Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Hozon New Energy, perusahaan induk Neta Auto asal China, berpeluang keluar dari kondisi kebangkrutan setelah muncul rencana pengambilalihan oleh Zhejiang Taiyi Shanglian Enterprise Management Partnership atau Taiyi Shanglian. Berdasarkan draf restrukturisasi yang disepakati dalam pertemuan kreditor keempat pada 11 September 2026, investor tersebut menyiapkan dana 3 miliar yuan atau sekitar Rp7,5 triliun untuk memperoleh 70,6 persen saham Hozon. Dana itu akan diarahkan untuk menyelesaikan kewajiban lama sekaligus menyediakan modal kerja guna menghidupkan kembali produksi dan penjualan. Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan prioritas awal memastikan operasional perusahaan kembali berjalan.
Taiyi Shanglian merupakan perusahaan yang baru dibentuk pada tahun ini oleh Zhejiang Shanzi Holdings Company dan Zhejiang Shanzi Yuxu Technology Company. Kehadiran perusahaan tersebut menjadi bagian penting dalam rancangan penyelamatan Hozon karena mayoritas dana baru akan masuk melalui skema restrukturisasi yang telah disepakati.
Investor Siapkan Rp7,5 Triliun untuk Restrukturisasi Hozon
Dalam skema yang dirancang, Taiyi Shanglian akan menggelontorkan dana sebesar 3 miliar yuan atau sekitar Rp7,5 triliun. Sebagai imbalannya, perusahaan itu akan menguasai 70,6 persen saham Hozon New Energy. Besarnya kepemilikan tersebut menempatkan investor baru sebagai pemegang saham dominan dalam proses pemulihan perusahaan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Masuknya modal baru tidak langsung diarahkan seluruhnya untuk ekspansi. Prioritas utama Hozon adalah membereskan persoalan keuangan yang telah membebani perusahaan dan memastikan kegiatan dasar seperti produksi serta penjualan dapat kembali beroperasi sebelum bisnis diperluas secara bertahap.
Dana Dibagi untuk Utang Lama dan Modal Kerja
Dari total dana restrukturisasi tersebut, sekitar 1,17 miliar yuan atau setara Rp2,9 triliun akan dialokasikan untuk menyelesaikan berbagai persoalan utang lama. Penggunaannya mencakup pembayaran kepada kreditor, biaya kepailitan, serta pengeluaran lain yang muncul selama proses restrukturisasi berlangsung.
Sementara itu, sisa dana sebesar 1,83 miliar yuan atau sekitar Rp4,6 triliun akan digunakan sebagai modal kerja. Dana inilah yang disiapkan untuk membantu Hozon mengaktifkan kembali produksi dan aktivitas penjualan setelah kewajiban yang berkaitan dengan restrukturisasi ditangani.
Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa skema pemulihan tidak hanya diarahkan untuk menutup kewajiban masa lalu. Perusahaan juga menyisakan porsi modal yang lebih besar untuk mendukung keberlangsungan bisnis setelah proses restrukturisasi berjalan.
Neta L dan Neta X Dipertahankan sebagai Aset Inti
Restrukturisasi Hozon juga disertai perubahan prioritas aset produksi. Peralatan yang digunakan untuk memproduksi SUV Neta L dan Neta X ditetapkan sebagai aset inti sehingga akan dipertahankan dalam proses pemulihan perusahaan.
Sebaliknya, fasilitas produksi untuk sedan Neta S dan Neta GT ditempatkan dalam kategori aset non-inti. Fasilitas tersebut dapat dijual apabila diperlukan sebagai bagian dari penataan kembali aset dan kebutuhan pendanaan perusahaan.
Pemilihan Neta X sebagai salah satu aset utama juga sejalan dengan rencana pemulihan penjualan. Model tersebut akan menjadi kendaraan yang diandalkan pada fase pertama saat Hozon berusaha kembali membangun volume penjualannya.
Pemulihan Bisnis Neta Dibagi Menjadi Tiga Tahap
Rencana pemulihan Hozon dibagi menjadi tiga tahap. Pada fase pertama, perusahaan menargetkan penjualan sebanyak 10.000 unit dengan Neta X sebagai model utama. Tahap ini menjadi fondasi untuk mengembalikan aktivitas komersial setelah perusahaan menghadapi persoalan keuangan.
Pada tahap berikutnya, Hozon menargetkan peningkatan kapasitas produksi hingga 300.000 unit per tahun. Perusahaan juga berencana mengembangkan model kendaraan yang ditujukan untuk pasar negara berkembang sebagai bagian dari strategi memperluas bisnis.
Tahap akhir mempunyai sasaran yang lebih besar. Hozon menargetkan diri menjadi produsen kendaraan listrik pintar berkelas global sekaligus mempersiapkan langkah menuju penawaran saham perdana atau IPO. Dalam fase tersebut, perusahaan menargetkan nilai output tahunan mencapai 40 miliar yuan atau sekitar Rp100 triliun.
Restrukturisasi Diharapkan Menjaga Layanan Purna Jual
Pemulihan Hozon tidak hanya berkaitan dengan keberlanjutan produksi dan penjualan kendaraan. Restrukturisasi tersebut juga diharapkan dapat memperbaiki rantai pasok perusahaan yang dibutuhkan agar kegiatan operasional dapat berjalan lebih stabil.
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah layanan purna jual bagi konsumen. Keberhasilan pemulihan perusahaan diharapkan dapat menjaga layanan bagi sekitar 400.000 pemilik kendaraan Neta yang berada di berbagai negara.
Dengan rancangan tersebut, pemulihan Hozon akan dimulai dari penyelesaian kewajiban keuangan, penguatan modal kerja, pemilihan aset produksi prioritas, hingga pengembangan kapasitas pada tahap berikutnya. Seluruh tahapan itu menjadi bagian dari upaya membawa Neta kembali menjalankan operasi secara bertahap sekaligus menyiapkan fondasi untuk pertumbuhan jangka panjang sesuai target restrukturisasi.
Dukung beri centang Headline.co.id di icon G (Gratis) atau Traktir KopiUntuk pengembangan Headline Media
Gambar tidak dapat dimuat.




















