Headline.co.id, Jakarta ~ Harga telur ayam di tingkat konsumen mulai turun setelah Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman berkoordinasi dengan Kabareskrim Polri terkait anomali harga. Perkembangan itu disampaikan dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) Pangan di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Senin (26/10/2026). Pemerintah menindaklanjuti persoalan tersebut melalui koordinasi dengan aparat penegak hukum, dukungan bahan baku pakan bagi peternak, serta rencana pembangunan pabrik tepung telur bersama badan usaha milik negara (BUMN). Langkah itu ditujukan untuk membenahi harga telur dan sektor perunggasan dari hulu hingga hilir.
Mentan Amran mengatakan, tindak lanjut koordinasi dengan aparat penegak hukum mulai berdampak pada harga telur di tingkat konsumen. Menurut dia, penurunan harga tersebut terjadi setelah upaya penindakan mulai dilakukan.
“Alhamdulillah terima kasih Pak Kabareskrim, juga Pak Polri, kami sudah bicara, sudah mulai menindak. Baru diumumkan harga sudah turun. Jadi harga turun di konsumen. Nah jadi ini kabar baik,” kata Mentan Amran.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Anomali Harga Telur Peternak dan Konsumen
Mentan Amran menjelaskan, persoalan harga telur terlihat dari perbedaan yang cukup besar harga di tingkat peternak dan konsumen. Harga telur di tingkat peternak berada pada kisaran Rp20.000–Rp21.000 per kilogram, sedangkan di tingkat konsumen mencapai Rp40.000–Rp45.000 per kilogram.
Kondisi itu dinilai tidak sejalan dengan situasi produksi telur ayam yang disebut surplus, bahkan telah diekspor. Mentan Amran menyebut harga telur di tingkat peternak seharusnya berada pada kisaran Rp26.000–Rp30.000 per kilogram.
“Telur ayam surplus, bahkan ekspor. Tapi di tingkat peternak itu harga telur ayam Rp20.000–Rp21.000 per kilogram. Harusnya Rp26.000 dan Rp30.000. Tetapi juga ironisnya di konsumen Rp40.000–Rp45.000. Ini di atas harga eceran tertinggi. Ada anomali,” ujar Mentan Amran.
Perbedaan harga tersebut menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam penanganan sektor perunggasan. Pemerintah berupaya agar harga yang diterima peternak tidak terlalu rendah, sementara harga yang dibayar konsumen tetap berada pada tingkat yang wajar.
Pemerintah Siapkan Pakan dengan Harga Lebih Rendah
Selain menangani anomali harga telur, pemerintah menyiapkan dukungan jangka pendek untuk membantu peternak menekan biaya produksi. Salah satu langkahnya adalah menyediakan bahan baku pakan berupa bungkil kedelai yang dibeli pemerintah untuk kemudian disalurkan langsung kepada peternak.
Bahan baku pakan tersebut dijual dengan harga Rp8.630 per kilogram. Harga itu lebih rendah dibandingkan harga dari pihak swasta yang berada pada kisaran Rp10.000–Rp12.000 per kilogram.
“Solusi yang kami lakukan yang jangka pendek kepada peternak, pertama SPHP (jagung). Kemudian pemerintah yang membeli pakan soybean itu langsung ke peternak, harganya Rp8.630 per kilogram. Sedangkan swasta Rp10.000, Rp11.000, Rp12.000,” ungkap Mentan Amran.
Pemerintah juga menyalurkan jagung melalui skema Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog. Penyaluran tersebut diperuntukkan bagi peternak kecil dengan subsidi pemerintah, sehingga mereka dapat memperoleh bahan baku pakan dengan harga yang lebih terjangkau.
Dukungan terhadap bahan baku pakan menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk menjaga keberlangsungan usaha peternak. Dengan biaya pakan yang lebih rendah, peternak diharapkan memperoleh dukungan di tengah ketimpangan harga telur tingkat produksi dan konsumsi.
Pabrik Tepung Telur untuk Kurangi Impor
Di sisi hilir, pemerintah menyiapkan pembangunan pabrik tepung telur bersama BUMN. Fasilitas tersebut diharapkan memperkuat industri pengolahan hasil peternakan dalam negeri dan memberikan nilai tambah terhadap produksi sektor perunggasan.
Rencana pembangunan pabrik itu juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor tepung telur. Mentan Amran menyampaikan target pembangunan fasilitas tersebut dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun.
“Karena ada impor telur, tepung telur dari negara lain, insyaallah kita akan bangun bersama BUMN. Mudah-mudahan satu tahun selesai, impornya nanti kita stop,” ujarnya.
Rangkaian kebijakan tersebut mencakup penanganan harga telur, bantuan bahan baku pakan, serta pengembangan industri pengolahan. Pemerintah menargetkan surplus produksi telur ayam dapat memberikan manfaat bagi peternak, sekaligus memastikan konsumen memperoleh pangan dengan harga yang wajar.
Kementerian Pertanian terus mendorong penguatan sektor perunggasan nasional melalui kebijakan dari hulu hingga hilir, termasuk dukungan bagi peternak dan pembangunan fasilitas pengolahan dalam negeri.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















![[Siaran Pers] RUU Adminduk Akan Dibahas, Kemkomdigi Soroti Akses dan Keamanan Data Warga](https://www.headline.co.id/wp-content/uploads/2026/10/siaran-pers-ruu-adminduk-akan-dibahas-kemkomdigi-soroti-akses-dan-keamanan-data-warga.jpg)


