rp20.000 hingga Rp25.000 per kilogram, menghasilkan omset harian sekitar 400 ribu hingga 750 ribu rupiah. Meski demikian, ia menyadari bahwa harga selada hidroponik sangat bergantung pada stok selada tanah.
Arta berharap rekan-rekan pensiunan lainnya dapat memanfaatkan waktu dan aset yang dimiliki untuk tetap produktif. “Mari rekan-rekan pensiunan, kalau mempunyai waktu dan lahan, baik besar maupun sedikit kita bercocok tanam. Dikonsumsi sendiri juga bisa. Selanjutnya belajar untuk menghasilkan income,” tutupnya.




















