Headline.co.id, Jakarta ~ Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya mendorong pertumbuhan industri manufaktur sebagai penggerak utama ekonomi nasional dengan menyediakan lapangan kerja yang berkelanjutan. Selain fokus pada kuantitas, Kemenperin juga menekankan pentingnya inklusivitas, termasuk memberikan kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas agar dapat berperan aktif dalam pembangunan industri nasional.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan sektor industri manufaktur harus sejalan dengan prinsip keadilan sosial dan inklusivitas. “Kementerian Perindustrian berkomitmen memastikan pembangunan industri membuka ruang partisipasi setara bagi penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat berkontribusi secara produktif dan mandiri dalam ekosistem industri nasional,” ujar Agus pada Senin (2/2/2026).
Sebagai bagian dari komitmen ini, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) bekerja sama dengan startup Top Loker (TopLoker.com) mengadakan acara “Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas” di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang pada 28 Januari 2026. Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menyatakan bahwa kegiatan ini adalah bentuk kolaborasi nyata pemerintah dan dunia usaha untuk memperluas akses kerja inklusif bagi penyandang disabilitas di sektor industri strategis.
“Kami bersama startup Top Loker menginisiasi kegiatan ini sebagai wadah yang membuka kesempatan dan peluang bagi teman-teman disabilitas untuk dapat berkarya dan berpartisipasi di sektor industri,” jelas Reni. Hingga Agustus 2025, Kemenperin mencatat jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur mencapai 20,26 juta orang, atau sekitar 13,83 persen dari total tenaga kerja nasional. Dengan prinsip inklusivitas, sektor manufaktur diharapkan dapat melibatkan lebih banyak tenaga kerja penyandang disabilitas.
Namun, Reni mengakui bahwa penyandang disabilitas masih menghadapi tantangan dalam mengakses sektor manufaktur, seperti keterbatasan informasi pekerjaan, kesenjangan kompetensi, minimnya jejaring kemitraan formal, serta lingkungan kerja yang belum sepenuhnya inklusif. “Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan serapan tenaga kerja penyandang disabilitas di sektor industri sekaligus membuka akses kerja sama Sekolah Luar Biasa dengan industri manufaktur,” tambah Reni.
Sebanyak 45 siswa disabilitas kelas XII SLB dari delapan kabupaten/kota di Jawa Tengah berkesempatan bertemu langsung dengan 24 perusahaan manufaktur dari sektor industri agro, elektronik, tekstil dan produk tekstil, serta industri aneka di wilayah Jawa Tengah. “Perusahaan manufaktur akan berdiskusi langsung dan menjalin komunikasi berkelanjutan dengan kelompok disabilitas yang didampingi oleh SLB Negeri Semarang dan Top Loker,” tambah Reni.
Dirjen IKMA menegaskan bahwa sektor manufaktur membutuhkan sikap kerja yang tekun, teliti, konsisten, dan loyal, yang sering kali menjadi keunggulan dari penyandang disabilitas. Menurutnya, inklusivitas di sektor industri bukan hanya pemenuhan regulasi, melainkan juga investasi sumber daya manusia yang bernilai bagi produktivitas dan keberlanjutan industri.
Sebagai Juara 1 Program Startup for Industry Kemenperin Tahun 2022, Top Loker menghadirkan platform khusus yang dirancang untuk menjembatani penyandang disabilitas dengan peluang kerja di sektor manufaktur. “Kami ingin semakin banyak pelaku industri yang peduli dan membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk bekerja dan berkembang,” ujar CEO Top Loker Josep Teguh Santoso, yang juga Rektor Universitas Stekom Semarang.
Program Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas ini juga didukung oleh SLB Negeri Semarang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, serta Universitas Stekom, guna memastikan keberlanjutan kolaborasi dunia pendidikan dan industri.





















