Headline.co.id, Kupang ~ Sebanyak 55 paus pilot ditemukan terdampar di Pantai Mbadokai, Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Rote Barat Daya, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin (9/3). Dari jumlah tersebut, 21 ekor yang terdiri dari 4 anakan dan 17 dewasa ditemukan mati, sementara 34 ekor lainnya berhasil digiring kembali ke laut. Kejadian ini mengejutkan warga setempat.
Dosen Fakultas Biologi UGM, Akbar Reza, S.Si., M.Sc., menyatakan keprihatinannya terhadap insiden ini. Ia menyoroti bahwa paus pilot merupakan spesies yang dilindungi sepenuhnya dan tidak ada data populasi globalnya menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). “Kalau kita lihat dari data IUCN gitu ya, kita nggak punya data populasi globalnya, jadi kita nggak tahu dia itu populasinya jumlahnya itu meningkat, menurun, stabil atau seperti apa,” ujarnya pada Selasa (31/3).
Akbar menambahkan bahwa kejadian ini menunjukkan adanya gangguan ekologis di perairan tersebut. Ia mencatat bahwa insiden serupa pernah terjadi sebelumnya, seperti pada tahun 2024 di Alor dengan 50 paus pilot terdampar, serta pada tahun 2020 di Sabu Raijua dan Madura dengan masing-masing 11 dan 52 paus pilot terdampar. “Memang ya kejadian ini sudah terjadi beberapa kali ya, meskipun tentu sering terjadi, bukan berarti alami,” jelasnya.
Menurut Akbar, wilayah NTT, Laut Sawu, dan sekitar Kupang merupakan jalur migrasi tahunan paus pilot. Saat ini adalah musim migrasi dari selatan, dari perairan dingin Australia dekat Antarktik ke perairan tropis yang lebih hangat. Selain paus pilot, penelitian kolaboratif BRIN dan James Cook University, Australia, mencatat lebih dari 20 spesies paus dan lumba-lumba terdampar di Indonesia sejak tahun 1990-an hingga 2021.
Untuk mengetahui penyebab pasti terdamparnya hewan-hewan ini, diperlukan pembedahan atau nekropsi. Berdasarkan data nekropsi sebelumnya, ditemukan kerusakan organ ekolokasi pada paus. “Kalau yang sekarang kan belum selesai nih nekropsinya,” ungkap Akbar. Ekolokasi membantu paus dalam navigasi dan mencari makan melalui pantulan gelombang suara.
Kerusakan organ ekolokasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti tumpang tindih dengan aktivitas manusia yang menghasilkan gelombang suara, kerusakan organ akibat parasit, atau pencemaran lingkungan. Aktivitas seperti lalu lintas kapal, survei seismik, gempa, atau eksplorasi migas yang menggunakan sonar dapat mengganggu ekolokasi paus. “Kondisi inilah yang kemudian membuat paus-paus ini terdampar,” katanya.
Akbar juga menjelaskan bahwa substrat lumpur dan pasir di beberapa lokasi di NTT dapat mengurangi kekuatan pantulan gelombang dibandingkan dengan substrat keras seperti karang. Hal ini dapat memperparah kerusakan ekolokasi, membuat paus tidak dapat mendeteksi kedalaman air dengan benar dan akhirnya terdampar.
Paus pilot hidup berkelompok, dan jika pemimpin kelompok mengalami masalah, hal ini dapat memengaruhi seluruh kelompok. Selain itu, paus sensitif terhadap perubahan lingkungan seperti pencemaran air, logam berat, dan badai matahari. Untuk memastikan penyebabnya, nekropsi diperlukan, sementara dugaan terbesar adalah polusi suara dan pencemaran air.
Akbar menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut untuk memahami pola pergerakan paus, sehingga dapat diambil langkah mitigasi. Di Selandia Baru, misalnya, program PilotPulse memberikan peringatan dini untuk mengantisipasi terdamparnya paus. Jika paus sudah terdampar, penting untuk mengikuti protokol penanganan yang tepat agar paus dapat kembali ke laut dengan selamat.
Nekropsi masih menjadi tantangan karena keterbatasan dokter hewan dan peralatan. “Jadi memang nekropsi sendiri masih jadi batasan, selain karena dokter hewan terbatas, alat-alat juga masih terbatas. Padahal itu penting untuk memahami kira-kira penyebab kematiannya,” pungkas Akbar.





















