Headline.co.id, Buleleng ~ Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Bali, mengembangkan Sistem Pelaporan Pelayanan Kesehatan Tradisional (SIPANDI) untuk mengintegrasikan data pelayanan kesehatan tradisional di seluruh wilayah kabupaten tersebut. Sistem ini mulai diujicobakan pada sejumlah puskesmas untuk memperkuat pendataan, pembinaan, pengawasan, monitoring, dan evaluasi. Pengembangan SIPANDI dilakukan karena jumlah penyehat tradisional atau HATTRA di Buleleng mencapai sekitar 920 orang, sementara baru sekitar 98 orang yang memiliki Surat Tanda Penyehat Tradisional (STPT). Melalui sistem digital itu, pemerintah daerah menargetkan tata kelola pelayanan kesehatan tradisional menjadi lebih efektif, efisien, dan akuntabel.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan yang juga menjabat Plt. Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Dewa Putu Merta Suteja, mengatakan SIPANDI dirancang agar data pelayanan kesehatan tradisional dapat dikelola secara lebih terstruktur.
“SIPANDI kami kembangkan untuk mengintegrasikan seluruh data pelayanan kesehatan tradisional, sehingga pendataan dan pengawasan dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien,” ujar Dewa Putu Merta Suteja, Rabu (23/9/2026).
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
SIPANDI Catat Jenis Pelayanan dan Legalitas
Melalui SIPANDI, data penyelenggara pelayanan kesehatan tradisional akan didokumentasikan berdasarkan jenis pelayanan, legalitas, dan wilayah kerja. Data tersebut mencakup pelayanan keterampilan, ramuan, maupun kombinasi.
Sistem itu juga memuat jumlah kunjungan masyarakat yang menerima pelayanan kesehatan tradisional. Dengan pencatatan tersebut, setiap puskesmas diharapkan memiliki gambaran yang lebih terstruktur mengenai kondisi pelayanan kesehatan tradisional di wilayah kerjanya.
Data yang terkumpul tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pelaporan. Dinas Kesehatan Buleleng menyiapkannya sebagai dasar pelaksanaan pembinaan dan pengawasan terhadap pelayanan kesehatan tradisional.
Dewa Putu Merta Suteja mengatakan SIPANDI diharapkan dapat membantu pemerintah memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai layanan kesehatan tradisional di setiap wilayah kerja puskesmas.
“Data yang terkumpul melalui SIPANDI diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi pelayanan kesehatan tradisional secara lebih akurat di masing-masing wilayah kerja puskesmas,” imbuhnya.
Uji Coba SIPANDI Dilakukan di Sejumlah Puskesmas
Dinas Kesehatan Buleleng telah melakukan uji coba SIPANDI pada sejumlah puskesmas. Dari total 20 puskesmas yang ada, sebagian besar telah mampu melakukan input data melalui sistem tersebut.
Di sisi lain, puskesmas terus mengoptimalkan pelayanan kesehatan tradisional yang dilakukan di dalam maupun di luar gedung. Sementara itu, puskesmas lainnya masih menjalani proses pemenuhan standar pelayanan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Uji coba tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pelaporan yang berbasis digital. Dengan SIPANDI, proses pengumpulan dan pengelolaan data diharapkan tidak lagi berjalan secara terpisah, sehingga dapat mendukung pelaksanaan pembinaan dan pengawasan oleh Dinas Kesehatan Buleleng.
Penataan HATTRA Didorong Lebih Legal dan Terstandar
Pengembangan SIPANDI menjadi penting karena jumlah HATTRA di Kabupaten Buleleng mencapai sekitar 920 orang yang tersebar di berbagai wilayah. Namun, baru sekitar 98 orang yang memiliki STPT.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk terus memperkuat penataan pelayanan kesehatan tradisional. Penataan itu diarahkan agar pelayanan berjalan secara legal, aman, terstandar, serta dapat terintegrasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
Melalui data yang terintegrasi, Dinas Kesehatan Buleleng menargetkan pengambilan kebijakan terkait pelayanan kesehatan tradisional dapat dilakukan berdasarkan informasi yang lebih tertata. Sistem tersebut juga diharapkan mendorong pelayanan kesehatan tradisional yang lebih tertib, aman, dan terstandar.
SIPANDI tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelaporan digital, tetapi juga menjadi basis data untuk mendukung monitoring dan evaluasi pelayanan kesehatan tradisional di wilayah Kabupaten Buleleng.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















