Headline.co.id, Jakarta ~ Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menargetkan nilai perdagangan bilateral Indonesia-Rusia meningkat menjadi 10 miliar dolar AS melalui percepatan Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–Uni Ekonomi Eurasia atau Indonesia-EAEU FTA. Target tersebut disampaikan Prabowo dalam Forum Ekonomi Timur atau Eastern Economic Forum ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). Penguatan perdagangan dan pembiayaan investasi ditempuh dengan memaksimalkan pelaksanaan FTA, kolaborasi Danantara dan Russian Direct Investment Fund (RDIF), serta pengembangan konektivitas logistik.
Target itu didasarkan pada realisasi perdagangan bilateral Indonesia-Rusia sepanjang 2025 yang mendekati 5 miliar dolar AS. Nilai tersebut tumbuh 21,7 persen dibandingkan 2024 dan meningkat 33,7 persen dibandingkan capaian pada 2023.
FTA Indonesia-EAEU Ditargetkan Berlaku Awal 2027
Dalam forum tersebut, Prabowo memaparkan arah strategis kerja sama ekonomi nasional dengan menitikberatkan pada penguatan neraca perdagangan dan pembiayaan investasi. Indonesia-EAEU FTA menjadi landasan utama untuk meningkatkan hubungan dagang Indonesia dan Rusia serta negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Perjanjian tersebut ditandatangani di St. Petersburg pada 21 Desember 2025. Kesepakatan itu mencakup pembebasan atau pemangkasan tarif atas 11.882 pos tarif, yang mencakup lebih dari 90 persen produk yang diperdagangkan.
Setelah memperoleh persetujuan parlemen dan pengesahan Peraturan Presiden mengenai ratifikasi pada Juli 2026, Indonesia-EAEU FTA ditargetkan mulai berlaku efektif pada awal 2027. Penerapan perjanjian ini diharapkan memperkuat konektivitas perdagangan lintas kawasan.
Kerja sama tersebut menghubungkan 290 juta konsumen Indonesia dan pasar ASEAN yang berpenduduk 680 juta jiwa dengan lima negara anggota EAEU, yaitu Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, dan Rusia.
Komoditas Indonesia dan Rusia Saling Melengkapi
Hubungan perdagangan Indonesia-Rusia dinilai memiliki keunggulan komparatif yang saling melengkapi. Rusia berperan sebagai pemasok sejumlah kebutuhan, seperti gandum, pupuk, energi, serta rekayasa teknologi tinggi.
Sementara itu, Indonesia memiliki peluang ekspor untuk minyak kelapa sawit, kopi, produk perikanan, karet, tekstil, furnitur, hingga barang konsumsi. Pengurangan tarif melalui Indonesia-EAEU FTA menjadi salah satu instrumen untuk memperluas akses produk-produk tersebut ke pasar Eurasia.
Percepatan implementasi perjanjian dagang juga diarahkan untuk mendukung peningkatan nilai perdagangan bilateral pada periode peninjauan pertama FTA. Pemerintah menempatkan penguatan arus barang dan perluasan akses pasar sebagai bagian dari strategi meningkatkan kinerja ekonomi kedua negara.
Danantara-RDIF Disiapkan Biayai Proyek Strategis
Selain perdagangan, Prabowo menekankan peran pembiayaan investasi strategis. Lembaga pengelola investasi Danantara, yang mengelola aset senilai 1 triliun dolar AS, diinstruksikan berkolaborasi dengan RDIF.
Kolaborasi Danantara dan RDIF diarahkan untuk mendanai proyek-proyek komersial atau bankable projects. Bidang yang disasar meliputi ketahanan pangan, pemuliaan benih, hilirisasi industri, energi terbarukan, serta teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Kerja sama pembiayaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas hubungan ekonomi Indonesia-Rusia, tidak hanya melalui transaksi perdagangan, tetapi juga melalui investasi pada sektor-sektor strategis. Proyek yang didanai diharapkan memiliki kelayakan komersial sesuai dengan bidang kerja sama yang telah ditetapkan.
Indonesia Dorong Rute Pelayaran dan Penerbangan Langsung
Untuk mendukung kelancaran perdagangan dan investasi, Indonesia juga mendorong realisasi rute pelayaran langsung atau direct shipping dari Vladivostok ke Indonesia. Pemerintah turut mendorong pembukaan penerbangan langsung sebagai bagian dari penguatan konektivitas kedua negara.
Selain konektivitas fisik, Indonesia mendorong pemanfaatan sistem pembayaran internasional yang stabil. Sistem tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan arus dana lintas negara dan memastikan transaksi perdagangan dapat berlangsung secara lancar.
Dengan kombinasi pengurangan tarif, perluasan akses pasar, kerja sama pembiayaan, serta penguatan jalur logistik dan pembayaran, pemerintah menempatkan Indonesia-EAEU FTA sebagai pijakan untuk mencapai target perdagangan bilateral Indonesia-Rusia sebesar 10 miliar dolar AS.
Dukung jurnalis Headline.co.id secara gratis Atau Berkontribusi Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.





















