Headline.co.id, Jakarta ~ Di tengah kekhawatiran masyarakat mengenai kesehatan, istilah Bisphenol A (BPA) kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. BPA disebut-sebut sebagai zat yang terdapat dalam galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) dan dituduh dapat memicu autisme, kanker, gangguan hormon, hingga kemandulan. Namun, di tengah berbagai klaim tersebut, pertanyaan mendasar yang sering terabaikan adalah apa yang benar-benar didukung oleh bukti ilmiah dan apa yang hanya sekadar asumsi.
Sejauh ini, tiga penelitian berbeda di Indonesia telah dilakukan oleh Universitas Sumatera Utara (USU), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Islam Makassar (UIM). Ketiga penelitian ini tidak menemukan adanya migrasi BPA dari galon ke dalam air, baik pada kemasan yang terpapar matahari maupun tidak. “Penelitian ini dilakukan untuk memastikan keamanan penggunaan galon polikarbonat dan meluruskan kesesatan informasi terkait migrasi BPA,” kata Ketua Tim Peneliti Prof. Dr. Juliati Tarigan dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin (13/4/2026).
Guru Besar Kimia Organik dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU ini menambahkan bahwa penelitian juga bertujuan untuk meluruskan informasi yang salah terkait migrasi BPA dari galon ke dalam air minum. Hasil serupa juga ditemukan oleh UIM dan ITB. Ketua Program Studi Kimia UIM, Endah Dwijayanti, menjelaskan bahwa penelitian ini didorong oleh maraknya pemberitaan yang menyebutkan bahwa galon guna ulang mungkin mengalami migrasi BPA yang melebihi ambang batas aman, yang telah menimbulkan keresahan di masyarakat.
Penelitian berjudul ‘Analisis Bisphenol-A dan Di-ethylhexyl Phthalates dalam air galon yang beredar di Kota Makassar’ ini telah diterbitkan di Food Scientia, Journal of Food Science and Technology, Universitas Terbuka pada Juni 2023. Mantan kepala laboratorium teknologi polimer dan membran ITB, Akhmad Zainal Abidin, menyatakan bahwa penelitian ini menunjukkan semua air minum yang diuji terbukti aman untuk dikonsumsi masyarakat. “Air minum yang ada juga telah sesuai dengan standar serta regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah dan juga standar internasional,” kata Akhmad Zainal.
Ahli polimer lulusan University of Applied Science Darmstadt di Jerman, Oka Tan, menjelaskan bahwa galon guna ulang PC memiliki ketahanan lebih baik dibanding yang sekali pakai. Menurutnya, produk makanan dan minuman di negara beriklim tropis lebih cocok menggunakan kemasan galon guna ulang dibanding galon sekali pakai. Oka menambahkan bahwa galon PC memiliki ketahanan yang kuat dan polikarbonat yang digunakan dalam galon guna ulang memiliki sifat stabil dan tidak mudah mengalami degradasi akibat paparan sinar matahari.
Migrasi BPA dari galon PC ke air hanya terjadi apabila kemasan terkena panas mulai 70 derajat Celsius. “Migrasi BPA dari kemasan ke air tidak akan terjadi meskipun galon didistribusikan pada siang hari apabila suhu tidak mencapai 70 derajat,” kata Oka Tan. Pakar teknologi plastik ini melanjutkan bahwa BPA hanya akan bermigrasi dalam jumlah signifikan jika terjadi pemanasan ekstrem yang jauh melampaui suhu lingkungan biasa.
Sementara itu, penelitian internasional memang membahas potensi dampak BPA terhadap sistem endokrin. Namun, banyak penelitian bersifat observasional atau berbasis hewan, dan regulator menetapkan ambang paparan aman berdasarkan evaluasi risiko. Tidak ada satu pun penelitian internasional yang dilakukan secara spesifik membahas migrasi BPA dari galon air, melainkan meneliti dampak BPA sebagai zat kimia. Hal ini juga membuat heran Pakar Teknologi Pangan, Hermawan Seftiono.
Di Indonesia, tidak ada data epidemiologi yang menunjukkan lonjakan penyakit tertentu akibat mengonsumsi air dari galon PC selama lebih dari lima dekade penggunaannya. “Jika klaim dampak kesehatan masif benar, secara logika epidemiologis akan terlihat pola yang konsisten dalam data kesehatan publik,” kata Hermawan Seftiono. Hermawan menjelaskan bahwa galon dan BPA merupakan dua produk yang berbeda. Anggota Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) ini melanjutkan bahwa BPA merupakan senyawa pembentuk galon polikarbonat dan memang zat berbahaya apabila berdiri sendiri.
Namun, reaksi polimerisasi BPA dengan fosgen (karbonil diklorida) menjadi senyawa polikarbonat menghilangkan bahaya yang dimiliki BPA. Keamanan penggunaan galon guna ulang juga sudah dijamin oleh pemerintah dan BPOM melalui berbagai regulasi ketat. Kepala Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Trilogi ini mengungkapkan bahwa konsentrasi BPA paling tinggi sebenarnya ada di kemasan makanan kaleng dan bukan pada galon PC. Sayangnya, kebenaran ini luput dari sorotan sehingga isu BPA di Indonesia hanya fokus pada galon PC.
Selain kaleng, penelitian bahaya BPA di luar negeri juga fokus pada botol bayi. Penggunaan senyawa BPA pada botol bayi juga sudah dilarang mengingat botol susu bayi biasa dipanaskan sebelum dipakai sehingga memicu migrasi BPA. “Penggunaan BPA pada botol bayi sudah dilarang,” kata Hermawan.






















