Headline.co.id, Jakarta ~ Menteri Agama Nasaruddin Umar merilis buku “Istiqlal untuk Dunia: Manifesto Perdamaian dari Indonesia” hari ini di Jakarta. Buku tersebut memaparkan praktik pengelolaan Masjid Istiqlal sebagai rumah ibadah sekaligus pusat dialog lintas agama, persaudaraan kemanusiaan, dan perdamaian global. Penerbitan buku ini diarahkan untuk memperkenalkan pemberdayaan umat, diplomasi perdamaian, serta pengelolaan masjid yang ramah lingkungan. Gagasan itu diwujudkan melalui penguatan diplomasi keagamaan, jejaring imam besar dunia, Terowongan Silaturahim, dan sertifikasi bangunan hijau Masjid Istiqlal.
Buku “Istiqlal untuk Dunia” ditulis Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Farid F. Saenong dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Muhammad Aras Prabowo.
Peluncuran buku tersebut dihadiri Plt. Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Joneri Alimin, Director of Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam, serta Koordinator Divisi Umum dan Akademik Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) Karim Bakri. Jajaran pengurus Badan Pengelola Masjid Istiqlal juga menghadiri kegiatan tersebut.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Masjid Istiqlal sebagai rumah besar kemanusiaan
Nasaruddin mengatakan Masjid Istiqlal telah bertransformasi menjadi “The Big House for Humanity” atau rumah besar kemanusiaan. Menurut dia, perubahan tersebut menempatkan Masjid Istiqlal tidak hanya sebagai tempat ibadah ritual, tetapi juga ruang terbuka untuk membangun dialog kemanusiaan lintas iman.
Ruang dialog itu, menurut Nasaruddin, terbuka bagi masyarakat tanpa membedakan latar belakang agama maupun etnik. Dengan peran tersebut, Masjid Istiqlal dipaparkan sebagai salah satu contoh pengelolaan masjid yang memperluas fungsi rumah ibadah ke bidang keumatan dan kemanusiaan.
“Kita menggagas bagaimana masjid ke depan bukan saja tempat sujud, tetapi juga tempat untuk menyelesaikan persoalan-persoalan keumatan dan kemanusiaan,” ujar Menag.
Gagasan itu menjadi bagian penting dalam buku “Istiqlal untuk Dunia”. Buku tersebut merekam praktik baik pengelolaan Masjid Istiqlal, termasuk perannya dalam membangun persaudaraan kemanusiaan dan mendorong perdamaian global.
Diplomasi keagamaan dan jejaring imam besar
Dalam peluncuran buku, Nasaruddin juga memaparkan tindak lanjut konkret Deklarasi Istiqlal di tingkat internasional. Dua agenda utama yang dibahas dalam forum lintas agama di Vatikan adalah penguatan diplomasi keagamaan atau religious diplomacy dan gerakan pelestarian lingkungan melalui ekoteologi.
Pada bidang diplomasi, pendekatan hati nurani dan nilai spiritual atau spiritual diplomacy dihadirkan untuk melengkapi diplomasi formal. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu meredam ketegangan global dengan mengedepankan nilai kemanusiaan.
Nasaruddin merujuk pada ajaran Al-Qur’an yang menyatakan bahwa menyelamatkan satu nyawa manusia setara dengan menyelamatkan seluruh umat manusia. Nilai tersebut menjadi landasan dalam gagasan diplomasi kemanusiaan yang dikembangkan melalui Masjid Istiqlal.
Jejaring perdamaian itu diperkuat melalui penyelenggaraan International Conference for Grand Imam. Konferensi tersebut diikuti delegasi dari 49 negara. Selain itu, dibentuk pula asosiasi imam besar dunia bernama International Grand Imam Association.
Peran Masjid Istiqlal dalam merawat harmoni lintas iman juga ditopang oleh kehadiran Terowongan Silaturahim atau Friendship Tunnel. Fasilitas tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan dan dialog antarumat beragama.
Masjid ramah lingkungan melalui ekoteologi
Selain diplomasi kemanusiaan, Nasaruddin menyoroti pentingnya dakwah ekoteologi oleh umat beragama. Gagasan ini dikaitkan dengan upaya merespons perubahan iklim atau climate change yang berdampak besar terhadap keselamatan manusia.
Menurut materi yang dipaparkan dalam peluncuran buku, komitmen terhadap pengelolaan rumah ibadah yang ramah lingkungan telah diwujudkan Masjid Istiqlal. Masjid tersebut meraih sertifikasi bangunan hijau Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE) dari International Finance Corporation (IFC) di bawah naungan Bank Dunia.
Sertifikasi EDGE menjadi bagian dari praktik pengelolaan Masjid Istiqlal yang diangkat dalam buku “Istiqlal untuk Dunia”. Selain menampilkan fungsi masjid sebagai ruang ibadah dan dialog, buku tersebut memperlihatkan perhatian terhadap isu lingkungan dalam pengelolaan rumah ibadah.
Rujukan bagi pengelolaan masjid
Nasaruddin berharap penerbitan buku “Istiqlal untuk Dunia” dapat memperluas pemanfaatan praktik yang dikembangkan dari Masjid Istiqlal. Praktik tersebut mencakup pemberdayaan umat, diplomasi perdamaian, dialog lintas iman, serta pengelolaan masjid yang memperhatikan lingkungan.
Ia berharap pengalaman Masjid Istiqlal dapat menjadi salah satu rujukan bagi pengelolaan masjid di berbagai tempat. Dengan demikian, masjid tidak hanya diposisikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang untuk menyelesaikan persoalan keumatan dan kemanusiaan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















