Headline.co.id, Denpasar ~ Penguatan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi Umum (PTU) harus dilakukan melalui pendekatan menyeluruh yang melibatkan seluruh ekosistem kampus. Hal itu disampaikan Alissa Wahid dalam Simposium Pendidikan Agama Islam pada Perguruan Tinggi Umum di Denpasar, Bali, Rabu (4/11/2026). Menurut Alissa, penguatan PAI diperlukan agar pembelajaran agama mampu menjawab tantangan kehidupan mahasiswa dan perkembangan masyarakat, melalui pembenahan kurikulum, peningkatan kapasitas dosen, dukungan kebijakan perguruan tinggi, serta kolaborasi berbagai pihak.
Alissa menilai penguatan PAI di PTU tidak cukup hanya mengandalkan dosen pengampu mata kuliah agama. Ekosistem pendidikan agama juga mencakup mahasiswa, keluarga, teman sebaya, fakultas, media sosial, akademisi, masyarakat sipil, serta kebijakan dan program pemerintah.
Ia mengidentifikasi sejumlah tantangan dalam penyelenggaraan PAI di PTU. Tantangan tersebut meliputi kurangnya keselarasan penyampaian nilai kebangsaan melalui pembelajaran agama, relevansi materi dengan isu kontemporer, radikalisme dan intoleransi, serta kapasitas dosen PAI.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Selain itu, terdapat tantangan dalam menghubungkan pemahaman keagamaan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kreativitas, dan kebutuhan masyarakat modern.
Enam strategi pengembangan ekosistem PAI
Menurut Alissa, pengembangan PAI perlu memperhatikan berbagai lingkungan yang memengaruhi perkembangan keberagamaan mahasiswa. Pendekatan ini merujuk pada teori sistem ekologis Bronfenbrenner yang memandang individu sebagai bagian dari lingkungan sosial yang saling berhubungan.
Dalam pemaparannya, Alissa menyampaikan enam strategi untuk mengembangkan ekosistem PAI di perguruan tinggi. Strategi tersebut mencakup redesigning kurikulum, pengembangan metodologi pembelajaran, peningkatan kapasitas dosen PAI, penguatan dukungan PTU, kerja sama multipihak, penguatan tata kelola, dan pelibatan pembelajar.
Ia juga menempatkan moderasi beragama sebagai fondasi penting dalam pengembangan ekosistem PAI. Moderasi beragama dijelaskan sebagai cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan melindungi martabat kemanusiaan serta membangun kemaslahatan umum.
Alissa menegaskan pentingnya praktik keberagamaan yang berlandaskan keadilan, keseimbangan, dan kepatuhan terhadap konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa. Prinsip tersebut dinilai penting di tengah tantangan intoleransi dan berkembangnya pemahaman keagamaan yang eksklusif.
Alissa membedakan dua arus paradigma keberagamaan, yakni praktik beragama yang substantif-inklusif dan praktik beragama yang eksklusif-legal formalistik. Ia mengingatkan, sikap eksklusivitas dapat berkembang menjadi intoleransi, diskriminasi, dan pandangan superioritas apabila tidak dikelola melalui pemahaman keagamaan yang moderat.
Pendekatan sistemik untuk mencegah intoleransi
Dalam menjelaskan penguatan moderasi beragama, Alissa menggunakan The Iceberg Model. Model ini melihat persoalan sosial tidak hanya dari peristiwa yang tampak, tetapi juga dari pola perilaku, struktur dan sistem sosial, serta model mental atau paradigma yang mendasarinya.
Dalam materi presentasinya, Alissa menyatakan, “semakin dalam lapisan yang kita analisis dan kemudian kita intervensi, semakin besar leverage (daya ungkit) terhadap perubahan struktural dan sistemik, yang berujung pada perubahan fenomena yang berkelanjutan.”
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penguatan moderasi beragama tidak cukup dilakukan dengan menangani perilaku intoleran yang muncul di permukaan. Perguruan tinggi juga perlu memperhatikan pola pembelajaran, lingkungan sosial, sistem kelembagaan, dan cara pandang yang memengaruhi perilaku mahasiswa.
Alissa juga menyoroti tiga kesenjangan yang perlu dikelola pendidik dan fasilitator, yaitu mindset gap, communication gap, dan knowing-doing gap. Ketiganya berkaitan dengan pola pikir, kemampuan membangun komunikasi, serta kesenjangan pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mendorong perubahan dari pola pikir linear menuju pemikiran sistemik dan dari pendekatan reaktif menuju kreatif. Alissa juga mengajak perguruan tinggi mengubah budaya debat menjadi dialog.
Dalam materi presentasinya, ia menekankan pergeseran pola komunikasi “dari debate menjadi dialogue” dan “dari a focus on talking menjadi a focus on listening.”
Visi dan gerakan bersama
Menurut Alissa, proses pendidikan perlu memberi ruang bagi mahasiswa untuk mendengarkan, berdialog, merefleksikan pengetahuan, dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Dengan cara itu, pembelajaran PAI tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga pembentukan sikap dan tindakan.
Ia menekankan bahwa perubahan ekosistem PAI membutuhkan visi yang jelas dan disepakati bersama, kapasitas untuk melakukan perubahan, serta langkah awal yang dapat diterapkan.
Ketiga unsur tersebut, kata Alissa, penting untuk mendorong perubahan berkelanjutan dan harus berjalan beriringan. Visi tanpa kapasitas akan sulit diwujudkan, sedangkan kapasitas tanpa langkah konkret berisiko tidak menghasilkan perubahan.
Selain itu, Alissa menempatkan kapasitas, gerakan bersama, agenda gerakan, dan misi bersama sebagai unsur penting dalam pengembangan ekosistem PAI di perguruan tinggi.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.






![[Siaran Pers] Raih Penghargaan Pelindungan Anak dari APSIPOL, Meutya Hafid: PP TUNAS Lindungi Masa Depan 70 Juta Anak](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/11/siaran-pers-raih-penghargaan-pelindungan-anak-dari-apsipol-meutya-hafid-pp-tunas-lindungi-masa-depan-70-juta-a.jpg)










