Headline.co.id, Jakarta ~ Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mendorong perubahan orientasi pembangunan pariwisata Indonesia agar tidak berhenti pada pencapaian jumlah kunjungan wisatawan. Ia menyampaikan hal itu dalam Indonesia Tourism & MICE Outlook (ITMO) 2027 di Jakarta, Kamis (24/9/2026). Menurut Ni Luh Puspa, pertumbuhan pariwisata perlu diterjemahkan menjadi masa tinggal yang lebih panjang, peningkatan belanja wisatawan, serta manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di destinasi. Arah tersebut diperlukan untuk membangun nilai baru pariwisata melalui pengalaman wisatawan yang berkualitas.
Dalam kegiatan bertema “Membangun Nilai Baru Pariwisata Indonesia Melalui Pengalaman” itu, Ni Luh Puspa menegaskan jumlah kunjungan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sektor pariwisata.
“Capaian ini tidak boleh berhenti pada peningkatan jumlah kunjungan dan juga perjalanan. Tidak boleh berhenti hanya sebatas angka saja,” ujar Ni Luh Puspa.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pariwisata Indonesia Dituntut Ciptakan Nilai Tambah
Menurut Wamenpar, tantangan pariwisata Indonesia menuju 2027 adalah menerjemahkan pertumbuhan jumlah wisatawan menjadi length of stay atau lama tinggal yang lebih panjang. Pemerintah juga mendorong peningkatan belanja wisatawan dan kualitas pengalaman selama berada di Indonesia.
Upaya tersebut dinilai penting agar dampak ekonomi pariwisata tidak hanya tercermin dalam data kunjungan, tetapi juga dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat yang berada di destinasi wisata.
“Bagaimana agar pengalaman tinggal dari wisatawan kita di Indonesia semakin berkualitas dan juga manfaat yang bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat Indonesia,” kata Ni Luh Puspa.
Ia mengatakan perubahan preferensi wisatawan global perlu diantisipasi dalam pengembangan pariwisata. Wisatawan kini tidak hanya mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang autentik, personal, dan bermakna.
“Wisatawan saat ini tidak lagi sekadar untuk mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang autentik, yang personal dan juga bermakna,” ujarnya.
Indonesia memiliki kekayaan destinasi, budaya, serta keramahan masyarakat yang dapat menjadi modal untuk menciptakan pengalaman wisata bernilai tinggi. Namun, kekayaan tersebut perlu dikemas menjadi pengalaman yang memiliki nilai tambah dan mampu meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia.
“Bagaimana Indonesia dapat mengubah kekayaan destinasi, kekayaan budaya dan juga keramahan yang kita miliki menjadi pengalaman bernilai tinggi dan juga berdaya saing,” tuturnya.
Kinerja Pariwisata Indonesia Tetap Tumbuh
Ni Luh Puspa menyebut kinerja sektor pariwisata Indonesia memberikan fondasi untuk menghadapi perubahan orientasi tersebut. Sepanjang 2025, Indonesia mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara.
Pada tahun yang sama, perjalanan wisatawan Nusantara mencapai sekitar 1,2 miliar perjalanan. Sektor pariwisata juga menghasilkan devisa sekitar US$18,27 miliar.
Menurut Wamenpar, capaian tersebut menunjukkan pariwisata memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian nasional sekaligus menjadi salah satu sumber devisa negara.
Tren positif berlanjut pada 2026. Berdasarkan data yang disampaikan Ni Luh Puspa, kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 7,45 juta kunjungan. Angka itu meningkat 5,71 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dalam periode Januari-Juli 2026, perjalanan wisatawan Nusantara tercatat 630,41 juta perjalanan. Sementara itu, devisa pariwisata mencapai sekitar US$8,43 miliar.
Pertumbuhan juga terlihat pada Juli 2026. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Wamenpar, kunjungan wisatawan mancanegara pada bulan tersebut mencapai 1,53 juta kunjungan.
Adapun perjalanan wisatawan Nusantara mencapai 107,4 juta perjalanan atau meningkat 7,23 persen secara tahunan.
“Angka ini bisa menambah ataupun menumbuhkan optimisme kita bersama bahwa pariwisata Indonesia masih diminati oleh wisatawan global maupun juga masyarakat Indonesia untuk berwisata di Indonesia saja,” kata Ni Luh Puspa.
Beyond Numbers dan Peran Pemangku Kepentingan
Ni Luh Puspa menegaskan, pertumbuhan jumlah kunjungan harus diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi yang lebih nyata. Karena itu, indikator pariwisata ke depan tidak hanya mencakup jumlah wisatawan, tetapi juga durasi tinggal, besaran belanja, serta luasnya manfaat ekonomi yang diterima masyarakat lokal.
Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan Beyond Numbers yang menjadi salah satu pesan utama pengembangan pariwisata menuju 2027.
“Esensinya tentu adalah bagaimana masyarakat bisa merasakan dampak dari angka-angka yang kemudian dirilis oleh BPS itu. Menerjemahkannya Beyond Numbers, itu yang kemudian menjadi cita-cita kita bersama,” ujarnya.
ITMO 2027 menjadi ruang dialog bagi pemerintah, industri, asosiasi, dan media untuk membaca perubahan tren pariwisata serta merumuskan peluang dan langkah bersama menuju 2027. Menurut Ni Luh Puspa, kolaborasi seluruh pemangku kepentingan diperlukan untuk membangun ekosistem pariwisata yang mampu menghasilkan pengalaman berkualitas.
Sektor event dan MICE juga menjadi bagian dari pengembangan tersebut karena dapat berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi di destinasi. Selain itu, Wamenpar menilai media memiliki peran penting dalam menjaga citra Indonesia sebagai destinasi pariwisata.
“Pariwisata itu sangat membutuhkan teman-teman di media untuk menjaga kualitas dari citra Indonesia di mata publik dan juga tentu menjadi rekan untuk bisa memberikan kami saran, kritik dan sebagainya untuk semakin mengembangkan pariwisata Indonesia,” katanya.
Ni Luh Puspa mengapresiasi Forum Warna Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan ITMO 2027. Ia menilai kolaborasi pemerintah, pelaku industri, asosiasi, media, dan masyarakat penting untuk memastikan pertumbuhan pariwisata memberikan nilai tambah yang semakin besar.
Dengan pendekatan tersebut, pariwisata Indonesia menuju 2027 diharapkan tidak hanya mencatat peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga memperkuat kualitas pengalaman, meningkatkan nilai ekonomi perjalanan, dan memperluas manfaat sektor pariwisata bagi masyarakat.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.

















