Headline.co.id, Dusun Patoman Tengah ~ yang lebih dikenal sebagai Dusun Balian, terletak di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Dusun ini dikenal karena mayoritas penduduknya beragama Hindu dan memiliki kehidupan masyarakat yang toleran. Selain itu, Dusun Balian juga memiliki potensi seni budaya dan ekonomi kreatif yang terus berkembang.
Mengunjungi Dusun Patoman Tengah memberikan kesan seperti berada di perkampungan Bali. Rumah-rumah penduduk di sana memiliki arsitektur khas Bali, lengkap dengan pura yang berdiri di lingkungan permukiman. Kehidupan masyarakat di dusun ini ditandai dengan kerukunan dan saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial. Karena kuatnya toleransi antarumat beragama, Dusun Patoman Tengah juga dikenal sebagai Kampung Pancasila.
“Selama ini tidak pernah ada masalah. Kalau umat Hindu ada kegiatan, umat lain ikut membantu. Begitu juga sebaliknya, jadi saling mengisi,” ujar Kepala Dusun Patoman Tengah, I Gede Yuda Permana, pada Jumat (8/5/2026).
Di Dusun Balian terdapat Pura Desa yang tidak hanya digunakan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas seni dan budaya masyarakat. Anak-anak hingga remaja rutin belajar agama, tari tradisional, gamelan, dan berbagai kesenian daerah lainnya. Keberadaan pusat budaya ini dinilai penting untuk menjaga tradisi lokal sekaligus membentuk ruang kreatif bagi generasi muda di Banyuwangi.
Selain dikenal sebagai kampung seni, Dusun Balian juga memiliki pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kreatif. Salah satunya adalah usaha seni ukir kayu dan pasir milik Kayan Suartana. Kayan memulai usahanya di Banyuwangi sejak tahun 2000 sambil aktif sebagai seniman tari dan musik tradisional. Dedikasinya dalam melestarikan budaya melalui seni ukir membuatnya menerima penghargaan tali kasih dari mantan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas pada tahun 2015.
Kini, usaha Kayan berkembang dengan memproduksi berbagai kerajinan berbahan kayu dan pasir pantai. Produknya meliputi ornamen rumah hingga patung artistik yang dipasarkan ke Bali, Nganjuk, dan Jawa Tengah. Potensi ekonomi Dusun Patoman Tengah tidak hanya berasal dari sektor seni dan budaya. Warga juga mulai mengembangkan budidaya Cabe Jawa atau Cabe Puyang yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Salah satu petani, Made Ardana, mengembangkan tanaman tersebut di lahan sekitar 3.000 meter persegi dengan sekitar seribu pohon. “Perawatannya lebih simpel dibanding cabai biasa. Setelah dipanen, tinggal direbus lalu dijemur sekitar tiga hari,” katanya. Made menjelaskan, satu kilogram Cabe Jawa basah menghasilkan sekitar tiga ons setelah dikeringkan. Harga jual Cabe Jawa kering mencapai Rp85 ribu per kilogram.
Permintaan pasar terhadap Cabe Jawa disebut masih tinggi. Bahkan, hasil panen warga telah dipasarkan hingga luar negeri, seperti Jepang dan Tiongkok, untuk kebutuhan industri kosmetik. (*)




















