Headline.co.id ~ Polda Kalimantan Utara memperkuat kemampuan personel dalam menangani trauma dan dampak psikologis masyarakat terdampak bencana. Upaya itu dilakukan melalui Pelatihan Trauma Healing bagi personel Tahun Anggaran 2026 yang digelar Biro SDM Polda Kaltara pada Rabu, 23 September 2026. Pelatihan tersebut difokuskan pada kemampuan memberikan dukungan psikologis awal kepada korban bencana. Kegiatan ini diharapkan membuat personel mampu memberikan pelayanan yang cepat, profesional, humanis, dan empatik dalam situasi krisis.
Pelatihan trauma healing Polda Kaltara tersebut membekali personel dengan pemahaman untuk membaca kondisi psikologis masyarakat setelah bencana. Selain evakuasi, pengamanan, dan bantuan fisik, personel Polri dituntut dapat memberikan pendampingan yang tepat kepada warga yang mengalami dampak psikologis.
Materi Pelatihan Trauma Healing Polda Kaltara
Materi pelatihan diberikan oleh psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Maslichah Raichatul Janah, M.Psi., Psikolog, dan Ninda Wulan Winansih, S.Psi., Psikolog. Pelaksanaan materi tersebut dilakukan bersama Bagian Psikologi Polda Kaltara.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Peserta mendapatkan pembelajaran mengenai cara berkomunikasi dengan korban bencana, mengenali respons psikologis pascabencana, serta memberikan dukungan awal kepada masyarakat terdampak. Kemampuan itu dinilai penting agar kehadiran personel tidak hanya berfokus pada penanganan kondisi fisik dan keamanan.
Karo SDM Polda Kaltara Kombes Pol Steyven Jonly Manopo mengatakan, penanganan korban bencana tidak boleh berhenti pada evakuasi, pengamanan, maupun bantuan fisik. Menurut dia, personel Polri juga perlu mampu membaca kondisi psikologis masyarakat dan memberikan pendampingan sesuai kebutuhan.
“Bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan kerugian materiil, tetapi juga dapat memberikan dampak psikologis bagi masyarakat. Karena itu, kehadiran Polri harus mampu memberikan rasa aman, ketenangan, dan dukungan psikologis kepada masyarakat,” ujar Steyven.
Personel Diminta Serius Mengikuti Pelatihan
Steyven meminta seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan serius. Ia berharap kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk menggali pengetahuan yang dapat diterapkan ketika personel menghadapi masyarakat dalam situasi krisis.
“Saya berharap para peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh dan memanfaatkan kesempatan ini untuk menggali pengetahuan, khususnya cara berkomunikasi dengan korban bencana, mengenali respons psikologis pascabencana, serta memberikan dukungan awal kepada korban,” tegasnya.
Pesan tersebut menekankan pentingnya keterampilan komunikasi dalam penanganan masyarakat terdampak bencana. Selain mengenali respons psikologis pascabencana, personel perlu memahami cara memberikan dukungan awal tanpa mengabaikan kondisi dan kebutuhan korban.
Dukungan Psikologis Bagian dari Pelayanan Polri
Melalui pelatihan trauma healing ini, Polda Kaltara menargetkan personel semakin siap memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak bencana. Pelayanan tersebut diarahkan agar tidak hanya cepat dan profesional, tetapi juga mengedepankan pendekatan humanis serta empatik.
Polda Kaltara menilai kemampuan memberikan dukungan psikologis merupakan bagian penting dari pelayanan dan perlindungan Polri. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat menghadapi kondisi yang mereka alami setelah bencana.
“Dengan bekal ini, personel diharapkan mampu hadir secara tepat, humanis, dan empatik, sehingga masyarakat yang terdampak bencana tidak hanya mendapatkan pertolongan secara fisik, tetapi juga merasa aman dan mendapatkan dukungan dalam menghadapi kondisi yang mereka alami,” pungkas Steyven.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.















