Headline.co.id, Tangerang ~ Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperkuat program revitalisasi 836 sekolah luar biasa (SLB) pada 2026. Program tersebut ditujukan untuk meningkatkan keamanan bangunan, aksesibilitas, serta fasilitas pembelajaran dan pendampingan bagi murid penyandang disabilitas di berbagai daerah. Penguatan program dibahas dalam kegiatan finalisasi desain teknis pembangunan dan bimbingan teknis yang dibuka Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti di Tangerang, Banten, Selasa (3/11/2026). Revitalisasi dilakukan melalui perencanaan sesuai kondisi bangunan dan kebutuhan peserta didik di masing-masing sekolah.
Revitalisasi 836 SLB tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki gedung yang rusak. Kemendikdasmen menekankan pentingnya ruang belajar yang aman, nyaman, mudah diakses, dan mampu mendukung perkembangan serta kemandirian murid.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak, termasuk anak penyandang disabilitas. Menurut dia, pembangunan dan perbaikan sarana pendidikan harus mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, bukan semata-mata kondisi fisik bangunan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
“Revitalisasi ini bukan tujuan, tetapi sarana untuk menghadirkan gedung sekolah yang representatif dan pendidikan yang unggul,” ujar Mu’ti saat membuka kegiatan tersebut di Tangerang.
Kebutuhan Sarana SLB Berbeda
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan kebutuhan perbaikan sarana pendidikan di Indonesia masih besar. Berdasarkan data yang disampaikannya, lebih dari 900 ribu ruang kelas mengalami kerusakan sedang dan berat sehingga membutuhkan penanganan.
Tatang mengatakan angka tersebut berkaitan dengan jutaan anak yang membutuhkan ruang belajar aman dan layak, termasuk peserta didik di SLB. Tantangan revitalisasi tidak berhenti pada memastikan bangunan dapat digunakan, tetapi juga menyediakan lingkungan belajar yang mendukung kebutuhan pendidikan setiap anak.
“Di balik angka-angka tersebut ada jutaan anak yang menanti ruang belajar yang aman, nyaman, sekaligus layak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus di SLB,” kata Tatang.
Kebutuhan tiap sekolah dalam program revitalisasi berbeda-beda. Pelaksana Tugas Kepala SLBN Surade Rhadeya Phawitra mengatakan sekolahnya membutuhkan ruang serbaguna, ruang usaha kesehatan sekolah (UKS), dan ruang keterampilan.
Bangunan sekolah yang sudah tua dan atap yang bermasalah menjadi kendala di SLBN Surade. Selain itu, instalasi listrik yang tidak stabil berpotensi mengganggu penggunaan perangkat elektronik, termasuk Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP).
Aksesibilitas juga menjadi bagian penting dalam perencanaan. Jalur yang sulit dilalui dapat membatasi mobilitas peserta didik dengan hambatan motorik. Sebaliknya, fasilitas yang ramah pengguna kursi roda dapat mendukung murid untuk mengikuti kegiatan di luar kelas dan berinteraksi dengan teman secara lebih mandiri.
Ruang Terapi Dibutuhkan untuk Pendampingan
Kebutuhan fasilitas khusus juga disampaikan SKH Melati Ceria Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Kepala sekolahnya, Rina Hadiastuti, mengatakan sekolah membutuhkan ruang bina wicara dan okupasi untuk menunjang pendampingan peserta didik.
Selama ini, layanan tersebut dilakukan di rumah milik orang tua murid yang dipinjamkan kepada sekolah. Lokasi rumah itu cukup jauh dari sekolah, sedangkan ruangan yang digunakan belum memiliki sekat untuk memisahkan kegiatan.
Menurut Rina, kondisi tersebut dapat memengaruhi konsentrasi anak saat mengikuti pembelajaran. Ia menceritakan pengalaman dua guru yang mendampingi dua peserta didik autistik dalam satu ruangan.
Ketika seorang guru memberikan instruksi “tutup”, guru lainnya menyampaikan instruksi “buka” pada waktu yang bersamaan. Situasi itu membuat murid kebingungan.
Pengalaman tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap ruang pendampingan yang tenang dan tertata. Ruang terapi dan fasilitas khusus bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari lingkungan belajar yang membantu guru memberikan layanan sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Pengelolaan Bantuan dan Pengawasan
Program revitalisasi SLB merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto dan pelaksanaan Asta Cita keempat. Bantuan disalurkan langsung ke rekening sekolah dan dikelola melalui mekanisme swakelola.
Melalui skema tersebut, sekolah bertanggung jawab melaksanakan pekerjaan sesuai rencana. Mekanisme ini juga membuka ruang keterlibatan masyarakat serta pemanfaatan bahan bangunan dari lingkungan sekitar.
Tatang mengingatkan kepala sekolah agar menggunakan bantuan sesuai kebutuhan dan perencanaan yang telah disusun. Ia meminta kepala sekolah tidak memenuhi permintaan yang menyimpang dari peruntukan bantuan.
Pengawasan program melibatkan Kejaksaan Agung dan Kementerian Keuangan, termasuk dalam hal kepatuhan terhadap ketentuan perpajakan. Pengawasan dilakukan untuk memastikan bantuan digunakan sesuai tujuan dan menghasilkan fasilitas yang dibutuhkan murid.
Finalisasi desain teknis atau detailed engineering design (DED) dan bimbingan teknis dilaksanakan dalam dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung pada 29 Oktober–1 November 2026, sedangkan gelombang kedua digelar pada 2–5 November 2026.
Pada gelombang kedua, kegiatan diikuti 315 peserta yang terdiri atas 133 kepala sekolah, 133 tenaga perencana, serta 49 panitia dan pendamping.
Kemendikdasmen menekankan bahwa keberhasilan revitalisasi tidak cukup diukur dari selesainya pembangunan atau perbaikan gedung. Fasilitas yang dibangun harus benar-benar berfungsi dan menjawab kebutuhan peserta didik.
Ruang terapi, ruang keterampilan, jalur yang aksesibel, serta bangunan yang aman diharapkan dapat memperkuat layanan pendidikan yang lebih setara bagi murid penyandang disabilitas.
“Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, sekolah yang layak bukan sekadar fasilitas. Sekolah adalah ruang untuk merasa aman, dihargai, diterima, dan diberi kesempatan yang sama untuk berkembang,” ujar Tatang.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















