Headline.co.id, Jakarta ~ Transformasi digital dalam pendidikan anak usia dini kini semakin terasa di wilayah timur Indonesia. Penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) di Kabupaten Keerom, Papua, dan Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, telah menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif, kontekstual, dan menyenangkan bagi murid PAUD/TK.
Di TK Pembangunan Yapis, Kabupaten Keerom, ruang kelas yang sebelumnya menggunakan papan tulis konvensional kini berubah menjadi ruang eksplorasi digital. Layar sentuh berukuran besar memungkinkan anak-anak mengenal bentuk, warna, dan objek pembelajaran melalui sentuhan langsung. Proses belajar yang sebelumnya satu arah kini menjadi lebih partisipatif.
Kepala TK Pembangunan Yapis, Winarsih, menyatakan bahwa kehadiran IFP merupakan lompatan signifikan bagi pendidikan anak usia dini di wilayah perbatasan. Murid diberi kesempatan untuk mencoba, memilih, dan bereksperimen secara mandiri dengan materi yang ditampilkan di layar interaktif. “Anak-anak lebih antusias. Mereka menggambar, mewarnai, dan mengenali objek secara langsung. Pembelajaran menjadi pengalaman, bukan sekadar penjelasan,” ujar Winarsih dalam keterangan tertulis yang diterima , Rabu (25/2/2026).
Praktik serupa juga diterapkan di PAUD/TK Negeri Pembina, Kabupaten Teluk Bintuni. Ketika gambar burung cenderawasih muncul di layar digital, kelas dipenuhi rasa ingin tahu dan diskusi spontan. Bagi murid di wilayah 3T, perangkat ini bukan hanya sekadar teknologi, melainkan simbol kesempatan belajar yang setara dengan sekolah di kota besar.
Penguatan digitalisasi PAUD merupakan bagian dari kebijakan nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Data Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah mencatat bahwa realisasi pengiriman IFP untuk jenjang PAUD telah mencapai 64.190 unit atau 100 persen dari alokasi kepada 63.842 satuan pendidikan. Sebanyak 349 satuan PAUD di wilayah terdampak bencana juga menerima IFP, dan pemenuhan lanjutan direncanakan pada 2026 guna memastikan keberlanjutan layanan pendidikan.
Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa transformasi digital tidak berhenti pada distribusi perangkat. Ke depan, penguatan infrastruktur listrik, konektivitas internet, serta pendampingan guru akan terus diperluas agar pemanfaatan IFP berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak satuan pendidikan, termasuk di daerah terdampak bencana. “Dengan komitmen bersama satuan pendidikan, dinas pendidikan, dan Kemendikdasmen, IFP di ruang kelas PAUD bukan hanya menghadirkan gambar di layar, tetapi membangun harapan bahwa jarak geografis tidak lagi menjadi penghalang bagi lahirnya generasi Indonesia yang cerdas dan percaya diri,” ujar Gogot.
Lebih dari sekadar alat bantu visual, IFP menjadi sarana penanaman literasi digital sejak dini. Anak-anak dibiasakan berinteraksi dengan teknologi secara positif, terarah, dan didampingi guru. Perangkat digital berfungsi sebagai media pembelajaran, bukan sekadar hiburan.
Praktik baik di Keerom dan Teluk Bintuni menunjukkan bahwa transformasi pendidikan bukan hanya soal kecanggihan perangkat, tetapi tentang kesiapan guru beradaptasi dan keberanian sekolah memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Di tengah keterbatasan infrastruktur, langkah ini menegaskan komitmen pemerintah menghadirkan pendidikan berkualitas dan setara hingga pelosok negeri, memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan belajar yang sama tanpa dibatasi jarak dan kondisi geografis.





















