Headline.co.id, Semarang ~ Nur Syahfatin, 13 tahun, menjadi peserta MTQ Nasional ke-31 Tahun 2026 di Semarang setelah menjalani rutinitas menyeberangi laut dua kali sepekan untuk belajar Al-Qur’an. Gadis asal Kecamatan Rangsang Barat, Pulau Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, itu tampil sebagai bagian dari kafilah Provinsi Riau pada cabang Seni Baca Al-Qur’an golongan Tilawah Anak-Anak. Ia tampil dalam babak penyisihan pada Kamis (17/9/2026), setelah selama ini belajar bersama guru di Kecamatan Selatpanjang, Pulau Tebingtinggi. Perjalanan sekitar 15 menit melintasi laut ditempuhnya untuk memperdalam kemampuan membaca Al-Qur’an.
Nur meninggalkan Pulau Rangsang setiap Jumat dan Minggu untuk bertemu gurunya di Pulau Tebingtinggi. Selain belajar bersama guru, ia juga meluangkan waktu untuk berlatih secara mandiri di rumah.
Rutinitas tersebut telah menjadi bagian dari keseharian Nur. Jarak dan perjalanan laut tidak menghentikannya untuk belajar. Sebaliknya, penyeberangan itu menjadi bagian dari ikhtiar yang dijalaninya untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Pengalaman Pertama di MTQ Nasional
Keuletan Nur membawanya ke panggung MTQ Nasional ke-31 di Semarang. Untuk pertama kalinya, ia mendapat kesempatan tampil dalam ajang MTQ tingkat nasional bersama peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Kesempatan tersebut membuat Nur merasakan kebanggaan sekaligus ketegangan. Ia membawa nama Provinsi Riau, tetapi juga harus tampil di hadapan peserta dan penonton dari berbagai daerah.
“Berdebar-debar, karena ini pengalaman yang membanggakan,” ujar Nur setelah tampil pada babak penyisihan, Kamis (17/9/2026).
Bagi Nur, keikutsertaan dalam MTQ Nasional tidak semata-mata berkaitan dengan target menjadi juara. Ia merasakan kebahagiaan ketika dapat membaca dan mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an.
Menurut Nur, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Membaca dan mempelajarinya juga membuatnya merasa lebih dekat dan mencintai Allah.
Mulai Belajar Sejak Usia Empat Tahun
Kecintaan Nur terhadap Al-Qur’an tumbuh sejak ia masih kecil. Ia mulai belajar membaca Al-Qur’an ketika berusia empat tahun. Sang ibu menjadi orang pertama yang mengenalkannya kepada bacaan Al-Qur’an.
Nur kemudian kerap mengikuti saudara-saudaranya mengaji. Kebiasaan tersebut menumbuhkan ketertarikannya untuk terus belajar hingga akhirnya ia mulai menekuni bacaan Al-Qur’an secara lebih serius.
“Awalnya saya suka mengaji, kemudian mulai serius belajar sejak kelas 2 SD,” kata Nur.
Sejak saat itu, Nur mengikuti berbagai perlombaan membaca Al-Qur’an. Ia pernah menjadi juara pertama dalam sejumlah perlombaan, mulai dari tingkat kampung hingga tingkat provinsi.
Dukungan keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan Nur. Ia ingin kemampuan membaca Al-Qur’an yang dimilikinya dapat membuat kedua orang tuanya bahagia.
Di tengah kesibukan sekolah dan latihan, Nur tetap berusaha menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Ia memandang setiap ayat memiliki pelajaran yang dapat dipetik dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu ayat yang paling disukainya adalah Surah Al-Baqarah ayat 60. Meski memiliki ayat favorit, Nur mengatakan masih banyak ayat lain yang juga disukainya karena setiap ayat memiliki pesan untuk dipelajari.
Ingin Menjadi Dokter yang Mengamalkan Al-Qur’an
Perjalanan Nur dari Pulau Rangsang menuju Pulau Tebingtinggi kini berlanjut hingga Semarang. Ia berdiri di panggung nasional sebagai peserta MTQ Nasional ke-31, membawa pengalaman belajar yang telah dijalaninya secara bertahap.
Nur tidak ingin berhenti pada pencapaian tersebut. Di balik kemampuannya membaca Al-Qur’an, ia menyimpan cita-cita untuk menjadi seorang dokter.
Ia ingin profesi yang kelak dijalaninya tetap sejalan dengan nilai-nilai yang dipelajari melalui Al-Qur’an.
“Saya ingin menjadi dokter yang juga memahami dan mengamalkan Al-Qur’an,” tuturnya.
Bagi Nur, belajar Al-Qur’an tidak terpisah dari cita-cita masa depannya. Ia ingin nilai-nilai yang dipelajarinya tetap menjadi bagian dari kehidupan.
Nur juga mengajak teman-teman seusianya untuk tidak berhenti belajar Al-Qur’an. Menurut dia, ketekunan menjadi salah satu kunci untuk terus berkembang. Belajar dari orang-orang yang telah berhasil diperlukan agar seseorang mengetahui hal-hal yang perlu diperbaiki.
Ia juga mengingatkan pentingnya tidak mudah menyerah. Pesan itu tercermin dari rutinitasnya menyeberangi laut dua kali dalam sepekan, belajar bersama guru, berlatih secara mandiri di rumah, serta mengikuti perlombaan dari tingkat kampung hingga provinsi.
Perjalanan sekitar 15 menit dari Pulau Rangsang menuju Pulau Tebingtinggi menjadi bagian dari proses panjang Nur dalam menjaga kecintaannya kepada Al-Qur’an. Dari rutinitas tersebut, langkahnya berlanjut hingga panggung MTQ Nasional di Semarang pada usia 13 tahun.


















