Headline.co.id, Jogja ~ Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) tetap menjadi magnet bagi ribuan orang yang ingin menikmati buka puasa gratis selama bulan Ramadan. Setiap sore, area parkir di sisi timur dan utara masjid dipenuhi deretan kendaraan roda dua. Di dalam masjid, pengunjung duduk rapi memenuhi ruang utama, menunggu waktu berbuka.
Di bawah kubah masjid, waktu menunggu berbuka menjadi momen berharga. Suasana diisi dengan canda tawa, aktivitas mengetik di laptop, dan lantunan ayat suci Al-Quran. Kajian Safari Ilmu di Bulan Ramadan (Samudra) kembali digelar, menawarkan diskusi yang relevan dengan konteks kekinian dan dunia akademis. Kajian ini mengubah waktu menunggu menjadi perjalanan spiritual yang bermanfaat.
Rasenevan, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM, menyatakan bahwa daya tarik berbuka di Masjid Kampus UGM terletak pada topik kajiannya. “Saya ikut kajian sore ini karena topiknya menarik. Diskusi yang tercipta selalu membuat saya merefleksikan berbagai hal di luar materi perkuliahan,” ujarnya pada Jumat sore (27/2).
Antusiasme tidak hanya datang dari civitas akademika, tetapi juga dari warga sekitar dan mahasiswa dari berbagai kampus di Yogyakarta. Panitia menyediakan 1.500 paket nasi kotak setiap hari untuk berbuka puasa. Jumlah ini memastikan semangat berbagi menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang hadir.
Ade, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mengisahkan pengalamannya berbuka di Masjid Kampus UGM. Ia merasa kompleks masjid yang luas dan asri sangat ideal untuk berkumpul dengan teman-teman. “Sepulang kelas, saya dan beberapa teman memilih Masjid Kampus UGM sebagai tempat berbuka. Selain dekat, tempatnya luas sehingga nyaman untuk ngobrol sambil menunggu adzan magrib,” ungkapnya.
Ade juga menyebutkan bahwa pada hari Jumat itu, ia berhasil mendapatkan jatah buka puasa gratis, setelah sebelumnya tidak kebagian karena kupon habis. Tingginya animo jemaah menjadi tantangan tersendiri bagi aspek kebersihan. Panitia Ramadhan di Kampus (RDK) konsisten menjalankan misi kampus hijau dengan pengelolaan limbah yang ketat.
Panitia membagi tempat khusus untuk sampah kardus, sendok, mika, hingga sisa makanan. “Kami menyiapkan tim yang terdiri atas beberapa divisi untuk melakukan pemilahan. Kurang lebih terdapat delapan pos untuk meminimalisasi antrian,” jelas Harris, salah satu panitia RDK, Selasa (3/3).
Harris, Koordinator Divisi Konsumsi, menjelaskan bahwa setiap hari divisinya dipecah menjadi tiga: sahur, buka bersama, dan VIP. “Total ada puluhan panitia yang bergerak setiap hari. Untuk buka bersama saja, kami mengerahkan 25 orang,” jelasnya.
Keragaman menu juga menjadi daya tarik. Setiap hari, sajian di Masjid Kampus UGM selalu berganti, mulai dari hidangan nusantara hingga menu yang akrab di lidah. “Vendor harus sudah mengantongi sertifikasi halal resmi dari pemerintah,” tambah Harris.
Selama bulan Ramadhan 1447 H, Masjid Kampus UGM menyediakan 36.100 porsi buka puasa dan 8.500 porsi sahur. Dimas, Koordinator Divisi Fundraising, menyatakan bahwa panitia berikhtiar memenuhi anggaran sebesar Rp 934.500.000,00. “Sumber pendanaan kami berasal dari donasi, sponsorship, dan dana rektorat,” jelasnya.
Untuk menjaga integritas dan kepercayaan publik, panitia dan takmir Maskam memusatkan seluruh aliran dana melalui satu jalur resmi. “Kanal donasi kami buka melalui satu pintu, yakni rekening Masjid Kampus UGM dengan kode 147,” jelas Dimas.






















