Headline.co.id ~ Headline.co.id, Ciputat (Kemenag) — Dosen-peneliti Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIKOM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengembangkan Trustworthy Explainable Artificial Intelligence (TREX AI) untuk mendeteksi dan mengukur risiko ekstremisme keagamaan di ruang digital. Model berbasis kecerdasan buatan itu dikembangkan melalui penelitian komunikasi politik digital dan dipaparkan dalam Public Expose Hasil Penelitian MoRA The Air Funds 2026 di Ruang Teater Prof. H. R. Husnul Aqib, Ciputat, Rabu (7/10/2026). TREX AI dirancang membaca percakapan media sosial menggunakan big data crawling agar narasi ekstremisme, waktu kemunculan, dan wilayah persebarannya dapat dipetakan. Hasil pemantauan tersebut diarahkan untuk dikembangkan menjadi dashboard analisis yang dapat mendukung pembacaan risiko secara etis dan kontekstual.
Penelitian bertajuk “Model Komunikasi Politik Digital Berbasis TREX-AI Untuk Pengukuran Risiko Ekstremisme Keagamaan Digital di Indonesia” itu dipimpin Dekan FDIKOM sekaligus Ketua Tim Peneliti, Profesor Gun Gun. Ia menjelaskan, pengembangan TREX AI menggunakan pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan komunikasi politik, ilmu dakwah, psikologi, dan sosiologi.
Metode yang digunakan ialah Mixed Method Sequential Explanatory. Penelitian tersebut melibatkan survei terhadap 1.500 responden di 33 provinsi, evaluasi psikometrik, analisis SEM-PLS, serta Focus Group Discussion (FGD).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Instrumen TREX AI Diuji melalui 67 Butir
Dalam pengembangan instrumen penelitian, tim melakukan validasi terhadap 67 butir. Proses tersebut menghasilkan 34 indikator final yang menjadi dasar perancangan TREX AI untuk mendeteksi, mengukur, dan memitigasi risiko ekstremisme keagamaan digital.
Profesor Gun Gun menilai, potensi ekstremisme di ruang digital tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan teknologi. Fenomena itu juga perlu dibaca melalui perspektif komunikasi politik dengan memperhatikan aktor, pembingkaian narasi keagamaan, serta tata kelola platform digital.
“Kekuasaan komunikasi bergeser dari kemampuan memproduksi pesan ke kemampuan mengatur keterlihatannya,” ujar Profesor Gun Gun di Ciputat, Rabu (7/10/2026).
Menurut dia, pergeseran tersebut membuat pemetaan percakapan digital menjadi penting. Karena itu, prototipe TREX AI diarahkan untuk mengidentifikasi narasi ekstremisme yang muncul, kapan narasi itu muncul, serta wilayah persebarannya.
Data hasil pemantauan selanjutnya ditargetkan dapat disajikan melalui dashboard. Platform tersebut diharapkan memungkinkan analisis lebih mendalam terhadap narasi yang telah teridentifikasi.
TREX AI Tidak Dirancang sebagai Sistem “Black Box”
Profesor Gun Gun menekankan bahwa sistem yang dikembangkan tidak hanya diarahkan untuk mendeteksi konten. TREX AI juga diharapkan mampu memberikan gambaran tentang kontestasi narasi di ruang digital dan menjelaskan proses analisisnya.
“Memastikan bahwa kontestasi narasi terutama tentang ekstremisme keagamaan yang tidak hanya technological determinism, tetapi lebih dari itu yakni soal kontestasi narasi, itu kemudian bisa punya ada gambaran petanya, kemudian how-to-do-nya, sekaligus terpantau dalam satu AI yang tidak black box gitu, tapi trustworthy explainable artificial intelligence,” ungkapnya.
Konsep trustworthy explainable artificial intelligence tersebut menempatkan keterjelasan sistem sebagai bagian penting dalam pengembangan model. Dengan demikian, sistem tidak hanya menghasilkan deteksi, tetapi juga diharapkan dapat membantu melihat peta kontestasi narasi serta langkah yang dapat dilakukan terhadap risiko yang teridentifikasi.
Penelitian itu juga diharapkan menghasilkan keluaran lanjutan berupa Digital Religious Extremism Risk Index (DRERI). Indeks tersebut direncanakan menjadi salah satu dasar dalam pengembangan kebijakan terkait risiko ekstremisme keagamaan digital.
DRERI Diharapkan Mendukung Pengembangan Kebijakan
Profesor Gun Gun berharap DRERI dapat dikembangkan melalui kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk Kementerian Agama, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
“Saya harapkan jadi policy di Kementerian Agama, policy di Kementerian Komdigi, sekaligus juga nanti bisa berjejaring dengan BNPT,” pungkasnya.
Setelah pemaparan hasil penelitian oleh Profesor Gun Gun, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Sesi tersebut juga diisi pemaparan dari Founder Drone Emprit dan Inisiator OneSearch Ismail Fahmi, Ph.D., serta Puspenma Kemenag RI, Hendro Dwi Antoro, S.H., C.M.E.D. (PIH)
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.
















