Headline.co.id, Bogor ~ Kementerian Agama menguji coba modul pelatihan pengembangan ekoteologi di Bogor, Selasa (14/10/2026). Uji coba modul ekoteologi tersebut melibatkan 25 peserta, yang mayoritas merupakan widyaiswara dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM). Kegiatan ini dilakukan untuk menilai substansi, keterbacaan, dan metode penyampaian modul agar nilai-nilai agama dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam menjaga lingkungan hidup. Modul berdurasi 60 jam pelajaran (JP) itu disiapkan bagi para fasilitator nasional sebelum diterapkan dalam berbagai format kegiatan.
Kepala BMBPSDM Kementerian Agama RI Muhammad Ali Ramdhani mengatakan, uji coba modul ekoteologi diperlukan untuk memastikan materi pelatihan relevan dengan kehidupan sehari-hari, mudah dipahami, dan mampu mendorong perubahan perilaku konkret peserta.
“Jangan sampai peserta hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi tidak melakukan apa-apa setelah pelatihan. Apa yang dipahami harus menyentuh hati, lalu diwujudkan melalui tindakan,” tegas Muhammad Ali Ramdhani saat memberikan sambutan pada kegiatan Uji Coba Modul Penguatan Ekoteologi di Bogor.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Ekoteologi Didorong Menjadi Gerakan Bersama
Muhammad Ali Ramdhani, yang akrab disapa Kaban Dhani, menjelaskan penguatan ekoteologi selaras dengan arah kebijakan Kementerian Agama untuk mewujudkan masyarakat yang rukun, maslahat, dan cerdas. Upaya tersebut juga merespons arahan Menteri Agama yang menempatkan hubungan manusia dengan lingkungan sebagai bagian penting dalam membangun kehidupan yang harmonis.
Menurut dia, pengembangan ekoteologi tidak boleh menghilangkan dimensi teologi. Pembahasan mengenai lingkungan tidak cukup hanya menggunakan rasionalitas dan hubungan sebab-akibat, tetapi juga perlu mengaitkan nilai-nilai agama dengan kesadaran serta tanggung jawab manusia untuk merawat alam.
“Ekoteologi jangan sampai kehilangan dimensi teologinya. Kita tidak hanya berbicara tentang lingkungan dari sisi rasionalitas dan hubungan sebab-akibat, tetapi juga bagaimana nilai-nilai agama membentuk kesadaran dan tanggung jawab manusia untuk merawat alam,” tegasnya.
Ia menerangkan, pendekatan ekologi membantu manusia memahami persoalan lingkungan secara ilmiah, termasuk dampak kerusakan hutan terhadap potensi bencana. Adapun ekoteologi menghubungkan pemahaman ilmiah tersebut dengan nilai-nilai keagamaan untuk membangun kesadaran moral dan spiritual.
“Ketika hutan dirusak, kita bisa menjelaskan secara rasional bahwa dampaknya dapat berupa banjir dan bencana lainnya. Namun, kita juga perlu menyentuh hati manusia agar memahami bahwa keserakahan dan tindakan merusak alam bertentangan dengan tanggung jawab moral dan spiritualnya,” jelas Kaban Dhani.
Ia menambahkan, materi pelatihan harus mampu mendorong peserta menerapkan nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, penggunaan bahasa yang jelas, contoh konkret, dan aspek keteladanan menjadi bagian penting dalam proses uji coba.
“Kita ingin nilai-nilai ini tidak berhenti di ruang pelatihan. Peserta harus mampu meneruskannya sehingga ekoteologi dapat berkembang menjadi gerakan bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan,” imbuhnya.
Modul Ekoteologi Berdurasi 60 Jam Pelajaran
Sekretaris BMBPSDM Wawan Djunaedi mengatakan, uji coba dilakukan terhadap modul berdurasi 60 jam pelajaran yang dirancang khusus bagi fasilitator nasional. Masukan dari kegiatan tersebut diharapkan dapat digunakan untuk menyesuaikan berbagai format kegiatan penguatan ekoteologi.
“Uji coba ini diharapkan dapat menghasilkan masukan untuk penyesuaian berbagai format kegiatan penguatan ekoteologi,” jelas Wawan.
Dari 25 peserta yang mengikuti kegiatan, mayoritas merupakan widyaiswara dari UPT BMBPSDM. Peserta lainnya berasal dari unsur analis kebijakan, peneliti, serta akademisi atau dosen dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Alauddin Makassar.
Wawan menegaskan, salah satu substansi utama modul adalah membedakan secara tegas pendekatan ekoteologi dari pendekatan ekologi semata. Modul tersebut dirancang untuk menggeser cara pandang peserta, dari sekadar melihat krisis lingkungan menuju pemahaman yang juga menyoroti krisis keadilan dan menghubungkannya dengan misi kenabian.
Uji Coba Menggali Kesadaran Diri dan Spiritual
Wawan mengingatkan, penguatan ekoteologi tidak boleh berujung hanya pada pembahasan ekologi atau kegiatan teknis seperti menanam pohon dan mengurangi sampah plastik.
“Kita khawatir ketika berbicara tentang penguatan ekoteologi, ujung-ujungnya justru hanya membahas ekologi. Ekoteologi jangan hanya dipersepsikan sebagai kegiatan menanam pohon atau mengurangi sampah plastik,” ujar Wawan.
Untuk membangun pemahaman yang lebih menyeluruh, modul menggunakan sejumlah pendekatan analisis dan metode pembelajaran. Pendekatan tersebut diarahkan untuk menggali kesadaran diri, kesadaran spasial, serta kesadaran spiritual peserta.
Seluruh masukan dari peserta akan digunakan untuk menyempurnakan substansi dan metode pembelajaran. Setelah proses penyempurnaan, modul pengembangan ekoteologi akan diterapkan secara luas melalui berbagai format kegiatan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















