Headline.co.id, Bangunan ~ Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa hingga pertengahan 2025, reklamasi lahan bekas tambang telah mencapai 5.739,39 hektare, atau 80,43% dari target 7.135 hektare. Sejak 2021 hingga 2024, kepatuhan perusahaan pertambangan terhadap reklamasi tambang terus meningkat. Reklamasi ini tidak hanya dilakukan pada lahan bekas tambang, tetapi juga pada area lain seperti tempat penimbunan tanah penutup, jalan, pabrik, serta bangunan pendukung operasional tambang.
Kerusakan lahan sering kali mencapai tahap serius, di mana tanah kehilangan kemampuan alaminya untuk mendukung kehidupan. Dalam kondisi ini, peran manusia menjadi penting untuk membantu penyembuhan tanah dan mengembalikannya ke kondisi semula. Penyembuhan ini dilakukan melalui penelitian dan pengabdian yang dapat memberikan kontribusi besar dalam mengembalikan tanah ke kondisi yang lebih baik.
Salah satu contoh nyata dari upaya pengabdian ini dilakukan oleh Agus Affianto, S.Hut., M.Si., dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, yang dikenal sebagai Picoez. Ia dan timnya pernah membantu menyusun model rehabilitasi kawasan tailing atau pasir bekas tambang timah di Desa Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Menurut Picoez, lahan bekas tambang di dekat “SD Laskar Pelangi” tersebut tergolong ekstrem dan sulit diolah menjadi lahan produktif kembali. “Berdasarkan hasil studi sebelumnya, rumput saja membutuhkan waktu hingga 20 tahun untuk dapat tumbuh secara alami,” kata Picoez, Rabu (8/4).
Dalam skema pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan beberapa pemangku kepentingan, tim mencoba membuat demplot sebagai media uji coba rehabilitasi. Namun, kondisi tanah tailing dan geografis sekitar memunculkan berbagai tantangan. Suhu pasir di lokasi dapat mencapai 62,4 derajat Celcius pada pukul 10.00 hingga 10.30 pagi, sehingga hampir tidak memungkinkan untuk penanaman secara langsung. “Karakteristik pasir yang tidak mampu menyerap air menyebabkan kondisi tanah menjadi asam saat hujan turun,” ujarnya.
Setelah diskusi dengan berbagai pihak, Picoez dan tim mengembangkan metode berbasis kompos blok pada area sekitar 10 hektar sebagai bahan uji coba rehabilitasi melalui kolaborasi Fakultas Kehutanan dan pemerintah Kabupaten Belitung Timur. “Kompos dipadatkan dan dijadikan media tanam awal guna meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan kelembapan,” katanya.
Beberapa jenis tanaman seperti buah naga, kelengkeng, cemara, dan jambu mulai ditanam dengan harapan dapat menghasilkan serasah dan bahan organik sebagai fondasi awal ekosistem. Picoez menekankan bahwa keberhasilan rehabilitasi lahan ekstrem tidak dapat dicapai dengan pendekatan konvensional. Ia menguraikan empat tahapan utama yang menjadi kunci keberhasilan. Tahap pertama adalah “menanam asal hidup”, yakni memastikan tanaman dapat bertahan hidup dengan bantuan kompos blok yang mengandung bahan organik seperti kotoran hewan terfermentasi. Tahap kedua adalah memastikan tanaman dapat bertahan hidup melalui monitoring intensif, misalnya dengan menjaga kelembapan batang menggunakan potongan batang pisang saat musim kemarau. “Tahap ketiga berfokus pada peningkatan kualitas tanaman melalui pemupukan yang tepat, dan tahap terakhir adalah memastikan tanaman mampu memberikan manfaat, seperti menghasilkan buah,” terangnya.
Ia menegaskan bahwa proses tersebut membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan secara instan. “Kita tidak bisa menghadapi keadaan ekstrem dengan pendekatan yang biasa-biasa saja dan dalam waktu yang singkat,” ujarnya. Keberhasilan tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga pada kemitraan dengan masyarakat serta sejauh mana program tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi mereka. Menurutnya, yang paling penting adalah bagaimana penyembuhan tanah tersebut juga merupakan pengabdian yang dapat memberikan faedah bagi masyarakat setempat. “Sering kali dilupakan oleh banyak pihak mengenai skema-skema rehabilitasi saat ini, seperti memperhatikan kondisi pra-rehabilitasi, yakni masyarakatnya. Tidak hanya mencoba berbagai teknik, tetapi juga memikirkan manfaat untuk mereka,” ungkapnya.
Di balik berbagai tantangan tersebut, terdapat pula kisah inspiratif dari masyarakat lokal yang turut menyentuh bagi Picoez dan tim. Ia menceritakan pengalaman seorang warga lansia, Nek Inah, yang tetap bersemangat menanam semangka meskipun hasil panennya sempat dicuri menjelang lebaran Idulfitri. Ketika ditanya apakah masih ingin melanjutkan usaha tersebut, Nek Inah tetap menunjukkan optimisme yang kuat mengenai usaha yang ia pupuk sedari awal. Semangat tersebut, menurut Picoez, menjadi salah satu sumber motivasi bagi tim untuk terus melanjutkan upaya rehabilitasi, di samping kendala yang ada.
Ia turut menambahkan bahwa secara alami, kawasan tersebut tetap memiliki potensi untuk kembali menjadi hutan yang lebat. Namun, tanpa intervensi manusia, proses tersebut dapat memakan waktu puluhan tahun. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan bertujuan untuk mempercepat proses pemulihan alam melalui bantuan manusia yang terencana dan berkelanjutan. “Yang kita lakukan itu adalah bagaimana caranya alam tersebut bisa recovery dengan bantuan manusia untuk mempercepat dia memperbaiki diri,” tambahnya.
Setelah bertahun-tahun, lahan yang dikelola oleh Picoez dan tim masih cukup terjaga dan memberikan produktivitas serta kontribusi terhadap ekosistem setempat. “Melihat tanaman tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat merupakan kebahagiaan tersendiri. Ini bukti bahwa niat dan upaya baik untuk lingkungan akan selalu memberikan hasil yang tidak sia-sia,” ujarnya.
Melalui kabar terbaru yang diterima oleh Picoez, kawasan tersebut kini masih terus diusahakan untuk berkembang oleh pemerintah daerah bersama masyarakat setempat, meskipun tidak seintens dahulu. “Kita apresiasi, model rehabilitasi ini telah diadaptasi di daerah dengan kondisi serupa oleh beberapa pihak,” ungkapnya.
Meski demikian, aspek sosial masyarakat turut menjadi tantangan tersendiri dalam rehabilitasi lahan bekas tambang. Picoez menjelaskan bahwa mayoritas masyarakat setempat telah terbiasa bekerja di sektor penambangan timah, sehingga cukup sulit untuk mengajak mereka beralih ke kegiatan rehabilitasi lahan. Oleh karena itu, keterlibatan awal justru banyak datang dari kelompok lansia yang membantu dalam penyediaan bibit dan perawatan tanaman. Dengan adanya kondisi perekonomian yang cukup homogen, Picoez dan tim kemudian mulai mengintegrasikan tanaman sayuran dalam demplot sebagai upaya meningkatkan nilai ekonomi dan menarik minat masyarakat.
Metode yang sama juga turut diterapkan di wilayah yang berbeda oleh peneliti-peneliti lainnya. Picoez bersaksi bahwa salah satu pemenang Kalpataru turut mengadaptasi metode tersebut di tanah tailing wilayah Belitung Timur lainnya dan terbukti membuahkan hasil dalam beberapa bulan hingga tahun kemudian.
Menutup wawancara, Picoez turut menyampaikan refleksinya terkait peringatan Hari Hutan Sedunia yang jatuh pada 21 Maret lalu. Ia berharap pemerintah tidak hanya memandang hutan sebagai sumber ekonomi semata, tetapi juga sebagai penyedia jasa lingkungan yang memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan kehidupan.








