Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam pengawasan lahan di Tepi Barat yang diduduki menjadi sorotan setelah teknologi tersebut disebut mampu mempercepat deteksi perubahan bentang lahan hingga proses menuju pembongkaran bangunan Palestina. Salah satu perangkat yang digunakan adalah ImiSight, produk yang dikembangkan produsen senjata Israel Rafael dan sebelumnya diterapkan di wilayah Naqab. Teknologi itu dilaporkan telah dibawa ke Tepi Barat, sementara Israel Land Authority membentuk unit penegakan khusus pada April 2025 untuk beroperasi di wilayah tersebut. Peneliti dan aktivis hak asasi menilai otomatisasi membuat area yang luas dapat dipindai, perubahan diidentifikasi, kemudian kasus tertentu diprioritaskan lebih cepat.
ImiSight sebelumnya digunakan Israel di Gurun Naqab untuk memantau wilayah tempat warga Badui Palestina berkewarganegaraan Israel tinggal. Banyak warga Badui hidup di desa-desa yang tidak diakui pemerintah Israel, sementara izin mendirikan bangunan disebut sulit diperoleh. Aktivis yang dikutip dalam bahan menilai kebijakan tersebut diskriminatif dan bertujuan mendorong komunitas Badui keluar untuk membuka ruang bagi permukiman Yahudi.
ImiSight Digunakan Memantau Perubahan Lahan
Sistem ImiSight digunakan untuk mengamati perubahan pada bentang lahan dalam wilayah yang luas. Dalam sejumlah kasus di Naqab, perubahan yang teridentifikasi dan dianggap sebagai bangunan tanpa izin kemudian diikuti dengan tindakan pembongkaran menggunakan buldoser.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Teknologi serupa kini disebut digunakan di Tepi Barat, tempat rumah-rumah warga Palestina telah lama menghadapi pembongkaran dengan alasan pelanggaran pembangunan. Kondisi itu terjadi di wilayah yang menurut bahan sumber sangat sulit bagi warga Palestina untuk memperoleh izin bangunan.
Israel Land Authority membentuk unit penegakan pada April 2025 dengan tujuan khusus beroperasi di Tepi Barat. Kelompok hak asasi Israel Peace Now menggambarkan pembentukan unit tersebut sebagai 'langkah aneksasi' dan menyebut lembaga itu menggunakan alat teknologi canggih berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi pelanggaran terhadap lahan.
Kepala Dokumentasi dan Publikasi Colonisation and Wall Resistance Commission Amir Daoud menilai pembentukan unit itu sebagai eskalasi yang telah diperhitungkan. Ia menyoroti perpindahan pola pengawasan dan penggusuran yang sebelumnya diterapkan terhadap warga Palestina di Naqab ke wilayah Palestina yang diduduki.
'Kita sedang berbicara tentang pemindahan model pengawasan dan penggusuran yang diuji terhadap warga Palestina di Naqab ke wilayah Palestina yang diduduki,' kata Daoud.
Daoud juga menilai keberadaan unit yang berafiliasi dengan Israel Land Authority di Tepi Barat berarti memasukkan perangkat pemerintahan sipil Israel secara langsung ke wilayah yang diduduki. Militer Israel dan ImiSight telah dimintai tanggapan mengenai persoalan tersebut, tetapi dalam bahan sumber disebut belum memberikan respons.
Satelit Memproses Citra dengan AI di Orbit
Selain ImiSight, perkembangan teknologi satelit turut mempercepat pemrosesan citra udara. Pakar media digital dan teknologi Palestina Khaled Safi menjelaskan satelit yang lebih baru dapat menggunakan chip komputer dan algoritma AI untuk mengolah gambar ketika masih berada di orbit, sehingga tidak seluruh proses bergantung pada analisis tradisional setelah data dikirim ke pusat data.
'Satelit itu mengambil gambar, menganalisisnya, mengidentifikasi perubahan dan objek penting, kemudian mengirimkan hasil atau hanya bagian pentingnya ke Bumi,' ujar Safi.
Pendekatan itu dikenal sebagai edge computing karena data diproses di lokasi tempat data dihasilkan. Media Israel pada Januari 2025 melaporkan ImiSight memungkinkan Israel Land Authority memantau lebih dari 10.700 kilometer persegi di Naqab dan dikaitkan dengan penggusuran paksa lebih dari 2.600 warga Badui Palestina berkewarganegaraan Israel.
Pembongkaran di Area C Disebut Meningkat
Peace Now dan Kerem Navot mendokumentasikan peningkatan 80 persen pembongkaran di Area C Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki ketika membandingkan periode 2010-2022 dengan 2023-2025. Kedua wilayah tersebut berada di bawah kendali militer dan administratif Israel.
Rata-rata 966 bangunan disebut dihancurkan setiap tahun sepanjang 2023 hingga 2025. Pada 2025, angka pembongkaran meningkat dengan 1.288 struktur Palestina dihancurkan pasukan Israel antara Januari dan September.
'Algoritma di sini adalah pengganda kekuatan: ia memindai wilayah yang luas, memprioritaskan sasaran, mengidentifikasi perubahan terbaru, dan memungkinkan transisi lebih cepat menuju peringatan dan pembongkaran,' ujar Daoud.
Daoud mengatakan keputusan mengenai pemindahan tetap dibuat pemerintah, sedangkan algoritma menurunkan biaya pelaksanaannya. Sistem AI itu juga disebut memperoleh informasi dari jaringan patroli darat pemukim Israel. Pada 2023, pemerintah Israel mengalokasikan 33 juta shekel atau sekitar 9 juta dolar AS untuk patroli pemukim serta 40 juta shekel atau sekitar 13,2 juta dolar AS guna melengkapi pos-pos dengan pesawat nirawak dan kamera.
Risiko Sistem Tanpa Pengawasan Manusia
Safi memperingatkan risiko etis dari pendekatan human-out-of-the-loop, yakni kondisi ketika sistem otomatis mengambil peran dalam menentukan tindakan terhadap kelompok rentan tanpa tinjauan manusia yang memadai. Menurut dia, otomatisasi juga dapat mempersulit penentuan tanggung jawab atas keputusan yang berdampak besar.
'Masalahnya adalah mengubah keputusan yang menentukan nasib menjadi persamaan probabilitas antara nol dan satu, serta antara angka, gambar, dan data,' kata Safi.
Penggunaan AI Berjalan Bersamaan dengan Ekspansi Permukiman
Pemanfaatan teknologi tersebut berlangsung bersamaan dengan ekspansi permukiman. Dalam periode 2023 hingga 2025, pemerintah Israel disebut memajukan rencana lebih dari 40.000 unit perumahan pemukim dan membentuk 185 pos baru yang dalam bahan sumber disebut ilegal menurut hukum internasional. Pada periode yang sama, 118 komunitas penggembala Palestina di Tepi Barat mengalami pengusiran.
Data OCHA dan Peace Now yang dikutip dalam bahan menyebut sekitar 750.000 pemukim Israel tinggal di wilayah pendudukan. Pada 2025, kekerasan pemukim terhadap warga Palestina juga disebut mencapai rekor 1.836 serangan.
Perkembangan itu bertepatan dengan peluncuran registrasi tanah daring di Area C. Otoritas Palestina, termasuk Colonisation and Wall Resistance Commission, mengecam inisiatif tersebut dan menggambarkannya sebagai mekanisme digital yang dirancang untuk menyelesaikan aneksasi administratif.
'Bangunan Palestina ditemukan lebih awal dan didorong ke jalur pembongkaran cepat, sementara pos kolonial didanai, dihubungkan dengan layanan, lalu diupayakan untuk dilegalkan secara retroaktif,' kata Daoud.
Safi juga menyoroti dimensi komersial dari penggunaan teknologi tersebut. Menurut dia, wilayah Palestina menjadi ruang tempat sistem pengawasan dan algoritma diterapkan di lapangan, dikembangkan dengan teknologi tingkat tinggi, kemudian dapat dipersiapkan untuk dipasarkan kepada perusahaan komersial secara global.


















