Headline.co.id, Jakarta ~ Sebanyak 1.620 mahasiswa diterjunkan ke Kabupaten Aceh Tamiang sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana di Sumatra. Program ini merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat dalam Pemulihan Dampak Bencana di Sumatra Tahun 2026, yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Tujuan dari program ini adalah untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat terdampak bencana.
Program Mahasiswa Berdampak 2026 melibatkan total 10.090 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Mereka ditempatkan di 167 desa dan kelurahan di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat selama satu bulan. Di Provinsi Aceh sendiri, 5.040 mahasiswa diterjunkan melalui 102 proposal yang didanai dari 36 perguruan tinggi. Di Kabupaten Aceh Tamiang, kegiatan ini dilaksanakan melalui 33 proposal dari 13 perguruan tinggi dengan fokus pada percepatan pemulihan sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat.
Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, I Ketut Adnyana, menegaskan bahwa program ini merupakan upaya untuk menjadikan pendidikan tinggi lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. “Kehadiran mahasiswa diharapkan memberi semangat dan optimisme bagi masyarakat untuk bangkit dari cobaan. Ini adalah bentuk nyata pendidikan tinggi yang berdampak, melalui pemanfaatan potensi lokal dan teknologi yang dimiliki,” ujar Ketut dalam keterangan tertulis yang diterima , Kamis (26/2/2026).
Program ini berfokus pada pemberdayaan ekonomi berbasis kebutuhan lokal, seperti pengembangan agroindustri dan pertanian hidroponik. Selain itu, mahasiswa juga terlibat dalam penyediaan air bersih, perbaikan sanitasi, penguatan ketahanan pangan, dukungan sektor pendidikan dan kesehatan, serta rehabilitasi lingkungan. Seluruh kegiatan dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan mahasiswa, dosen pendamping, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat untuk memastikan keberlanjutan hasil program.
Kepala Desa Kampung Dalam, Sukriya Sidiqi, menyatakan bahwa kehadiran mahasiswa sangat membantu dalam mengatasi tantangan desa, terutama dalam penguatan ekonomi produktif dan akses sanitasi. “Kami mengucapkan apresiasi kepada para mahasiswa yang telah hadir di Kampung Dalam. Program ini sangat bermanfaat dan diharapkan dapat terus berlanjut agar manfaatnya semakin luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Program ini tidak hanya memberikan dampak langsung bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa dalam mengasah kepemimpinan, empati sosial, dan kemampuan pemecahan masalah di lapangan. Dosen Pembimbing Utama Mahasiswa Berdampak sekaligus Kepala Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Medan, Supriyanto, menilai bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam program ini menunjukkan peran strategis kampus sebagai mitra pembangunan masyarakat. “Perguruan tinggi tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga hadir sebagai mitra strategis dalam pemulihan dan pemberdayaan masyarakat terdampak bencana,” katanya.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026, Kemdiktisaintek menegaskan komitmen untuk membangun kolaborasi berkelanjutan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat, serta memperkuat ketahanan desa dalam menghadapi risiko bencana di masa depan.





















