Headline.co.id, Jogja ~ Kenaikan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada ketahanan energi nasional Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa cadangan pasokan operasional Bahan Bakar Minyak (BBM) saat ini hanya cukup untuk 20-23 hari, jauh di bawah standar internasional yang mencapai 90 hari. Kekhawatiran masyarakat meningkat menjelang mudik Idul Fitri, dengan beberapa daerah di Sumatera Utara dan Jawa Tengah mengalami panic buying di SPBU.
Prof. Deendarlianto, Dewan Pengarah Pusat Studi Energi (PSE) UGM, menyatakan bahwa menipisnya cadangan BBM ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera melakukan perbaikan. Ketergantungan tinggi pada impor minyak menjadi salah satu penyebab utama. Produksi minyak mentah dalam negeri hanya sekitar 700 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional mencapai 1,5 juta barel per hari, sehingga impor minyak mentah dalam jumlah besar masih diperlukan.
Deendarlianto menambahkan bahwa ketergantungan pada impor membuat Indonesia rentan terhadap gejolak geopolitik global. Gangguan distribusi energi internasional akibat konflik, seperti perang di Iran, dapat menyebabkan keterlambatan pasokan dan kenaikan harga minyak dunia. “Kita sangat bergantung pada impor, sehingga saat terjadi konflik atau gangguan jalur distribusi, pasokan bisa terganggu dan harga minyak internasional juga ikut naik,” jelasnya.
Namun, situasi ini juga dapat menjadi peluang bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi terbarukan di Indonesia. Selama ini, pengembangan energi terbarukan terhambat oleh harga yang lebih tinggi dibandingkan minyak fosil. Deendarlianto mendorong percepatan implementasi kebijakan energi baru, seperti B40 yang 40% bahannya berasal dari minyak sawit dan E10 bioetanol dari singkong atau tebu. Implementasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor bahan bakar secara bertahap. “Ketika harga minyak dunia naik, energi terbarukan menjadi lebih kompetitif. Ini bisa menjadi peluang bagi pemerintah untuk mempercepat pengembangan biodiesel, bioetanol, maupun sumber energi alternatif lainnya,” ujarnya.
Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi momentum untuk memperkuat riset dan pengembangan energi. Deendarlianto berpendapat bahwa langkah ini dapat mempercepat transisi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan. Kolaborasi dunia pendidikan dan industri melalui riset terapan harus segera dikembangkan untuk membangun kemandirian energi bagi Indonesia. “Hilirisasi dari riset dasar menuju riset terapan, itu saatnya sekarang, terutama di energi terbarukan,” tegasnya.
Menurut Deendarlianto, keberanian politik dalam menentukan arah kebijakan energi akan menjadi faktor penentu apakah Indonesia mampu keluar dari krisis energi yang berulang. Ia menilai Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat untuk memperkuat kedaulatan di sektor energi. “Saya kira sekarang ini jadi momentum bagi dunia riset dan perguruan tinggi untuk mempercepat penelitian terapan di bidang energi terbarukan agar bisa segera diimplementasikan secara industri,” tutupnya.




















