Headline.co.id ~ Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan jutaan pelajar madrasah dan santri pesantren sebagai penggerak sekolah berbudaya lingkungan melalui integrasi kurikulum ekoteologi. Upaya tersebut disampaikan Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam peluncuran Gerakan Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata bertajuk “Mengawali Langkah Bersama untuk Sekolah Berbudaya Lingkungan” di TMII, Jakarta. Program ini diarahkan untuk mengoptimalkan kepedulian Generasi Z terhadap isu kelestarian bumi sekaligus membentuk kebiasaan menjaga lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Peluncuran tersebut berlangsung pada Senin (12/10/2026) dan dihadiri Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Muhammad Jumhur Hidayat, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat, pejabat terkait dari tiga kementerian, tenaga pendidik, serta siswa dari berbagai satuan pendidikan.
Kemenag mengintegrasikan kurikulum ekoteologi di 80.000 madrasah dan 42.000 pesantren. Menurut Nasaruddin, kebijakan itu menjadi langkah konkret untuk menyalurkan kepekaan ekologis generasi muda melalui lingkungan pendidikan.
Nasaruddin mengatakan, evaluasi implementasi kurikulum yang dilakukan bersama 400 pengawas pendidikan madrasah se-Indonesia menunjukkan munculnya kesadaran baru atau new consciousness di kalangan siswa madrasah. Kesadaran tersebut terlihat dari meningkatnya empati peserta didik terhadap makhluk hidup di sekitar mereka.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Kesadaran ekologis Gen Z
Menteri Lingkungan Hidup Muhammad Jumhur Hidayat menyampaikan apresiasi terhadap kepedulian generasi muda terhadap lingkungan. Ia mengatakan, berdasarkan data survei terkini, Generasi Z memiliki kesadaran ekologis yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya.
“Ternyata Gen Z itu punya kesadaran lingkungan yang lebih baik daripada generasi seperti kita,” ujar Jumhur, Senin (12/10/2026).
Jumhur menyebut 80 persen Gen Z sadar terhadap lingkungan. Karena itu, menurut dia, peran pemerintah tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga menjadi fasilitator agar kepedulian tersebut terus berkembang dan menjadi karakter dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi dari survei, itu 80 persen Gen Z itu lebih sadar lingkungan ketimbang kita-kita yang lebih senior. Karena itu pertanyaannya begini: ‘Pak Jumhur, apakah ada pesan kepada Gen Z untuk soal lingkungan?’ Saya bilang enggak usah, ternyata surveinya lebih sadar mereka daripada kita semua. Jadi kita tinggal memfasilitasi saja, memastikan bahwa kesadaran itu akan terus bertumbuh sampai kapan pun,” tegasnya.
Ekoteologi diterapkan di madrasah dan pesantren
Menag Nasaruddin menjelaskan, pendekatan pendidikan lingkungan di madrasah dan pesantren juga dilakukan melalui Kurikulum Cinta. Pendekatan tersebut dipadukan dengan nilai persaudaraan sesama ciptaan Tuhan atau ukhuwwah makhluqiyyah.
Melalui pendekatan itu, peserta didik diarahkan untuk memahami bahwa merawat flora dan fauna berkaitan dengan upaya menjaga eksistensi manusia. Nasaruddin menilai, cara pandang tersebut mulai membentuk kesadaran baru di lingkungan pendidikan yang dikelola Kemenag.
“Muncul sebuah kesadaran: engkau adalah aku, aku adalah engkau. Kita eksplor bukan lagi engkau adalah manusia, tetapi tumbuh-tumbuhan engkau adalah aku, aku adalah engkau. Muncul kesadaran lingkungan masyarakat didik baru kita sekarang ini di kelolaan Kementerian Agama,” jelas Menag.
Nasaruddin juga menceritakan perubahan perilaku siswa setelah penerapan kurikulum tersebut. Ia mencontohkan seorang anak yang tidak membunuh semut meski hewan itu menggigit tangannya.
“Subhanallah Bapak-Ibu sekalian, menarik sekali karena muncul sebuah new consciousness, ada kesadaran baru dalam anak didik kita sekarang ini. Sampai ada anak tidak berani membunuh semut yang menggigit tangannya. Alasannya apa? ‘Kasihan tuh, ada anak-anak kecilnya menantikan kedatangan ibunya, kalau kita bunuh, kasihan anak-anaknya’,” tutur Menag.
Gen Z didorong menjadi penggerak sekolah hijau
Kemenag melihat jumlah pelajar madrasah dan santri pesantren dari jenjang dasar hingga menengah sebagai modal penting untuk memperluas gerakan sekolah berbudaya lingkungan. Dengan populasi Gen Z yang belajar di madrasah dan pesantren, kementerian tersebut optimistis kepedulian ekologis dapat menjadi energi bagi pengembangan sekolah hijau.
Peluncuran Gerakan Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata menjadi bagian dari upaya bersama untuk membangun sekolah berbudaya lingkungan. Pemerintah mendorong agar kesadaran ekologis generasi muda tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi berkembang menjadi perilaku yang berkelanjutan.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.


















