Headline.co.id, Jogja ~ Empat astronot yang terlibat dalam misi Artemis II telah berhasil kembali ke Bumi pada Jumat (10/4) waktu setempat, setelah menyelesaikan perjalanan selama 10 hari mengelilingi Bulan. Keberhasilan misi ini tidak hanya membuka peluang bagi manusia untuk kembali mendarat di Bulan, tetapi juga memberikan kesempatan besar bagi peneliti di Indonesia untuk berkontribusi dalam pengembangan riset dan teknologi antariksa.
Dr. Dwi Satya Palupi, S.Si., M.Si., dosen Departemen Fisika FMIPA UGM, menyatakan bahwa capaian ini menunjukkan kemajuan signifikan dibandingkan dengan era program Apollo yang berlangsung lebih dari lima dekade lalu. Menurutnya, sistem penerbangan ke antariksa kini semakin aman, terutama dalam melewati fase keluar masuk atmosfer Bumi yang sering berisiko. “Saya kira misi kali ini ke Bulan merupakan lompatan besar dibandingkan era Program Apollo, karena sekarang teknologi sudah melalui banyak evaluasi dari kegagalan-kegagalan sebelumnya,” ujarnya pada Kamis (23/4).
Dr. Dwi melihat bahwa peluang manusia untuk kembali mendarat di Bulan semakin besar. Namun, masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi, seperti kondisi Bulan yang tidak memiliki atmosfer, suhu ekstrem, tingginya radiasi kosmik, serta keterbatasan oksigen dan sumber daya pendukung kehidupan. Meski demikian, ia menilai tantangan-tantangan tersebut justru menjadi pendorong bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di masa depan. “Tantangan di luar angkasa justru akan mendorong penelitian-penelitian baru, agar manusia bisa sampai ke sana dengan selamat dan bertahan hidup di sana,” tambahnya.
Keberhasilan Artemis II juga membuka peluang besar bagi Indonesia, khususnya lembaga BRIN, untuk berkontribusi dalam pengembangan eksplorasi antariksa. Dr. Dwi menyebutkan bahwa peluang tersebut mencakup penguatan riset di bidang teknologi kedirgantaraan, satelit, transmisi data, hingga pengembangan material yang tahan terhadap kondisi ekstrem di luar angkasa. “Teknologi kedirgantaraan, satelit, dan transmisi data sekarang bukan lagi hal yang tidak mungkin, tapi sudah menjadi kebutuhan yang nyata,” katanya.
Lebih lanjut, Dr. Dwi menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memberikan perhatian serius terhadap pengembangan teknologi, khususnya melalui BRIN, yang dapat menjalin kolaborasi riset dengan NASA. Hal ini agar generasi muda memiliki peluang dan mampu bersaing di tingkat global. Ia juga berharap Indonesia dapat menyumbangkan inovasi di bidang material, seperti mengusulkan material tertentu yang kuat dan dapat digunakan pada instrumen luar angkasa. “Sepertinya dukungan tidak hanya sebatas pendanaan saja ya, tetapi juga perlu diarahkan pada pembukaan akses kolaborasi dengan lembaga internasional agar peneliti muda Indonesia dapat terlibat langsung dalam riset antariksa,” pungkasnya.





















