Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan keyakinannya bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan mengalami pemulihan pada pekan depan setelah mengalami tekanan akibat sentimen negatif di pasar. Purbaya menjelaskan bahwa penurunan IHSG saat ini lebih disebabkan oleh faktor kejutan (shock) dan isu transparansi yang berkembang, bukan karena lemahnya fundamental ekonomi nasional.
“Ini kan memang shock. Besok akan flat, besoknya lagi. Minggu depan lah, Anda akan lihat minggu depan akan balik. Karena fondasi ekonomi betul-betul kita perbaiki dengan serius,” ujar Purbaya di Jakarta, Kamis (29/1/2026). Ia menegaskan bahwa dirinya tidak terlalu fokus pada pergerakan indeks, namun pemberitaan negatif dinilai memengaruhi persepsi pasar, terutama terkait anggapan kurangnya transparansi.
Purbaya juga menyoroti struktur pasar saham domestik yang dinilai masih rentan terhadap praktik spekulasi. Menurutnya, porsi saham yang beredar di publik (free float) masih belum cukup besar sehingga harga saham mudah dimainkan oleh pihak-pihak tertentu. “Floating-nya nggak cukup besar sehingga bisa dipermainkan harganya seperti itu. Banyak penggoreng-penggoreng di pasar saham yang bebas berkeliaran. Penggoreng ini untungnya banyak, sementara investor kecil mungkin sebagian dirugikan,” jelasnya.
Terkait pengawasan pasar, Purbaya menyatakan telah meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk berkoordinasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) guna mempercepat langkah-langkah penguatan regulasi dan pengawasan. “Saya sudah minta ke OJK, teman koordinasi dengan BEI. Dia akan memang percepat itu. Sekarang Januari, kalau sampai akhir Maret nggak jalan, saya akan ke sana sebagai Ketua KSSK,” tegasnya. Meski demikian, Purbaya mengatakan pemerintah tetap memberi ruang kepada BEI untuk bekerja terlebih dahulu sebelum dilakukan langkah lanjutan.
Pada Rabu (28/1/2026), pasar saham Indonesia mengalami tekanan setelah Morgan Stanley Capital International atau MSCI mengeluarkan pengumuman terbaru mereka. Laporan MSCI terbaru menyebutkan bahwa pasar saham Indonesia dinilai tidak transparan dalam hal kepemilikan saham. Selain itu, MSCI menilai banyak saham-saham gorengan di pasar saham Indonesia.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani, yang juga menjabat sebagai CEO Danantara, menilai laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap saham-saham Indonesia harus segera ditindaklanjuti oleh otoritas terkait, mengingat penilaian MSCI menjadi acuan bagi investor-investor dunia. Sejumlah analis meyakini pengumuman yang dibuat MSCI terhadap saham-saham Indonesia itu memicu anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia, Rabu (28/1/2026), yang dibuka dan ditutup melemah 659,67 poin atau 7,35 persen ke posisi 8.320,55.
Rosan menilai fundamental perusahaan-perusahaan di Indonesia relatif masih kuat terlepas dari anjloknya IHSG hari ini.



















