Headline.co.id, Jogja ~ Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kesehatan yang serius di Indonesia, dengan angka kematian mencapai sekitar 12 hingga 14 orang setiap jam. Indonesia menempati posisi kedua di dunia dalam jumlah kasus TBC, dengan estimasi 1.090.000 kasus dan 125.000 kematian setiap tahunnya. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dr. Rina Triasih, M.Med(Paed), Ph.D., Sp.A(K), dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) sekaligus Direktur Zero TB Yogyakarta, menyatakan bahwa tingginya angka kematian akibat TBC diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit ini. Ia menegaskan bahwa TBC sama berbahayanya dengan COVID-19. “Ini sama bahayanya dengan COVID. Namun, karena TBC sudah ada sejak lama dan menyebabkan korban jiwa secara perlahan, penyakit ini kerap dianggap kurang berbahaya,” ujarnya dalam keterangan yang disampaikan oleh Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM kepada wartawan, Rabu (8/4).
Menurut Dr. Rina, tingginya kasus dan kematian akibat TBC masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius meskipun berbagai upaya penanggulangan terus dilakukan untuk mencapai target eliminasi TBC pada 2030. “Peningkatan angka kasus tersebut juga dapat mencerminkan semakin membaiknya upaya penemuan kasus yang sebelumnya belum terdeteksi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa gejala TBC tidak langsung muncul setelah seseorang tertular kuman, melainkan baru berkembang dalam rentang waktu sekitar 4-12 minggu. “Kondisi inilah yang kemudian memungkinkan kasus tidak terdeteksi sejak dini, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan penanganan dan penularan di masyarakat,” terangnya.
Dr. Rina juga menyoroti sejumlah tantangan dalam upaya pengendalian TBC di Indonesia. Selain faktor geografis yang menyebabkan ketimpangan akses layanan kesehatan antarwilayah, stigma di masyarakat juga masih menjadi hambatan besar. Banyak orang enggan memeriksakan diri karena takut didiagnosis menderita TBC, apalagi stigma yang menempel ini membuat sebagian orang khawatir akan kehilangan pekerjaan. “Padahal, keterlambatan diagnosis justru meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien,” imbuhnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dr. Rina mengungkapkan pentingnya pendekatan komprehensif dalam penanggulangan TBC melalui strategi search, treat, and prevent. Pendekatan ini mencakup penemuan kasus secara aktif (active case finding/ACF), pengobatan yang tepat dan tuntas, serta pemberian terapi pencegahan bagi kelompok berisiko. “Upaya ini tidak akan tercapai jika hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja. Diperlukan dukungan dan keterlibatan berbagai sektor, termasuk pemerintah, swasta, dan masyarakat, agar pengendalian TBC dapat berjalan secara optimal,” pesannya.
Dr. Rina mengapresiasi berbagai inovasi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) untuk menangani kasus TBC. Salah satunya adalah penerapan ACF dengan memanfaatkan rontgen portable yang telah didistribusikan ke berbagai daerah. “Saya kira ini inovasi yang sangat bagus dalam menjangkau kasus-kasus TBC yang sebelumnya tidak terdeteksi,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti rencana pengembangan layanan skrining terpadu melalui konsep One Stop Service (OSS) yang mengintegrasikan pemeriksaan TBC dengan layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG). Upaya ini diharapkan dapat mempercepat deteksi dan penanganan kasus di masyarakat.
Dr. Rina menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mendukung upaya eliminasi TBC. Masyarakat diimbau untuk tidak menyepelekan gejala seperti batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Selain itu, pemahaman bahwa TBC dapat disembuhkan serta bukan merupakan penyakit keturunan juga perlu terus disosialisasikan. Hal ini guna mengurangi stigma di masyarakat dan meningkatkan kepatuhan berobat dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia.





















