Highlight Berita:
Headline.co.id, Jakarta ~ Desa Wisata Tinalah atau Dewi Tinalah di Purwoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, mengembangkan pariwisata dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian utama dalam pengelolaan destinasi. Warga terlibat dalam pengelolaan homestay, pemanduan, kegiatan outbound, produk UMKM, kuliner, kerajinan, hingga pemasaran digital. Pola tersebut berjalan bersama upaya menjaga alam Pegunungan Menoreh dan budaya lokal sehingga pariwisata tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan kunjungan, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan masyarakat.
Desa Wisata Tinalah berada di kawasan yang memiliki Sungai Tinalah, perbukitan Menoreh, Puncak Kleco, Goa Sriti, serta Situs Rumah Sandi Negara. Potensi tersebut dikembangkan bersama kesenian, tradisi, kegiatan edukasi, kuliner, dan produk kreatif warga.
Pendekatan tersebut membuat Tinalah berkembang sebagai salah satu tempat studi banding desa wisata di Yogyakarta. Kelompok yang datang tidak hanya dapat mengikuti kegiatan wisata, tetapi juga mempelajari Pokdarwis, tata kelola desa wisata, pemberdayaan masyarakat, hingga praktik pemasaran digital.
Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Headline.co.id tidak terkait dengan materi konten ini.
Masyarakat Menjadi Aktor Utama Pengelolaan Wisata
Keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam pengembangan Desa Wisata Tinalah. Warga dilibatkan melalui musyawarah dan kegiatan pengelolaan yang berkaitan langsung dengan destinasi. Model ini mendorong masyarakat memiliki peran dalam menentukan serta menjalankan aktivitas wisata di lingkungannya.
Dalam praktiknya, masyarakat dapat berperan sebagai pemandu lokal, pemandu trekking, fasilitator outbound, pengelola homestay, instruktur kegiatan seni, serta pelaku usaha yang menyediakan produk kuliner dan kerajinan.
Pelatihan keterampilan juga menjadi bagian dari proses pemberdayaan. Bahan yang tersedia menyebut pelatihan pembuatan kerajinan, kepemanduan, pengelolaan homestay, digital marketing, serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam mendukung kegiatan pariwisata.
Keterlibatan tersebut membuat masyarakat tidak sekadar berada di sekitar destinasi. Warga menjadi bagian dari rantai layanan yang diterima wisatawan sejak menginap, mengikuti aktivitas, menggunakan jasa pemandu, hingga membeli produk desa.
Pariwisata Menggerakkan Homestay, UMKM, dan Keterampilan Lokal
Homestay merupakan salah satu bentuk keterlibatan langsung masyarakat dalam kegiatan wisata. Pengunjung dapat tinggal di akomodasi yang dikelola warga melalui program live in. Pola ini memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk mengenal kehidupan desa dan membuka ruang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Aktivitas wisata juga berkaitan dengan berbagai produk UMKM. Tinalah memiliki produk seperti wingko Tinalah, kripik pegagan, geblek, klanting, aneka keripik, dan wedang rempah. Produk tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus oleh-oleh bagi pengunjung.
Di bidang kerajinan dan edukasi, wisatawan dapat belajar membuat topi dari daun kelapa dan piring dari lidi, mengikuti workshop membatik, mencoba jemparingan, rock painting, serta mempelajari gamelan. Kegiatan tersebut menunjukkan bagaimana keterampilan lokal dapat dikemas menjadi atraksi wisata tanpa melepaskan unsur pembelajaran.
Desa ini juga menyediakan berbagai pilihan aktivitas kelompok seperti outbound, camping, makrab, gathering, trekking, river tubing, dan susur Sungai Tinalah. Kegiatan tersebut menciptakan kebutuhan terhadap fasilitator, pemandu, konsumsi, akomodasi, dan layanan pendukung lainnya yang dapat melibatkan masyarakat.
Digitalisasi Memperluas Pengelolaan dan Pemasaran
Selain mengandalkan potensi alam dan budaya, Desa Wisata Tinalah mengintegrasikan teknologi digital dalam pengelolaan dan pemasaran. Desa memiliki website yang digunakan sebagai platform informasi dan reservasi paket wisata.
Dalam bahan yang tersedia, Tinalah juga disebut memanfaatkan pembayaran digital seperti QRIS, transfer bank, dan dompet elektronik. Sistem tersebut mendukung transaksi wisata sekaligus memperluas penggunaan layanan keuangan digital dalam kegiatan ekonomi desa.
Pelatihan literasi digital dan pemasaran digital diberikan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan media sosial, pengelolaan informasi, dan promosi daring. Penggunaan kanal digital membantu produk serta layanan wisata menjangkau pasar yang lebih luas.
Tinalah juga menawarkan paket pelatihan digital marketing desa wisata. Program tersebut menjadikan pengalaman pengelolaan Tinalah tidak hanya digunakan untuk kepentingan internal, tetapi juga sebagai materi pembelajaran bagi kelompok lain yang ingin memahami pemasaran desa wisata.
Alam dan Budaya Dipertahankan sebagai Identitas
Pengembangan ekonomi melalui pariwisata berjalan berdampingan dengan pelestarian identitas lokal. Desa Wisata Tinalah mengusung slogan “Pesona Alam dan Budaya”, yang menggambarkan dua unsur utama dalam pengembangan destinasi.
Kawasan Pegunungan Menoreh dan Sungai Tinalah menjadi basis aktivitas wisata alam. Wisatawan dapat mengikuti trekking, susur sungai, river tubing, camping, hingga menjelajahi Puncak Kleco.
Sementara itu, unsur budaya dijaga melalui kesenian jatilan, wayang wong, serta tradisi Merti Bumi Tinalah. Kirab Merti Bumi Tinalah diselenggarakan pada bulan Agustus dan melibatkan warga desa sebagai bagian dari pelestarian tradisi.
Nama Dewi Tinalah sendiri telah digunakan sebagai merek Desa Wisata Tinalah sejak 2013. Dalam bahan yang tersedia, Tinalah dikaitkan dengan kata dasar dalam bahasa Jawa yang dimaknai sebagai semangat bergegas untuk bekerja dan berkarya. Identitas tersebut kemudian digunakan untuk menggambarkan semangat masyarakat Purwoharjo dalam mengembangkan potensi desa.
Rangkaian Penghargaan Desa Wisata Tinalah
Perkembangan Tinalah mendapatkan sejumlah pengakuan di tingkat nasional maupun internasional. Pada 2021, Desa Wisata Tinalah masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia dan disebut memperoleh pengakuan sebagai desa wisata kategori digital dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Pada 2022, Dewi Tinalah disebut meraih penghargaan Digital, SDGs, dan Youth Creative Tourism Destination Award. Selanjutnya pada 2023, Tinalah memperoleh Silver Champion Tourism Entrepreneurial Marketing Award untuk kategori Local Community Empowerment dan Event.
Pada tahun yang sama, Tinalah meraih Juara 3 Lomba Desa Wisata Berkelanjutan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemudian pada 9 Agustus 2024, Tinalah memperoleh Silver Award Responsible Tourism Awards Southeast Asia dalam kategori Employing and Upskilling Local Communities.
Kategori penghargaan tersebut berkaitan erat dengan pola pengembangan yang dijalankan Tinalah, khususnya pemberdayaan masyarakat, peningkatan keterampilan, pemasaran, dan keberlanjutan destinasi.
Mengapa Tinalah Menjadi Lokasi Studi Banding Desa Wisata
Desa Wisata Tinalah tidak hanya menawarkan paket rekreasi, tetapi juga paket studi banding desa wisata. Program ini ditujukan bagi kelompok yang ingin mempelajari proses pengembangan desa wisata, mulai dari identifikasi potensi, pengelolaan, promosi, hingga pemasaran digital.
Pengunjung yang mengikuti kegiatan pembelajaran dapat mempelajari Pokdarwis, tata kelola desa wisata berkelanjutan, sinergi masyarakat, serta praktik pemasaran pariwisata berbasis digital yang telah diterapkan Tinalah.
Model tersebut diperkuat dengan dukungan fasilitas dan pengembangan infrastruktur. Pada 2025, Desa Wisata Tinalah menerima bantuan dari Badan Otorita Borobudur untuk pembangunan enam toilet bersih sebagai bagian dari Gerakan Wisata Bersih. Pengembangan homestay dan sanitasi juga menjadi perhatian dalam kunjungan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa Dewi.
Dengan keterlibatan masyarakat, pengembangan UMKM, pelestarian tradisi, pemanfaatan teknologi digital, serta peningkatan infrastruktur, Desa Wisata Tinalah memperlihatkan bagaimana potensi desa dapat dikembangkan menjadi kegiatan pariwisata yang menghubungkan pengalaman wisatawan dengan manfaat bagi masyarakat lokal. Hal tersebut pula yang membuat Tinalah memiliki fungsi ganda sebagai destinasi wisata sekaligus tempat pembelajaran pengelolaan desa wisata.



















