Headline.co.id, Malang ~ An-Nur Night Ecotheology pada malam ketiga perkemahan di Pondok Pesantren An-Nur II Bululawang, Malang, mengangkat pesan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam. Kegiatan yang diikuti para Pramuka Santri dari berbagai penjuru Nusantara itu berlangsung dalam rangkaian PPSN VI pada Jumat (2/10/2026). Direktur Bina Dakwah Pesantren dan Pendidikan Nonformal, Direktorat Jenderal Pesantren, Mahrus, mengajak peserta menjaga alam, air, pepohonan, dan sumber kehidupan lainnya melalui kesadaran keagamaan. Pesan tersebut disampaikan melalui perpaduan seni, budaya, tradisi, dan kegiatan kepramukaan.
Suasana bumi perkemahan Pondok Pesantren An-Nur II pada malam itu berlangsung meriah. Yel-yel khas Pramuka terdengar bersahut-sahutan dari satu kontingen ke kontingen lainnya, disusul tepuk tangan, sorakan, dan gelak tawa para peserta.
Semangat para Pramuka Santri dari berbagai daerah tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan PPSN VI. Di tengah suasana perkemahan yang ramai, panggung An-Nur Night Ecotheology menghadirkan ruang bagi para santri untuk menikmati pertunjukan seni sekaligus menerima pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
An-Nur Night Ecotheology dan Pesan Menjaga Alam
Mahrus mengatakan, kepedulian terhadap alam tidak semata-mata berkaitan dengan isu lingkungan. Menurut dia, ajaran Islam memiliki landasan yang kuat mengenai tanggung jawab manusia dalam merawat lingkungan.
Ia menyebut Rasulullah SAW telah memberikan teladan mengenai cara menjaga berbagai unsur alam, termasuk air, pepohonan, dan sumber kehidupan lainnya.
“Rasulullah juga mengajarkan kepada kita bagaimana menjaga lingkungan, menjaga alam supaya tidak hilang pohonnya, airnya, atau apa pun yang membuat bumi ini tetap kokoh,” ujar Mahrus, Jumat (2/10/2026).
Menurut Mahrus, pesan tersebut menjadi salah satu hal istimewa dalam pelaksanaan PPSN VI. Para peserta tidak hanya mengikuti kegiatan untuk memperkuat keterampilan kepramukaan dan nilai-nilai kepesantrenan, tetapi juga diajak memahami bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap kelestarian alam.
“Perkemahan kali ini istimewa karena membawa pesan yang sangat jelas, bagaimana menjaga alam,” katanya.
Penyampaian pesan tentang lingkungan dalam kegiatan tersebut berlangsung bersamaan dengan penampilan seni dan budaya. Dengan demikian, kepedulian terhadap alam tidak disampaikan secara terpisah dari kehidupan santri, melainkan ditempatkan dalam rangkaian kegiatan yang juga memuat nilai keagamaan, tradisi, dan kebersamaan.
Seni dan Budaya sebagai Ungkapan Syukur
Mahrus mengapresiasi Pondok Pesantren An-Nur II yang menjadi lokasi pelaksanaan PPSN VI sekaligus menghadirkan konsep An-Nur Night Ecotheology. Ia menilai seni dan kebudayaan yang ditampilkan dalam kegiatan itu dapat menjadi sarana untuk merasakan serta mensyukuri keindahan ciptaan Allah SWT.
“Dengan adanya An-Nur Night Ecotheology ini kita bisa merasakan betapa indahnya seni, kebudayaan, atau apa pun yang ditampilkan. Ini juga bagian dari bagaimana kita bisa merasakan nikmat Allah SWT,” tuturnya.
Dalam pandangan Mahrus, seni dan kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Keduanya juga dapat menjadi media untuk menguatkan rasa syukur dan menyampaikan pesan keislaman.
Ia kemudian mengingatkan para santri agar ikut menjaga seni dan tradisi yang telah dirawat para ulama. Mahrus mencontohkan Wali Songo yang memanfaatkan tembang, wayang, dan berbagai tradisi seni lokal sebagai media dakwah Islam.
“Bukan semata-mata menjaga seni dan tradisi, tetapi juga ada syiar Islamnya,” ujarnya.
Santri Diminta Merawat Tradisi
Mahrus menilai generasi muda, termasuk para santri, memiliki peran penting dalam menjaga agar tradisi dan kebudayaan tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, keberlanjutan seni dan budaya sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda.
Karena itu, ia mengajak para peserta menerapkan kaidah menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Pesan tersebut diarahkan agar para santri tetap mampu merawat warisan budaya tanpa menutup diri terhadap perkembangan.
“Para santri dan santriwati ini masih muda. Kalau bukan kalian yang akan menjaga tradisi, seni dan budaya, lalu siapa?” pungkas Mahrus.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















