Headline.co.id, Jakarta ~ Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar meminta dakwah dilakukan dengan pendekatan kasih sayang dan merangkul umat, bukan memukul atau menjauhi mereka. Pesan itu disampaikan saat pelantikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031 di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026). Ia menilai pendekatan tersebut penting di tengah derasnya arus informasi media sosial yang dapat membuat masyarakat kesulitan membedakan kebenaran dan kesalahan. Karena itu, pengurus PBNU diharapkan menghadirkan pencerahan melalui cara yang bijaksana.
“Kita harus mencari cara berdakwah dengan merangkul mereka, bukan memukul,” tegas KH Miftachul Akhyar.
Pelantikan itu turut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam kapasitasnya sebagai Rais Syuriyah PBNU, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin, Staf Khusus Menteri Agama Ismail Cawidu, Ketua Umum PBNU Abdul Hakim Mahfudz, Katib Aam PBNU Muhammad Nuh, serta Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamid Lukman Hakim Hamid.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kasih sayang menjadi landasan dakwah
KH Miftachul Akhyar menjelaskan, kasih sayang dan persaudaraan merupakan nilai penting yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat. Menurut dia, keteladanan itu tercermin dari sikap yang tidak hanya mengutamakan kepentingan diri sendiri, tetapi juga mendahulukan orang lain yang membutuhkan pertolongan.
Nilai tersebut, lanjutnya, juga menjadi landasan Nahdlatul Ulama sebagaimana diwariskan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Melalui NU, umat diajak membangun persatuan, memperkuat persaudaraan, dan mengesampingkan kepentingan pribadi.
“Oleh karena itu, Hadratus Syekh Raisul Akbar KH Hasyim Asy’ari mengajak kita berkumpul dalam wadah yang diberkahi, yaitu Nahdlatul Ulama, dengan berlandaskan mahabbah, mawaddah, dan ittishal. Ajakan ini merupakan upaya membangun kasih sayang, persaudaraan, dan persatuan, serta mengesampingkan kepentingan pribadi,” jelasnya.
Tantangan dakwah di media sosial
Rais Aam PBNU itu juga menyoroti tantangan dakwah pada masa perkembangan media sosial. Derasnya arus informasi dinilai dapat menyulitkan masyarakat dalam membedakan hal yang benar dan yang salah.
Ia turut menyinggung kemunculan orang-orang yang berbicara mengenai urusan umat tanpa bekal dan kapasitas yang memadai. Dalam situasi tersebut, pengurus PBNU masa khidmah 2026–2031 diharapkan dapat menghadirkan pencerahan dan mengajak masyarakat kembali ke jalan yang benar.
Pendekatan yang digunakan, menurut KH Miftachul Akhyar, perlu tetap merangkul, termasuk terhadap mereka yang menyampaikan pernyataan secara berlebihan atau merendahkan pihak lain.
“Mereka yang berceloteh, meremehkan, membuli, menonjolkan sesuatu, dan menggoreng persoalan sampai gosong itu juga bagian dari umat kita. Mari kita cari cara agar mereka bisa kembali ke jalan yang benar dan bersama-sama berkhidmat,” pesannya.
Pelantikan digelar di pesantren
Pelantikan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama masa khidmah 2026–2031 berlangsung secara sederhana di Pondok Pesantren Al-Hamid. Ketua Umum PBNU Abdul Hakim Mahfudz mengatakan, pemilihan pesantren sebagai lokasi pelantikan menandai komitmen kepengurusan untuk kembali kepada akar tradisi NU.
“Pelantikan ini sengaja disiapkan secara sederhana dan dipilih berlokasi di pondok pesantren. Hal ini menjadi penanda komitmen kepengurusan masa khidmah ini untuk kembali ke akar tradisi, yaitu pesantren sebagai tempat lahirnya para ulama yang menjadi cikal bakal organisasi yang kita cintai ini,” ujarnya.
Abdul Hakim berharap seluruh pengurus dapat bersatu, menguatkan tradisi pesantren, dan menjaga keutuhan bangsa. Ia juga mengingatkan pesan para masyayikh agar warga NU mengedepankan kecintaan dan kasih sayang dalam berorganisasi.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.














