Headline.co.id, Jogja ~ Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan peningkatan signifikan kasus suspek campak yang mencapai 8.224 kasus 1 Januari hingga 23 Februari 2026. Dalam periode tersebut, terdapat 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak di 17 kabupaten atau kota di 11 provinsi. Dari jumlah tersebut, 13 KLB di 6 provinsi telah terkonfirmasi melalui laboratorium, dengan lima provinsi terbanyak berada di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Dr. dr. Rr. Ratni Indrawanti, Sp.A(K), dosen dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), menekankan pentingnya perhatian serius terhadap peningkatan kasus ini. Namun, ia menyatakan bahwa situasi tersebut belum tentu menjadi darurat kesehatan jika masih dapat dikendalikan dengan sistem kesehatan yang efektif.
Ratni menjelaskan bahwa suatu kondisi dapat disebut darurat kesehatan jika terjadi peningkatan kasus yang cepat dan meluas, menimbulkan dampak serius seperti kematian, dan sulit dikendalikan sehingga memerlukan respons besar dari pemerintah. Meskipun jumlah kasus saat ini tinggi, ia percaya bahwa kondisi tersebut masih bisa dikendalikan dengan surveilans yang baik, penanganan cepat, dan peningkatan cakupan vaksinasi. “Dari 8.000 kasus ini memang situasinya serius dan harus ditangani secara serius. Namun selama kasus ini dapat ditangani dengan surveilans yang baik, penanganan kasus yang cepat, serta peningkatan cakupan vaksinasi, maka masih bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan darurat kesehatan,” jelas Ratni pada Minggu (8/3).
Ratni menambahkan bahwa penurunan cakupan vaksinasi di masyarakat menjadi salah satu faktor utama peningkatan kasus campak. Faktor-faktor seperti keterbatasan akses layanan kesehatan, jarak yang jauh, dan berkurangnya kegiatan imunisasi di tingkat masyarakat turut mempengaruhi. Selain itu, penyebaran informasi keliru mengenai vaksin di media sosial juga mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
Ia menegaskan bahwa campak tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan karena dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia atau radang paru-paru hingga kematian jika tidak ditangani dengan baik. “Banyak masyarakat yang menyepelekan campak. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi seperti pneumonia bahkan menyebabkan kematian,” ujarnya.
Ratni juga menekankan pentingnya pemberian imunisasi ketika anak dalam kondisi sehat. Penundaan vaksinasi dapat meningkatkan risiko penularan karena anak yang belum memiliki antibodi dapat menularkan virus kepada orang lain di sekitarnya. “Jika vaksin ditunda, anak tidak memiliki antibodi dan berpotensi menularkan virus kepada orang di sekitarnya. Penundaan ini bukan hanya meningkatkan risiko, tetapi juga dapat memicu penularan yang lebih luas hingga menimbulkan kejadian luar biasa (KLB),” jelasnya.
Campak merupakan penyakit yang sangat mudah menular karena virusnya dapat menyebar melalui udara atau droplet. Dalam kondisi tertentu, satu orang yang terinfeksi dapat menularkan penyakit kepada banyak orang di sekitarnya. Ratni menjelaskan bahwa satu anak yang terkena campak berpotensi menularkan virus tersebut kepada hingga 18 orang lainnya. Hal ini disebabkan virus campak dapat bertahan di udara, terutama di ruangan tertutup, hingga sekitar dua jam setelah penderita berada di lokasi tersebut. “Penularannya sangat cepat karena virus campak menyebar melalui udara. Dalam ruangan tertutup, virus ini bisa bertahan hingga dua jam dan berisiko menularkan kepada orang lain yang berada di sekitar,” ungkapnya.
Sebagian besar kasus campak di Indonesia ditemukan di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari banyak pulau kecil juga menjadi tantangan dalam distribusi vaksin serta penyebaran informasi kesehatan kepada masyarakat.
Ratni menilai bahwa munculnya kasus campak pada pelancong tidak serta-merta mencerminkan buruknya citra kesehatan suatu negara. Menurutnya, reputasi sistem kesehatan suatu negara ditentukan oleh kemampuan dalam memprediksi dan mengendalikan wabah penyakit. “Citra sistem kesehatan suatu negara tidak ditentukan dari ada atau tidaknya penyakit, tetapi dari kemampuan negara tersebut memprediksi dan mengendalikan wabah,” jelas Ratni.
Ratni juga mengingatkan bahwa jika tren penurunan imunisasi terus berlanjut, dampaknya dapat sangat serius bagi kesehatan masyarakat. Selain meningkatkan jumlah anak yang tidak memiliki kekebalan, kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan lebih banyak wabah serta meningkatkan angka kematian pada anak.
Selain itu, campak dapat menimbulkan berbagai komplikasi jangka panjang seperti radang otak, kejang, hingga pneumonia yang dapat menurunkan kualitas kesehatan generasi mendatang. Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi berat adalah bayi, anak dengan gizi buruk, serta anak yang tidak mendapatkan vaksinasi. “Lalu, ada yang dinamakan gejala sisa, gejala sisa itu dapat menimbulkan radang otak, kejang, pneumonia, jadi ada penurunan kualitas generasi,” terangnya.
Ia juga menjelaskan bahwa setelah sembuh dari campak, seseorang dapat mengalami kondisi yang dikenal sebagai immune amnesia, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh “melupakan” sebagian perlindungan terhadap penyakit yang sebelumnya pernah dilawan oleh tubuh. Akibatnya, seseorang menjadi lebih rentan terhadap infeksi lain.
Untuk mencegah penularan, Ratni menegaskan pentingnya mengikuti jadwal imunisasi campak yang diberikan dalam beberapa tahap, yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun. Pengulangan ini diperlukan karena virus dalam vaksin memiliki kekuatan yang lebih lemah dibandingkan virus campak liar sehingga perlu diberikan beberapa kali agar kekebalan tubuh terbentuk secara optimal.
Selain imunisasi, Ratni juga mengingatkan pentingnya upaya pencegahan sederhana di masyarakat, seperti menggunakan masker saat mengalami batuk dan pilek, mencuci tangan secara rutin, serta meningkatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat. “Kita harus bersama-sama sadar. Jika sedang batuk dan pilek sebaiknya menggunakan masker, mencuci tangan, mengingatkan anak dan cucu untuk vaksin, menjaga daya tahan tubuh, serta memberikan edukasi yang benar kepada masyarakat,” pungkasnya.





















