Headline.co.id, Jogja ~ Empat program studi di Fakultas Ilmu Bahasa (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menempati peringkat 151-200 dunia dalam pemeringkatan QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026. Program studi tersebut meliputi Archaeology, English Language & Literature, History, dan Modern Languages. Khusus untuk bidang Arkeologi dan Sejarah, UGM menjadi satu-satunya universitas di Indonesia yang masuk dalam daftar ini.
Dalam bidang English Language & Literature, UGM menempati peringkat pertama di Indonesia, diikuti oleh Universitas Indonesia (UI) yang juga berada di peringkat 151-200 dunia, dan Universitas Airlangga di peringkat 201-250 dunia. Sementara itu, untuk bidang Modern Languages, UGM berada di peringkat kedua di Indonesia (151-200 dunia), di bawah UI (101-150 dunia) dan di atas Universitas Airlangga (251-300 dunia).
Dekan FIB UGM, Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si., menyatakan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian ini. Sebelumnya, program studi Antropologi juga berhasil masuk peringkat 51-100 dunia dan menempati peringkat pertama di Indonesia. Menurut Setiadi, pencapaian ini mencerminkan kerja keras dan komitmen seluruh sivitas akademika FIB UGM.
“Saya kira capaian peringkat internasional menjadi sesuatu yang sangat membanggakan bagi FIB. Bukan hanya prestasi bagi UGM, tetapi juga merupakan bentuk apresiasi terhadap kerja keras seluruh sivitas akademika. Komitmen kami dalam menjaga mutu pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat di bidang bahasa dan sastra mendapat pengakuan di tingkat global,” ujarnya pada Jumat (17/4).
Setiadi menambahkan bahwa kolaborasi yang kuat dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan menjadi faktor utama pencapaian ini. Reputasi akademik yang tercermin melalui publikasi ilmiah, kegiatan penelitian, serta kontribusi alumni juga menjadi pendorong utama. Departemen-departemen di bawah FIB, seperti Departemen Bahasa dan Sastra, Antropologi, dan Arkeologi, berperan penting dalam memperkuat citra UGM di bidang humaniora.
“Kami memaknai capaian ini secara seimbang, yaitu sebagai pengakuan sekaligus motivasi dan tolok ukur. Pengakuan karena kerja keras kita telah dihargai secara objektif, motivasi karena hasil ini mendorong kami untuk terus berinovasi dan menjaga kualitas, serta tolok ukur karena ranking ini memberikan cerminan sejauh mana kita telah melangkah dan aspek mana yang perlu terus diperbaiki,” tambahnya.
Fokus FIB saat ini adalah konsistensi, dengan tujuan agar riset-riset yang dilakukan tidak hanya berhenti di kertas, tetapi juga memberikan manfaat nyata. Untuk meningkatkan kualitas akademik dan reputasi ilmiah, FIB UGM menjalankan berbagai langkah strategis, termasuk penguatan kolaborasi riset berskala nasional dan internasional yang telah dilakukan sejak tahun 2023, serta pengembangan riset unggulan di bidang humaniora dengan pendekatan interkultural, intertekstual, dan digital humanities.
FIB juga mendorong para dosennya untuk lebih aktif menulis dan mempublikasikan penelitian mereka di jurnal internasional. Program Percepatan Publikasi Ilmiah memberikan pendampingan intensif bagi dosen untuk menulis dan menerbitkan artikel di jurnal bereputasi. Selain itu, FIB memperkuat tata kelola dan indeksasi jurnal ilmiahnya seperti Poetika: Jurnal Ilmu Sastra, Humaniora, Sasdaya: Gadjah Mada Journal of Humanities, dan Lexicon.
Fakultas juga aktif menyelenggarakan berbagai forum dan diskusi sastra sebagai wadah pertukaran gagasan dan pengayaan keilmuan di bidang humaniora. Contohnya adalah peningkatan kerja sama dan program-program internasional seperti Festival Internasional Berbahasa dan Berbudaya Indonesia (FIBBI) dan Seminar Internasional yang direncanakan pada bulan Oktober. Pertukaran mahasiswa dan dosen dengan kampus luar negeri juga didorong untuk memperkuat atmosfer internasional di kampus.
“Ke depannya, FIB UGM akan terus memperkuat hilirisasi hasil riset dan karya akademik agar memiliki dampak lebih luas, tidak hanya dalam bentuk publikasi ilmiah, tetapi juga melalui karya budaya yang dapat dinikmati masyarakat,” ujarnya.
Setiadi berharap capaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga menjadi energi kolektif bagi seluruh sivitas akademika untuk terus berkarya dan berinovasi. FIB UGM berupaya menjadi pusat unggulan dalam kajian bahasa, sastra, sejarah, dan budaya yang memberikan kontribusi nyata di tingkat nasional maupun internasional. “Saya berharap prestasi ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk terus berkarya dengan semangat kebersamaan. FIB UGM akan terus berupaya menjadi pusat unggulan dalam kajian bahasa, sastra, dan budaya yang berkontribusi nyata bagi pengembangan ilmu humaniora di tingkat internasional,” harapnya.




















