Headline.co.id, Medan ~ Pemerintah Provinsi Aceh melalui Dinas Perhubungan (Dishub) telah menyiapkan lebih dari seribu personel dan ribuan armada transportasi untuk menghadapi arus mudik Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi peningkatan mobilitas masyarakat selama musim mudik tahun ini. Kepala Dishub Aceh, T. Faisal, menyatakan bahwa berdasarkan survei terhadap 1.092 responden, potensi pergerakan pemudik cukup tinggi.
Faisal menjelaskan bahwa Dishub Aceh telah melakukan berbagai persiapan agar arus mudik dan balik dapat berjalan aman, tertib, dan lancar. Salah satu langkah antisipasi adalah pemeriksaan kelaikan kendaraan atau ramp check terhadap angkutan umum antar kabupaten/kota dalam provinsi (AKDP). Pemeriksaan ini dilakukan selama enam hari, dari 9 hingga 14 Februari 2026, dengan total 485 unit bus diperiksa di delapan terminal. Pemeriksaan serupa juga dilakukan terhadap kapal-kapal penyeberangan yang akan beroperasi selama masa angkutan Lebaran.
Selain itu, Dishub Aceh memperkuat koordinasi lintas instansi dengan melibatkan kepolisian, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD), Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), pemerintah kabupaten/kota, serta operator transportasi darat, laut, dan udara. Sebanyak 1.128 personel akan disiagakan di berbagai titik layanan transportasi, termasuk di Posko Terpadu Kantor BPTD Kelas II Aceh, Pelabuhan Ulee Lheue, terminal tipe A, sembilan terminal tipe B, enam pelabuhan penyeberangan provinsi, dan pos pelayanan di 23 kabupaten/kota di Aceh.
Dari sisi armada, Dishub Aceh memastikan ketersediaan transportasi yang cukup untuk melayani kebutuhan pemudik. Di jalur darat, tersedia 1.949 unit bus AKDP dan 602 unit bus AKAP dengan total kapasitas sekitar 216.058 penumpang. Untuk transportasi laut, disiapkan enam kapal penyeberangan dan empat kapal cepat dengan kapasitas sekitar 88.624 penumpang. Sementara itu, transportasi udara dilayani oleh delapan maskapai yang beroperasi dari dan menuju Aceh dengan total kapasitas sekitar 63.800 penumpang selama periode angkutan Lebaran.
Berdasarkan survei Dishub Aceh, puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 14 Maret 2026 atau H-7 Lebaran serta 18 Maret 2026 atau H-3. Lonjakan perjalanan ini dipengaruhi kebijakan Work From Anywhere (WFA) pada 16–17 Maret serta rangkaian libur nasional yang berdekatan dengan Hari Nyepi. Sementara puncak arus balik diprediksi terjadi pada 24 Maret 2026 atau H+2 sebelum pergerakan kembali normal.
Mayoritas perjalanan mudik diperkirakan berasal dari Kota Banda Aceh dan sekitarnya dengan tujuan utama ke sejumlah kabupaten di wilayah pantai timur Aceh serta ke luar provinsi, khususnya Kota Medan. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, tren pergerakan penumpang terus meningkat. Pada masa Angkutan Lebaran 2025 tercatat total penumpang mencapai 198.318 orang atau naik 0,81 persen dibandingkan tahun 2024. Transportasi darat masih menjadi moda yang paling banyak digunakan dengan porsi 46,65 persen, disusul transportasi udara 33,21 persen, dan penyeberangan laut 20,15 persen.
Untuk membantu masyarakat yang ingin pulang kampung namun terkendala biaya, Pemerintah Aceh juga kembali menyediakan program mudik gratis. Tahun ini program tersebut menargetkan sekitar 2.000 pemudik melalui angkutan darat. Selain itu, Kementerian Perhubungan bersama ASDP juga menyiapkan kuota sekitar 3.000 orang untuk program mudik gratis melalui jalur laut. Program ini melayani sejumlah rute dari Banda Aceh menuju berbagai kabupaten/kota di Aceh hingga Medan, termasuk penyeberangan gratis lintasan Ulee Lheue–Balohan serta rute menuju Sinabang dan Pulau Banyak.
Faisal mengingatkan masyarakat agar mempersiapkan perjalanan dengan baik serta mengutamakan keselamatan selama mudik. “Periksa kondisi kendaraan mulai dari rem, lampu, ban, hingga kelengkapan surat-surat. Jangan memaksakan diri berkendara jika lelah dan patuhi rambu-rambu lalu lintas,” pesannya. Ia juga mengimbau pemudik untuk mewaspadai kondisi cuaca, mengingat beberapa wilayah Aceh masih berpotensi diguyur hujan. Bagi pengguna transportasi umum, masyarakat diminta memilih kendaraan resmi yang telah memenuhi standar keselamatan. “Yang paling penting, utamakan keselamatan selama perjalanan,” tegas Faisal.


















