Headline.co.id, Jogja ~ Kenaikan harga bahan baku plastik yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah telah menambah beban bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Indonesia. Kenaikan harga ini dilaporkan mencapai hingga 100%, menambah tekanan pada sektor yang sudah tertekan oleh daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., Ph.D., seorang ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), menyatakan bahwa kenaikan harga plastik ini bukan hanya masalah operasional, tetapi juga ancaman serius bagi ketahanan UMKM. “Kita harus menyadari bahwa UMKM Indonesia sangat bergantung pada plastik mulai dari kemasan makanan hingga kantong belanja,” ujarnya pada Kamis (16/4).
Sekitar 60% hingga 70% dari struktur biaya produk kuliner UMKM dipengaruhi oleh biaya bahan baku dan kemasan. Dengan kenaikan harga plastik, keuntungan UMKM diperkirakan akan tergerus signifikan. Wisnu menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik ini disebabkan oleh efek domino dalam rantai nilai petrokimia. Gangguan logistik di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, telah meningkatkan harga minyak mentah dan gasolin secara global. Plastik, yang diproduksi dari polimer seperti polietilena dan polipropilena, merupakan produk turunan minyak bumi. Ketika harga bahan baku induknya naik, biaya produksi biji plastik ikut terkerek. Selain itu, prioritas energi yang dialokasikan untuk bahan bakar transportasi dan pemanas mengurangi suplai biji plastik di pasar internasional.
Dampak dari kenaikan harga plastik ini sangat sistemik bagi UMKM, yang mengalami lonjakan COGS (Cost of Goods Sold). Komponen kemasan yang biasanya murah kini membebani margin keuntungan. Menaikkan harga jual produk di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah bisa menjadi bumerang, membuat konsumen beralih atau mengurangi konsumsi. Akibatnya, banyak pelaku UMKM mungkin memilih untuk berhenti beroperasi daripada terus menanggung kerugian. “Seringkali, shock ekonomi yang berujung penutupan akan lebih lambat lagi pemulihannya,” jelas Wisnu.
Untuk mengatasi kenaikan harga plastik, Wisnu menyarankan agar pelaku UMKM melakukan adaptasi strategis, seperti menggunakan kemasan alternatif yang lebih stabil harganya atau berbasis lokal, seperti kertas, besek bambu, atau kemasan berbahan dasar singkong. Inovasi model bisnis, seperti sistem “bawa wadah sendiri” dengan insentif potongan harga, juga dapat mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai. Namun, Wisnu menekankan pentingnya dukungan pemerintah melalui kebijakan yang komprehensif. Pemerintah dapat memberikan insentif pajak bagi UMKM yang terdampak atau menghapus pajak impor sementara untuk bahan baku alternatif non-plastik. Selain itu, program subsidi silang atau penyangga stok melalui BUMN dapat menstabilkan harga biji plastik domestik.
Pemerintah juga perlu mendorong sosialisasi kemasan alternatif dan memfasilitasi akses UMKM ke produsen kemasan ramah lingkungan. Wisnu menambahkan bahwa pendampingan manajemen biaya melalui pelatihan pengelolaan keuangan dan strategi pricing di masa krisis energi sangat diperlukan. “Melalui dinas terkait, memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM tentang cara mengelola keuangan dan strategi pricing di masa krisis energi,” pungkasnya.





















