Headline.co.id, Pekanbaru ~ Pemerintah Provinsi Riau mendorong penguatan hilirisasi sawit dan kelapa untuk meningkatkan nilai tambah sektor perkebunan di daerah tersebut. Pelaksana Tugas Gubernur Riau SF Hariyanto menyampaikan hal itu dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) di Pekanbaru, Rabu (16/9/2026). Menurutnya, perkebunan menjadi salah satu kekuatan ekonomi Riau karena menopang penghidupan masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi lahan, peremajaan tanaman, pembenahan tata air, penyediaan benih, dan penguatan industri pengolahan.
SF Hariyanto mengatakan hilirisasi sawit dan kelapa Riau masih perlu diperkuat karena sektor perkebunan menghadapi sejumlah persoalan. Tantangan itu meliputi tanaman kelapa yang menua dan rusak, persoalan tata air di kawasan pesisir, abrasi, intrusi air laut, hingga akses pasar.
“Kalau kita melihat Riau dari kekuatan dasarnya, salah satu yang terbesar adalah perkebunan,” kata SF Hariyanto.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Sawit Jadi Penopang Ekonomi Riau
Menurut SF Hariyanto, Riau memiliki sekitar 3,88 juta hektare perkebunan kelapa sawit dengan produksi sekitar 9,4 juta ton minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) per tahun.
Luas perkebunan tersebut setara sekitar 21 persen dari areal perkebunan sawit nasional. Sementara itu, produksinya berkontribusi sekitar 20 persen terhadap produksi nasional.
Dari keseluruhan perkebunan sawit di Riau, sekitar 61 persen merupakan perkebunan rakyat. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya keterkaitan komoditas sawit dengan kehidupan masyarakat.
“Artinya, sawit bukan hanya komoditas utama, tetapi menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain sawit, Riau memiliki sekitar 441 ribu hektare perkebunan kelapa. Produksinya mencapai lebih dari 406 ribu ton kopra atau setara sekitar 2,2 miliar butir kelapa per tahun.
SF Hariyanto juga menyebut Riau memiliki potensi sagu yang besar. Namun, potensi tersebut perlu diikuti penyelesaian berbagai persoalan yang berlangsung di tingkat produksi agar dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar.
Tanaman Kelapa Tua dan Rusak
Salah satu persoalan utama berada pada komoditas kelapa. SF Hariyanto menyebut sekitar 80 ribu hektare atau 18,3 persen tanaman kelapa di Riau berada dalam kondisi tua dan rusak.
“Di sinilah persoalan kita mulai terlihat. Pada komoditas kelapa, misalnya, sekitar 80 ribu hektare atau 18,3 persen tanaman kita sudah berada dalam kondisi tua dan rusak,” katanya.
Kondisi tersebut turut berkaitan dengan penurunan produksi kelapa Riau. Produksi yang pernah mencapai sekitar 2,9 miliar butir pada 2010 turun menjadi sekitar 2,1 miliar butir pada 2020.
Menurut SF Hariyanto, persoalan komoditas kelapa tidak hanya dapat diselesaikan melalui peremajaan tanaman. Kondisi kawasan produksi, terutama di wilayah pesisir, juga perlu mendapat perhatian.
“Persoalannya bukan hanya peremajaan. Di kawasan pesisir kita menghadapi persoalan tata air, abrasi dan intrusi air laut. Di sisi lain, akses pasar dan hilirisasi produk kelapa kita juga masih perlu diperkuat,” ujarnya.
Dengan demikian, penguatan hilirisasi sawit dan kelapa Riau diarahkan bersamaan dengan pembenahan produksi dan kawasan perkebunan. Pemerintah Provinsi Riau menilai pengolahan hasil perkebunan diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.
Produksi Pangan Riau Terus Ditingkatkan
Dalam pemaparannya, SF Hariyanto juga menyoroti kondisi produksi pangan pokok di Riau. Ia menyebut produksi beras Riau pada 2025 mencapai sekitar 133 ribu ton atau baru memenuhi sekitar 23 persen kebutuhan konsumsi beras daerah.
Sementara itu, pada periode Januari hingga Agustus 2026, luas panen padi mencapai sekitar 45 ribu hektare. Produksinya tercatat lebih dari 175 ribu ton gabah kering giling (GKG).
“Alhamdulillah, produksi pangan terus kita tingkatkan. Pada Januari sampai Agustus 2026, luas panen padi telah mencapai sekitar 45 ribu hektare, dengan produksi lebih dari 175 ribu ton gabah kering giling, tumbuh sekitar 6,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” kata SF Hariyanto.
Ia mengatakan Pemerintah Provinsi Riau terus mendorong peningkatan produksi dan nilai tambah sektor perkebunan serta pangan. Langkah yang ditempuh mencakup optimalisasi lahan, peremajaan kelapa yang disertai pembenahan tata air, penyediaan benih, dan penguatan industri pengolahan.

















