Headline.co.id, Semarang ~ Muslim Dermiwa Riko Putra, peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) ke-31 Tahun 2026 asal Sumatera Barat, membagikan cara menghafal Al-Qur’an agar lebih mudah dan terarah. Ia menyampaikan pengalamannya di sela pelaksanaan MTQN ke-31 di Semarang, Kamis (17/9/2026). Menurut Muslim, menghafal Al-Qur’an membutuhkan ketekunan, konsistensi, pengulangan, dan metode yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Ia menyelesaikan hafalan 30 juz pada usia 10 tahun setelah memulai proses tersebut sejak berusia lima tahun.
Muslim kini berusia 18 tahun dan duduk di kelas 3 SMA di Pondok Pesantren Ashabul Qur’an Situjuah Gadang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Pada MTQN ke-31 Tahun 2026, ia mengikuti cabang Hafalan Al-Qur’an 30 Juz.
Perjalanan Muslim menunjukkan bahwa menghafal Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan seberapa cepat seseorang menyelesaikan hafalan. Setelah hafalan bertambah, proses menjaga, mengulang, memperbaiki bacaan, dan mengamalkannya tetap perlu dilakukan.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Mulai dari Target yang Sesuai Kemampuan
Muslim mulai menghafal Al-Qur’an ketika mengikuti Taman Kanak-kanak (TK) Tahfiz. Saat berusia tujuh tahun, hafalannya telah mencapai 15 juz.
“Alhamdulillah, sejak kecil sudah mulai menghafal Al-Qur’an. Tepatnya dari umur 5 tahun. Alhamdulillah, saya sudah dimasukkan ke TK Tahfiz. Sampai umur 7 tahun, Alhamdulillah, tamat dari sana. Waktu itu hafalan saya sudah 15 juz,” ujar Muslim.
Setelah keluarganya pindah ke Makkah, ia melanjutkan hafalan bersama masyarakat setempat hingga berhasil menyelesaikan 30 juz pada usia 10 tahun.
Bagi orang yang baru mulai menghafal, target tidak harus langsung dalam jumlah besar. Bagian yang dipelajari dapat disesuaikan dengan kemampuan membaca, waktu yang tersedia, dan daya konsentrasi.
Target kecil yang dilakukan secara rutin dinilai lebih mudah dipertahankan daripada target besar yang tidak berkelanjutan. Karena itu, konsistensi menjadi bagian penting dalam membangun kebiasaan menghafal.
Baca Ayat dan Pecah Menjadi Bagian Kecil
Salah satu cara menghafal Al-Qur’an yang digunakan Muslim adalah membaca terlebih dahulu bagian yang akan dipelajari. Ia tidak langsung mencoba mengingat ayat, tetapi membaca keseluruhan bagian tersebut agar lebih mengenal rangkaian ayat.
“Kalau cara praktiknya, saya dulu sebelum menghafal membaca dulu. Saya baca dulu. Diusahakan membaca semuanya. Kalau memang satu halaman yang akan dihafal, dibaca satu halaman,” jelasnya.
Setelah membaca, bagian yang akan dihafalkan dapat dibagi menjadi potongan-potongan kecil. Untuk ayat pendek, Muslim membaca berulang kali sambil melihat Al-Qur’an. Setelah merasa cukup familiar, ia menutup Al-Qur’an dan mencoba melafalkannya kembali.
“Ketika sudah terasa, ketika membaca berulang-ulang ini sambil melihat Al-Qur’an sudah efektif, kita tutup Al-Qur’an. Setelah kita tutup Al-Qur’an, baru kita coba apakah lancar yang kita hafal tadi,” katanya.
Metode serupa dapat diterapkan pada ayat yang panjang. Jika satu ayat terdiri atas beberapa baris, proses menghafal dimulai dari baris pertama. Setelah lancar, baris tersebut diulang dan diuji kembali tanpa melihat Al-Qur’an sebelum beralih ke baris berikutnya.
“Kita hafal bagian pertama. Misalnya, satu baris kita mampu, kita hafal satu baris. Kemudian, kita lakukan seperti cara tadi. Kita baca berulang-ulang, kemudian kita tutup Al-Qur’an. Jika sudah lancar, kita lanjutkan ke baris yang kedua,” ujar Muslim.
Utamakan Pengulangan dan Murajaah
Menurut Muslim, menghafal ayat baru saja tidak cukup. Hafalan yang telah dikuasai harus kembali dibaca dan diulang agar tidak mudah terlupakan.
“Ini yang penting. Setelah itu selesai semuanya maupun setelah satu halaman itu selesai, yang penting diulang lagi. Karena banyak sekali yang ditemukan, dia menghafal, tapi jarang mengulang,” tuturnya.
Pengulangan hafalan dikenal sebagai murajaah. Bagi Muslim, murajaah bukan kegiatan yang hanya dilakukan menjelang perlombaan, melainkan kebiasaan yang harus terus dijaga.
“Kalau saya pribadi, Alhamdulillah, kalau saya menghafal sesuatu, langsung ulang biar tidak lupa. Memang harus diulang sampai selesai pun, sampai mati pun masih harus diulang,” katanya.
Karena itu, waktu belajar sebaiknya dibagi menambah hafalan baru dan mengulang hafalan sebelumnya. Ketika lupa, seseorang dapat kembali membuka Al-Qur’an, membaca bagian yang terlupa, lalu mengulanginya sampai lancar.
Gunakan Dukungan Keluarga dan Guru
Lingkungan belajar juga dapat membantu menjaga konsistensi. Muslim menyebut keluarganya memiliki tradisi menghafal Al-Qur’an. Ia kerap menghafal dan melakukan murajaah bersama ibunya.
“Alhamdulillah, keluarga saya semuanya penghafal Al-Qur’an. Jadi, saya biasanya menghafal bersama ibu saya. Kalau ayah saya sedang sibuk bekerja di luar, saya dibantu oleh ibu saya,” ujarnya.
Bagi pemula, dukungan dapat berasal dari orang tua, saudara, teman, guru mengaji, atau komunitas. Mereka dapat membantu menyimak bacaan dan mengingatkan jadwal murajaah.
Menyetorkan hafalan kepada guru atau orang yang memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an dengan baik juga dapat membantu menemukan kesalahan pelafalan dan bagian ayat yang belum lancar.
Selain itu, penggunaan mushaf yang sama selama proses menghafal dapat membantu membangun ingatan visual terhadap posisi ayat. Namun, ketepatan bacaan, kemampuan mengingat, dan pengulangan tetap menjadi bagian utama dalam proses tersebut.
Muslim menilai hafalan Al-Qur’an bukan sekadar jumlah juz yang berhasil diselesaikan. Ia berharap hafalannya menjadi bekal dalam menjalani kehidupan.
“Jika misalnya kita menghafal 30 juz, tentu kita akan diangkat oleh Allah SWT lebih tinggi lagi daripada yang menghafal, misalnya, satu surat atau dua surat. Ini tentu adalah sebuah keutamaan yang sangat masyaallah bagi kita,” ungkapnya.


















